Tradisi Yasinan Sebagai Spirit Kebersamaan

Seperti kita ketahui yasianan menjadi ciri khas bagi Nahdlatul Ulama yang pelakasanaannya setiap kamis malam. Yasinan yang biasa dilakasanakan berkelompok ditiap-tiap masjid atau di pondok pesantren Nahdlatul Ulama atau adapula yang melaksanakan dirumah masing-masing. Tidak dipungkiri ini menjadikan sebuah spirit didalamnya untuk menjalin sebuah kebersamaan.

Dikalangan umum memang terjadi sebuah perdebatan mengenai hal yasinan, akan tetapi kita mengambil hal positif dari pelaksanaan yasinan. Ada yang menyebutkan bahwa hal tersebut tidak pernah dilaksanakan oleh nabi. Hal ini disampaikan oleh seorang kiyai bahwasanya, yasianan sendiri bentuk sebuah kecintaan pada nabi, dikarenakan pasti disertai dengan shalawat. Shalawat sendiri yaitu doa dan pujian kepada nabi juga para sahabat serta pengikutnya yang telah memberikan ajaran Islam sampai hari ini.

Tujuan dari pelaksanaan yasinan sendiri ialah selain untuk mendoakan orang-orang yang sudah terlebih dahulu menghadap Allah SWT, juga menjaga sebuah tradisi baik. Mengapa bisa dikatakan seuah tradisi yang baik ? yakni mengajak oran-orang untuk membaca Al-Quran, walaupun dalam hal ini pembacaannya Surat Yasin dan surat-surat pendek lainnya.

Seperti pemaparan Hayat dalam tulisannya yang berjudul Pengajian Yasinan Sebagai Strategi Dakwah Nu Dalam Membangun Mental Dan Karakter Masyarakat, bahwasanya pelaksanaan tahlīl dan Yasinan merupakan local wisdom yang harus dipelihara, dijaga dan dilaksanakan untuk kemanfaatan dan kebaikan. Manfaat dari Yasinan adalah sebagai ikhtiar bertobat kepada Allah, untuk diri sendiri dan saudara yang telah meninggal, mengikat tali silaturrahim dan persaudaraan, mengingat akan kematian, mengisi rohani, serta menjadi media yang efektif untuk dakwah Islamiyah.

Yasinan sebagai sebuah agenda keagamaan yang ditransformasikan ke dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dalam berbagai aspek kehidupan, yaitu aspek kebersamaan, gotong-royong, kepekaan terhadap dinamika sosial, kepedulian dan saling menghargai antar tetangga dan masyarakat. Kegiatan selepas membaca yasinan biasanya diiringi dengan bincang-bincang dan memberikan sekotak bungkus yang biasa disebut “berkat”. Dari perboncang selepas yasinan biasanya tdak lepas dari sebuah kegiatan rutin dilingkungan atau membahas keagamaan mengenai kegiatan-kegaitan keagaman lainnya.

Peran pengajian Yasinan, terutama di malam Jumat sebagai hari yang baik bagi masyarkat Muslim, menjadi penting dalam berbagai kegiatan Yasinan, mulai dari pembacaan tahlīl, shalawat, yasin, pembacaan kalimat ṭayyibah, maupun ditambah dengan al-maw’iẓah al-ḥasanah dari para penceramah. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan dan menumbuhkan nilai-nilai agama dalam kehidupan masyarakat sekitar sebagai ujung tombak dari serangan modernisasi agama.

Tradisi Yasinan bagi mereka yang melakukannya, ia bermakna doa. Bagi mereka: membaca Yasin pada malam jum’at dimulai dengan mengirim surah al-Fatihah, kepada Rasul, Datu, nenek moyang serta kerabat lainnya dimaknai dengan doa kepada mereka sehingga istilah doa arwah sangat familiar dikalangan para santri, baik secara personal maupun komunal jika mereka ingin mendoakan kerabat-kerabat mereka yang telah mendahului mereka. hal dilandasi pada hadis nabi saw.:

عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« إِنَّ لِكُلِّ شَىْءٍ قَلْباً وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس ، مَنْ قَرَأَهَا فَكَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ عَشْرَ مَرَّاتٍ

“Sesungguhnya segala sesuatu memiliki hati, dan sesungguhnya hati al-Qur’an adalah surah Yasin, barang siapa membacanya (surah yasin) sama halnya membaca al-Qur’an sebanyak sepuluh kali.” (H.R. al-Darimi).[1]

Dimasa pandemi seperti sekarang pun kegiatan yasinan tertap berjalan walaupun dengan pelaksanaanya di rumah masing-masing bahkan tidak sedikit dari warga-warga dengan menambahkan doa tolak bala, agar wabah yang menyebar saat ini cepat hilang dari muka bumi. Dari kegiatan yasinan dan tahlilan makan hal ini menjadikan sebuah spirit kebersamaan bagi yang melaksanakannya, dikarenakan disamping melaksanakan secara bersama juga menjaga silaturahmi antar masyarakat guna melestarikan warisan para ulama.


[1] https://www.tongkronganislami.net/tradisi-bacaan-surat-yasin/

Awis Qarni

Mahasiswa Ilmu Hadist UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: