Zakat Fitrah : Dari Universalitas untuk Marginalitas

Setiap mendekati Bulan Syawal atau akhir Bulan Ramadan banyak aktifitas lahiriyah mencapai level kulminasi. Aktifitas ini menjadi tontonan kaum muslimin di masa pandemic covid-19 yang tidak kunjung henti menghantui aktifitas publik.

Sebagian mereka meluangkan waktu mengambil kebutuhan pokok sandang-pangan hingga berjubel di depan pintu pusat perbelanjaan, swalayan serta mini market sekitar. Kerumunan menjadi bagian yang tidak bisa dihindari saat saling berdesakan antar pengunjung di semua sudut perbelanjaan.

Kejadian ini bisa kita amati saat hari menjelang lebaran idul fitri umat islam dan hari besar islam lainnya. Publik telah mempersiapkan logistik mengupayakan kegiatan berzakat fitrah.

Semarak euforia umat islam menjelang lebaran atau akhir Bulan Ramadan adalah kegiatan zakat fitrah. Ini merupakan salah satu kewajiban untuk setiap muslim yang telah baligh atau belum, baik mereka jenis kelamin laki-laki atau perempuan.

Zakat fitrah menerobos ruang sosial masyarakat baik kaum kaya dan kaum miskin. Semua dimensi sosial kemasyarakatan wajib melakukan zakat sebagai tuntutan agama Islam tentu ada beberapa pengecualian.

Zakat Fitrah

Merupakan zakat wajib yang harus dikeluarkan sekali setahun yaitu saat bulan ramadhan menjelang idul fitri. Berbeda dengan zakat lainnya, jika hal ini harus dilakukan sebelum sholat idul fitri dilangsungkan. Agar bisa dibedakan antara zakat fitrah dan zakat lainnnya.

Dalam Kitab Fathul Qarib menyebutkan ada tiga kelompok yang wajib membayar zakat fitrah yang telah disampaikan Muhammad bin Qasim Al-Ghazi adalah pertama, orang islam dan tidak ada kewajiban zakat bagi orang kafir, kecuali budak dan kerabat muslim dari orang kafir tersebut.

Kedua, seseorang yang masih diberikan nyawa (kehidupan) hingga matahari terbenan di akhir Bulan Ramadan. Misalnya ada orang meninggal setelah terbenam matahari maka hukumnya wajib berzakat. Berbeda seorang bayi lahir setelah terbenam matahari, tidak dikenakan wajib zakat.

Ketiga, orang yang memiliki harta benda berlebih sehingga mempunyai kemudahan dan kesanggupan, atau memiliki makanan pokok yang melebihi dari kebutuhannya dan keluarganya pada hari tersebut. Adalah malam hari raya idul fitri atau lebaran.

Dari penjelasan diatas, disimpulkan orang wajib zakat adalah beragama islam, hidup ketika matahari terbenam serta memiliki makanan pokok pada saat hari raya idul fitri. Urgensi zakat fitrah sebagai momen mensucikan diri (ruhaniyah) selama berpuasa dan saling berbagi kepada orang miskin.

Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa yang menunaikan zakat fitri sebelum shalat Id maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikan nya setelah shalat Id maka hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah”. (HR. Abu Daud).

Besaran zakat fitrah yang harus dikeluarkan sebesar satu sha’, jika dikonversi dengan beras sebesar 2,5 kg beras, gandum, kurma, sagu dan makanan pokok lainnya. Ketentuan ini disandarkan pada hadits sahih riwayat Imam Bukhori, Muslin dan Nasa’i.

Dari Universalitas Untuk Marginalitas

Semangat zakat merupakan momen kemenangan umat Islam menyambut hari raya Idul Fitri. Melalui berbagi kasih kepada orang miskin mengandung nilai-nilai kemanusiaan dan saling menjalin komunikasi historial antara pemberi (muzakki) dan penerima (mustahiq).

Kedekatan mereka nampak elastis tanpa beban kecemburuan. Meskipun jika dilihat perspektif ekonomi, bahwa penerima (mustahiq) zakat fitrah mencerminkan suatu kaum marginal. Adalah mereka bagian orang-orang terpinggirkan.

Sedangkan pemberi (muzakki) melekat predikat golongan atau kelompok orang mampu (ekonomi, kesehatan, sosial-budaya) dibanding penerima. Saat peristiwa ini sedang berlangsung menumbuhkan rasa solidaritas (kolektif) dibangun atas basis segolongan, serasa, senasib dan sekewajiban manusia umat islam taat.

Kelompok pemberi (muzakki) dalam konteks zakat fitrah terdiri dari tiga golongan diatas mempunyai fenomena kompleks. Mereka membangun legitimasi bersama bahwa strata agama islam, hidup saat sebelum matahari tenggelam dan mempunyai kelebihan harta benda. Kekuatan ini memicu menggerakkan etos penghubung batin atas nasib kelompok marginal/penerima (mustahiq).

Kelompok marginal konteks zakat fitrah adalah penerima (mustahiq). Terdiri dari 8 golongan sebagai berikut adalah pertama, fakir yaitu orang yang tidak memiliki harta/rumah. Kedua, Miskin adalah orang yang penghasilannya tidak mencukupi hidup. Ketiga, Amil Zakat adalah orang yang bertugas mengelola zakat. Keempat, Muallaf adalah orang yang baru masuk islam. Kelima, Riqab adalah budak/hamba sahaya. Keenam, Gharim adalah orang yang banyak hutang. Ketujuh, Fisabilillah adalah orang berjuang dijalan Allah dan Kedelapan, Ibnu Sabil adalah musafir/perantau pelajar.

Ada hal penting dikaitkan situasi pandemic covid 19 ini adalah tenaga medis. Mereka menjadi bagian penting penerima zakat fitrah sebagai fisabilillah atau pejuang dijalan Allah. Tugas menyelamatkan nyawa orang lain sebagai tindakan mulia serta menjaga kondisi kesehatan masyarakat tetap sehat serta tindakan represif penyebaran virus corona. Sesuai Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 23 Tahun 2020 tentang Pemanfaatan Zakat, Infak, Shodaqoh untuk penanggulangan covid 19 dan dampaknya.

Pejuang unversalitas Islam Imam Hasan Al-Banna adalah “Islam adalah sistem yang universal yang mencakup seluruh aspek kehidupan, maka Islam adalah Negara dan tanah air, Pemerintahan dan Rakyat, budi pekerti dan kekuatan, rahmat dan keadilan, hukum dan Intelektualitas, ilmu pengetahuan dan undang-undang, asset dan materi, usaha dan kekayaan, jihad dan dakwah, pemikiran dan militer.

Berangkat dari universalitas bahwa zakat fitrah menjadi tolok ukur peradaban umat Islam. Momen ini seharusnya menjadi bagian dunia filantropi berfungsi menekan angka orang/kelompok tergolong penerima (mustahiq) atau kelompok marginal. Jumlah akan semakin menurun maka semakin banyak orang tertindas keluar dari kesengsaraan. Dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda  “Setiap orang Fakir (kemiskinan) dekat dengan kekafiran/murtad”.

Ada banyak orang miskin yang karena ketidakberdayaan secara ekonomi tidak pernah mengenal Tuhan. Mereka tidak pernah menjalankan syariat islam seperti sholat, puasa bahkan menunaikan zakat fitrah. Kecenderungan banyak orang miskin terpaksa berpindah agama lain karena bantuan ekonomi yang mampu mensejahterakan hidupnya.

Laiknya kelompok pemberi (muzakki) perlu menggalang solidaritas menangani segala hal masalah, pemenuhan kebutuhan dan menciptakan keberfungsian sosial kelompok marginal/mustahiq. Rosulullah bersabda “Sesungguhnya tidak hanya dimaksudkan mengingatkan mereka orang miskin materi tetapi mereka yang miskin secara spiritual. Keduanya bisa mudah mengkufuri nikmat dan ingkar dari perintah agama. Pemberi (muzakki) memiliki multi dimensi selain menyampaikan zakat, namun lebih dalam mengajak (dakwah bil hal) manusia agar selalu amar ma’ruf nahi munkar.

Waallahu a’lam bisshowab …

Ahmad Kharis

Alumni S2 Universitas Gajah Mada, Dosen Muda IAIN Salatiga

Satu tanggapan untuk “Zakat Fitrah : Dari Universalitas untuk Marginalitas

  • Mei 24, 2020 pada 2:25 am
    Permalink

    Wah menarik sekali tulisan saudara Ahmad Kharis di atas mengenai praktik zakat fitrah sebagai filantropi sosial dan sekaligus peranannya terhadap pengentasan kemiskininan dan kesenjangan. Zakat tidak semata-mata tindakan menunaikan kewajiban sebagai umat muslim melalui kebaikan dengan memberikan sebagian harta kepada golongan miskin, tetapi juga sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik secara material maupun spiritual. Menghilangkan kesenjangan antara kaya dan miskin, untuk mencapai kehidupan sosial yang berkeadilan. Terimakasih ilmunya semakin tercerahkan☺️👍🏼

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: