Ushul Fikih, Wanita Dan Batasan Aurat; Sebuah Diskusi Singkat

Dalam studi ilmu syariah itu, ilmu ushul fikih dikatagorikan sebagai ilmu  yang berfungsi layaknya sebuah metodologi dalam rangka memahami teks-teks wahyu (al Qur’an dan Sunnah) dan begitu juga dengan  tata cara interaksi yang benar terhadap wahyu itu sendiri. Pada titik ini, ilmu usul fikih memiliki urgensitas untuk membantu kita mengkaji batasan menutup aurat.

Dalam artikel sederhana ini akan dijelaskan secara singkat apa, mengapa dan bagaimana peran ilmu ushul fikih dan sejauh mana pentingnya ilmu usul fikih ini untuk dipelajari layaknya sebuah metodologi dalam memahami al Qur’an dan Sunnah dalam kaitannya dengan hukum-hukum praktis disertai dengan dalil-dalil yang terperinci (tafshili).

Perbedaan pendapat mengenai aurat perempuan, apakah seluruh anggota badan kecuali muka dan telapak tangan, ataukah menutup aurat dengan menggunakan hijab sampai menutupi dada hingga saat ini masih diperdebatkan oleh kalangan masyarakat muslim.

Menurut Imam As-Syaukani dalam Fath al-Qadir, yang juga pengarang kitab Irsyad al-Fuhul, menyatakan bahwa batasan menutup aurat dengan menggunakan hijab seluruh tubuh adalah tidak termasuk kepala. Kerena kepala, baginya, tidak termasuk pada bagian yang disebut tubuh. Akan tetapi yang disebut tubuh adalah anggota badan yang dimulai dari bawah kepala sampai ujung kaki. Dari sini saja, kita tahu bahwa problem menutup aurat bagi wanita akan tetap menarik untuk diperbincangkan bahkan hingga sekarang ini. Selain dari pada itu,  bahwa menutup seluruh bagian kepala merupakan masalah khilafiyah di mana hal ini bergantung pada pelakunya dalam menginterpretasikan apa yang disebut dengan tubuh wanita sesuai dengan situasi dan kondisi pengalaman keagamaannya.

Jika memang dikatakan bahwa maqashid disyariatkannya menutup aurat agar tidak menimbulkan syahwat pada lawa jenis, maka meskipun seorang wanita tidak menutup kepalanya menggunakan cadar, dan praktik berjilbab ala kadarnya ini sudah menjadi tradisi di tengah masyarakat, maka tentu tidak menjadi persoalan selagi hal tersebut membuat kita nyaman dan tetap memperhatikan nilai-nilai budaya lokal.

Perintah menutup aurat merupakan salah satu cara agama Islam untuk menjaga kehormatan wanita agar untuk menghindari hal-hal negatif, seperti pelecehan dan intimidasi seksual misalnya.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Sayidah Aisyah ra berkata “sungguh Allah merahmati para wanita Muhajirin pertama, ketika itu Allah menurunkan sebuah ayat: “ Dan hendaklah mereka menutupkan jilbab (khumurnya) ke dada….”.

Sekalipun konteks ayat di atas di atas ditujukan untuk istri-istri Rasulullah, namun orientasi ayat tersebut mencakup seluruh wanita muslimah. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam kaidah usul fikih : العبرة بعوم اللفظ لا بخصوص السبب  . Artinya, yang dijadikan pedoman hukum adalah keumuman lafadz (perintah menutup aurat sampai dada) dan bukan kekhususan sebab munculnya dalil tersebut (istri-istri Rasulullah).

Penulis
Ivena Fauziah
Mahasiswa Jurusan Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: