Ushul Fikih dan Upaya Pencegahan Covid-19; Fath Dzari’at dalam Praktik Social Distancing

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya pada penghujung tahun 2019, jagat raya dikejutkan dengan penyebaran virus corona (Coronavirus Disease: Covid-2019) yang pertama kali muncul di Wuhan, China. Melansir dari kompas.com, virus corona jenis baru SARS-CoV-2 (Severe Acute Respitory Syndrome Coronavirus 2)  telah menginfeksi lebih dari 200.000 orang di 152 negara dalam kurun waktu tiga bulan. Sehingga pada 11 Maret lalu, secara resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah virus corona sebagai pandemi[1]. Dengan penyebaran yang cukup pesat, dalam upaya pencegahannya tidak sedikit negara yang menerapkan sistem lockdown[2] di negaranya masing-masing.

Berbeda halnya dengan negara kita Indonesia, juru bicara Pemerintah RI untuk COVID-19 menyebutkan,”Di dalam penyakit menular yang kemudian masif, lockdown itu merupakan salah satu alternatif dan ini alternatif yang paling ekstrem. Oleh karena itu, kita tidak akan menuju kesana karena harus ada alternatif-alternatif yang lebih rasional yang harus kita kerjakan”  Hal inilah yang menjadi pijakan dasar Presiden Ir. Joko Widodo tidak menerapkan lockdown. Mengingat pula, apabila lockdown tetap dilaksanakan, bukan hanya penyebaran virus yang ditutup, namun pemasokan bahan makanan, bisnis dan sebagainya juga akan tertutup. Menurutnya, untuk saat ini, upaya pencegahan virus corona dapat dilakukan dengan Social Distancing. Apa itu Social Distancing? Menurut Katie Pearce dari John Hopkins, Social Distancing adalah sebuah praktek dalam kesehatan masyarakat untuk mencegah orang sakit melakukan kontak dengan orang sehat guna mengurangi peluang penularan penyakit. Tindakan ini bisa dilakukan dengan mengurangi kegiatan di ruang publik.

Pengambilan kebijakan Social Distancing menjadi lebih menarik apabila kita kaitkan dengan salah satu teori dalam ushul fikih, yakni  Fath Dzari’at. Terma Fath Dzari’at merupakan sebuah frasa, yang mana dalam Bahasa Arab biasa disebut dengan idhofah. Fath Dzariat adalah segenap upaya sebagai jalan media atau jalan pembuka guna untuk dapat muwujudkan kemaslahatan yang ideal.

Mengkaji tindakan Social Distancing menggunakan kacamata Fath Dzari’at  dapat kita lakukan dari beberapa sudut pandang:

 Pertama, orientasi Fath Dzari’at harus dapat diperhitungkan sebagai kemaslahatan. Gerakan Social Distancing sendri merupakan sebuah upaya pencegahan penyebaran virus. Artinya, jika Social Distancing disadari bersama sebagai langkah solutif pada saat pandemic seperti saat ini, maka ia akan dapat menghadirkan beragam kemashlahatan bagi pihak-pihak yang mengimplementasikannya.

Kedua, kadar kemaslahatanyang akan diperoleh melalui konsep Fath Dzari’at dalam perilaku Social Distancing tentu lebih besar dari pada memaksakan diri untuk tetap mengadakan perkumpulan. Gerakan Sosial Distancing mungkin berat untuk dilakukan sebagian kalangan, apalagi mereka yang memiliki sumber mata pencaharian yang melibatkan publik, transaksi jual-beli di pasar-pasa tradisional, misalnya. Namun, terlepas dari hal itu, kita memiliki tanggung jawab yang sama terhadap ratusan bahkan ribuan nyawa. Sehingga, dengan kesadaran bersama, kita dapat melihat bahwa instruksi untuk melakukan tindakan Social Distancing merupakan sebuah upaya positif untuk mencegah laju sebaran Covid-19.

Ketiga, adanya praduga yang hampir dapat dipastikan kebenarannya secara bersama (dzan gholib) terhadap laju sebaran Covid-19 jika kita tidak melihat kesadaran  Fath Dzariat dalam praktik Social Distancing ini. Ribuan nyawa sudah hilang akibat Covid-19 ini. Mengutip perkataan Imam B. Prasodjo (Dosen Sosiolog UI) “Dalam kondisi saat ini, masyarakat seharusnya menyadari penularan virus akan meningkat apabila masig-masing orang tidak mengindahkan Sosial Distancing”.

Keempat, Fath Dzari’at sebagai wasilah untuk mewujudkan kemaslahatan bersama. Sebab belum ada vaksin yang dapat digunakan untuk menyembuhkan pihak-pihak yang terjangkit, maka Social Distancing merupakan jalan alternatif yang dapat kita ambil. Dalam menanggulangi penyebaran Covid-19, sebenarnya pemerintah memiliki beberapa opsi, salah satunya lockdown. Namun pemberlakuan lockdown tentu memiliki imbas yang tidak sederhana terhadap aspek-aspek kehidupan bernegara lainnya. Dengan demikian, melihat dari dampak lockdown tersebut, warga negara Indonesia dapat secara bijak menerapkan Social Distancing.

Berdasarkan kajian sederhana terhadap Social Distancing melalui potret Fath Dzari’at, sebagai manusia yang memiliki naluri, juga sebaga warga negara yang mencintai Ibu Pertiwi, kita semua hendaknya mengindahkan instruksi praktik Social Distancing ini. Pada titik ini, segenap upaya untuk menghadirkan ragam kemaslahatan, termasuk dengan praktik Social Distancing pada saat ini, merupakan sebentuk realisasi ajaran inti agama tentang pentingnya menjaga nyawa (hifdz an-nafs).


[1] Pandemi adalah penyebaran penyakit dengan jumlah banyak yang  menyerang secara cepat dalam skala internasional

[2] Situasi dimana orang tidak diizinkan masuk atau meninggalkan gedung atau area karena sebuah keadaan darurat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: