Menu Tutup

Urgensitas Pemahaman Hadis Menggunakan Ilmu-Ilmu Sosial

Penulis : Laula Wardah

Hadis merupakan salah satu peninggalan rekam jejak Nabi Muhammad Saw yang berupa perkataan, perbuatan dan ketetapannya. Nabi mengeluarkan hadis kepada sahabat mengenai beberapa permasalahan dalam Al Qur’an yang tidak bisa dipahami oleh beberapa sahabat. Oleh karena itu, hadis juga disebut sebagai penjelas Al Qur’an.  Dan oleh karenanya, hadis juga dijadikan sebagai hukum kedua setelah Al Qur’an.

Perkembangan hadis dari masa sahabat hingga saat ini sangat berkembang pesat. Yang pada awalnya hadis hanya diketahui oleh beberapa orang saja sehingga sulit untuk mengetahui hukum sebuah permasalahan yang tidak ada di dalam Al Qur’an. Namun, kin hadis sudah dibukukan sehingga akan lebih mudah mengetahui sebuah hukum yang kita cari. Seiring perkembangan zaman, agar hadis tidak hanya menjadi arkeolog pasif dan berhenti pada kritik matan dan sanadnya saja, penulis menganggap perlu adanya upaya pembongkaran makna dibalik suatu hadis yang dikolaborasikan dengan pendekatan sosial historis.

Hal ini dianggap perlu oleh penulis karena Nabi Muhammad sebagai pusat hadis, pada saat itu tidak hanya berperan sebagai seorang Nabi, tetapi juga bersentuhan dengan aktivitas-aktivitas sosial. Dan tidak menutup kemungkinan Nabi mengeluarkan hadis tidak hanya sebagai penjelas firman Allah yang tidak bisa dipahami oleh beberapa sahabat, melainkan sebagai jawaban atas permasalah sosial pada saat itu yang tidak ada di dalam Al Qur’an. Selain itu, pendekatan sosial historis sanagat diperlukan dalam pembongkaran suatu hadis lantaran kondisi sosial historis masa Nabi sangatlah berbeda jauh dengan kondisi sosial historis masa sekarang.

Alasan pendekatan Ilmu- ilmu sosial seperti sosiologi dan sejarah  sangat penting dalam pembongkaran makna suatu hadis adalah karena kajian sosial atau sosiologi merupakan kajian yang terkait dengan semua aktivitas masyarakat, serta mencoba mengungkap hubungan agama dengan gejala sosial dan non sosial seperti ekonomi, politik, kondisi geografis, dll.. Sedangkan pendekatan sejarah merupakan kajian mengenai sejarah nabi atau Sirah Nabawiyah. Melalui kedua keilmuan ini, barulah bisa mengetahui kondisi sosial pada masa Nabi Muhammad yang kemudian akan dibandingkan dengan kondisi sosial era sekarang. Tujuannya adalah agar bisa mengetahui latar belakang munculnya suatu hadis serta bisa memahami dan menerapkannya di era sekarang.

Seperti contoh  hadis dalam Al jami’ shahih no. 386 tentang sikap Rasulullah yang melepaskan sandal ketika ada najis di sandalnya dan sahabat mengikuti tindakan Rasulullah. Namun setelah shalat, Rasulullah malah menegur sahabat dengan tindakan sahabat yang mengikuti Rasulullah. Rasulullah menyuruh kepada sahabat untuk tetap memakai sandal asal tidak ada najis. Dengan kata lain, hadis tersebut menjelaskan tentang diperbolehkannya memakai sandal ketika sholat di masjid dengan syarat tidak ada najis di sandal. Disinilah peran ilmu sosial  berperan dalam pembongkaran makna diblaik hadis tersebut. Setelah diteliti ternyata masjid pada zaman Nabi sangatlah berbeda jauh dengan masjid era sekarang. Masjid zaman Nabi sangatlah sederhana, yakni masih belum tertutup atau belum berbentuk bangunan. Jika dimisalkan dengan zaman sekarang, masjid zaman Nabi bentuknya seperti lapangan yang hanya terdiri dari tanah yang lapang dan masih banyak orang yang berlalu lalang.Bahkan lantainya pun masih belum dikramik seperti sekarang. Hal tersebut sangatlah berbeda dengan masjid zaman sekarang yang memiliki penampilan dan kesan yang mewah dan tanahnya pun sudah dikeramik sehingga sandal harus taruh di luar masji atau rak sandal yang disediakan masjid.

Itulah salah contoh hadis serta  pembongkaran makna dibaliknya dengan menggunakan ilmu sosial. Dan contoh diatas merupakan hasil dari pemaknaan hadis secara kontekstual. Pemaknaan hadis secara kontekstual bukan berarti menolak hadis seacara tekstual atau melenceng dari isi hadis. Akan tetapi pemahaman hadis secara kontekstual merupakan pemahaman dengan cara menafsirkan kembali suatu hadis akibat adanya perbedaan baik dari segi sosial, kebiasaan, ataupun geografis masa Nabi pada saat itu dengan era sekarang. Dan ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, sejarah, dan geografi memiliki peran penting dalam merealisasikan hal tersebut. Itulah mengapa Ilmu-Ilmu sosial sangat urgen dalam pemaknaan, namun tak lupa dengan didahului dengan pemahaman teks hadis secara tekstual terlebih dahulu.

Diujung tulisan, penulis mencoba untuk merekap beberapa kesimpulan tentang tulisan ini. Hadis sebagai hukum kedua setelah Al Qur’an, perlulah adanya pemaknaan secara kontekstual dengan mengintegrasikan dengan ilmu-ilmu sosial dengan tujuan agar hadis bisa tetap relevan dengan perkembagan zaman. Namun tidak lupa harus didahului dengan pemahaman secara tekstual terlebih dahulu.

Daftar Pustaka

Afwadzi Benni, Integrasi Ilmu-ilmu Alam dan Ilmu-ilmu Sosial dengan Pemahaman Hadis Nabi. Jurnal Theologia, Vol. 28 no 2, 2017

Afwadzi Benni, Membangun Integritas Ilmu-ilmu Sosial dan Hadis Nabi. Jurnal Living Hadis, Vol. 1 no.1, Mei 2016

Channa Liliek, Memahami Makna Hadis Secara Tekstual dan Kontekstual. Ulumuna, Vol. 15 no.2, Desember 2011

Assagaf Ja’far, Studi Hadis dengan Pendekatan Sosiologi. Jurnal Holostic Al hadist, Vol. 1 no 2, 2015

Darmalaksana Wahyudin, Penggunaan Analisis Pendekatan Ilmu-ilmu Sosial dalam Penelitian Hadis Metode Syarah. Khazanah Sosial, Vol.2 no.3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: