Upaya Pemberlakuan Sertifikasi dan Kelas Pra Nikah di Masyarakat

Pernikahan merupakan salah satu contoh dianjurkannya bagi seseorang yang sudah mampu dalam hal kesiapan dari lahir maupun batin. Sebagaimana dalam hadist Nabi Muhammad SAW bersabda; “Nikah adalah sunnahku, barang siapa yang menolak sunnahku, ia bukan termasuk dari golonganku” (HR. Ibnu Majah dari Aisyah RA). Bahkan penikahan merupakan sarana paling mulia dalam hal memelihara keturunan serta memperbanyak erat tali persaudaraan antar sesama manusia. Meskipun dalam prakteknya melakukan pernikahan membutuhkan proses keterlibatan antara kemampuan dalam mengatasi problematika permasalahan-permasalahan hidup sampai kesiapan memuliakan antara suami dan istri dalam hal nafkah dzohir maupun nafkah batin.

Kemudian seiring berkembangnya zaman, perubahan kultur dan budaya dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara, hal ini pemerintah juga ikut andil dalam menciptakan & melakukan penelitian  melalui tindak lanjut perkawinan khususnya di Indonesia. Akan tetapi keterlibatan antara pemerintah dan masyarakat tidak bisa semena-mena mengatur kebijakan secara paksa, harus melalui survei, penelitian lebih lanjut, dengan menyertakan pelbagai sumber untuk menciptakan kebijakan-kebijakan yang tidak memihak dan menyimpang.

Disamping itu, melihat berbagai persoalan permasalahan pernikahan yang banyak terjadi di kalangan masyarakat, dan masih ada yang tidak mengetahui arti dan tujuan secara utuh apa itu pernikahan, disamping untuk memenuhi kebutuhan biologis setiap individu manusia yang memiliki hasrat untuk melakukan hubungan sexsualitas, akan tetapi dalam prakteknya sebagian dari masyarakat masih beranggapan bahwa dilangsungkannya pernikahan itu sendiri. hanyak berpendapat mengenai pernikahan itu lebih menitik beratkan kebutuhan sexsualitas semata, dengan dalih hanya untuk menyalurkan hasrat seksualitasnya secara sah, namun, pernikahan bukanlah hanya masalah  untuk memenuhi kebutuhan biologis semata, akan tetapi sebagaimana semestinya menjalin hubungan untuk mencapai tujuan bersama untuk memperoleh keutamaan-keutamaan didalamnya merupakan konse dalam pernikahan yang seutuhnya.

Pemerintah sendiri dari kementrian kordinator bidang pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) kembali melakukan upaya sertifikasi perkawinan, demi memperkecil kemungkinan terjadinya hal-hal yang dianggap tidak tabu/layak dalam pernikahan. Hal inipun menuai pro & kontra didalam masyarakat luas, sebagian ada yang menganggap hal ini butuh diupayakan untuk meminimalisir angka perceraian dengan adanya kelas pra nikah, tidak sedikit juga yang beranggapan bahwa sudah tidak memerlukan sertifikasi/ kelas pra nikah yang mana dianggap pemerintah semakin mempersulit untuk melakukan pernikahan.

Tujuan diberlakukan sertifikasi ini memang melihat dari substansinya sangat membantu untuk meregenerasi yang memang benar-benar siap melakukan bahtera kehidupan berkeluarga. Yang memuat materi didalamnya dengan memberlakukan kelas pra nikah membuat konsep persiapan kejenjang pernikahan menjadi tertata. 

Banyak hal yang perlu diketahui untuk mempersiapkan kematangan secara mental & ilmu sebagai pegangan dalam menjalani kehidupan berkeluarga, yang mana permasalahan-permasalahan rumah tangga membutuhkan bekal ilmu sebagai nilai dasar ketahanan dalam berkeluarga.

Adapun sertifikasi/ kelas pra nikah ini mempertimbangkan kelayakan bagi calon pengantin untuk melakukan pernikahan, juga memberikan pelatihan-pelatihan dalam ranah keluarga. Sehingga nantinya terhindar dari permasalahan yang sering terjadi dalam hubungan kekeluargaan seperti terjadinya KDRT, penelantaran anak dll.

Penolakan dari beberapa lapisan masyarakatpun banyak, karenanya pemberlakuan ini dikira memperumit dan membuang-buang waktu saja, pasalnya dalam kebijakan ini nanti masyarakat diwajibkan mengikuti bimbingan pra-nikah tersebut. Lulus & tidak sertifikasi pra-nikah ini belum jelas kebijakan untuk boleh dan tidaknya melanjutkan kejenjang pernikahan yang dimaksud, regulasi-regulasi yang menyangkut permasalahan ini masih dalam tahap proses yang mana kemudian untuk diterapkan di masyarakat.

Kemudian permasalahan perkawinan menyangkut kelas pra-nikah/ sertifikasi nikah ini diharap membantu demi terciptanya cita-cita membangun kemaslahatan umat. Yang mana  dibutuhkan pendekatan lebih kepada masyarakat umumnya, yang mana kemudian mengaplikasikan konsep wacana ini dengan matang serta tidak mempersulit masyarakat yang ingin mengajukan pernikahan.

Berharap upaya sertifikasi ini semata-mata untuk kebaikan masyarakat khususnya, sebagai wujud terciptanya sumber daya manusia yang semakin unggul & bermartabat dalam kehidupan rumah tangga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: