Tradisi Malam Salekoran di Bulan Ramadhan

Madura secara umum merupakan pulau yang kaya akan tradisi dan budaya, di sini bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, di mana masyarakat masih punya peran aktif dalam melestarikan tradisi dan budaya itu sendiri, misalnya di desa Bancamara. Setiap menjelang bulan romadhan kegiatan-kegiatan keagamaan mulai dirawat dan ditampilkan kepermukaan. Salah satunya tradisi malam kedua puluh satu Romadhan yang lumrah disebut malam (Salekoran). Malam salekoran ini dilaksanakan secara serentak oleh setiap rumah atau KK dengan cara memasak nasi dan menyembelih ayam kemudian diberikan kepada tetangga, kerabat (saudara) dan juga ke tempat mereka ngaji (musallah) dan masjid.

Tradisi salekoran ini merupakan tradisi yang sudah dilaksanakan dari sejak dulu, baik oleh masyarakat kelas bawah, menengah dan kelas atas semua mengikuti upacara tradisi salekoran. Hal itu, ternyata bukan serta merta dilaksanakan melainkan sudah dijadikan tradisi yang menuntut semua masyarakat mengikuti, meskipun dalam tanda kutip kurang begitu mampu. Seperti saat penulis mewawancarai salah satu tokoh agama yang berada di desa Bancamara Ust. Lisgiyanto, bahwa tradisi malam kedua puluh satu ini, pada dasanya merupakan ritual keagamaan yang dalam bahasa agamanya ingin melaksanalan selamatan di malam-malam turunnya lailatul qadar yang diyakini akan datang pada tanggal ganjil, di antaranya malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh dan dua puluh sembilan.

Selain itu, tradisi ini pada awalnya ingin menyambung tali silaturrahim antara saudara dan tetangga di bulau suci ramadhan. Membiasakan memberi (sadaqah) pada yang lain, dan ini juga sangat dianjurkan dalam agama. Terlepas dari semua itu, ternyata masyarakat banyak yang belum menyadari bahwa yang dilakukan merupakan bentuk dari ekspresi keagamaan, tetapi mereka meyakini bahwa hal itu hanya lalampan tradisi dari nenek moyang mereka, bukan spiritual keagamaan.

Di sini bisa dilihat misalnya, Emile Durkheim (1912) bagi dia agama merupakan suatu keseluruhan yang bagian-bagiannya saling bersandar satu sama lain, yang terdiri dari akidah dan ibadat-ibadat. Semuanya dihubungkan dengan hal-hal yang suci dan mengikat pengikutnya dalam suatu masyarakat yang disebut Gereja. Sedangkan pemerintah Indonesia melalui Depertemen Agama (kini Kementerian Agama) mendfinisikan agama sebagai jalan hidup dengan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berpedoman kepada kitab suci, dan dipimpin oleh seorang Nabi (El-Hafidy, 1977: 15). Melihat pegertian tersebuat bisa kita pahami bahwa agama erat sekali dengan tradisi dan kebudayaan yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Sedangkan tradisi sendiri adalah adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat, dan sangat jelas bagaimana masyarakat melaksanakan ritual atau kebiasaan yang sebenarnya bersumber dari agama, seperti menyiapkan diri untuk melaksanakan tradisi malam kedua puluh satu dengan bersedaqah, menambung tali silaturrahim dan melakukan kebaikan-kebaikan lain, tentu hal ini jika dilhat dari sudut pandang agama untuk menunggu turunnya lailatul qadar yang seperti sudah disebut di atas.

Tradisi malam kedua puluh satu ini bukan hanya dijadikan sebagai momentum tahunan saja, tetapi sudah diyakini sebagai kebiasaan yang membawa terhadap keselamatan diri, keluarga dan tentu juga anak cucunya. Melihat respon terhadap tradisi malam dua puluh satu di kalangan masyarakat Bancamara, setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, bahwa masyarakat cendrung mengikuti apa yang sudah menjadi kebiasaan dari sejak dulu, meslipun tidak mengetahui secara pasti terkait dengan kenapa hal tersebut mesti dilakukan. Selama tradisi itu dianggap baik dan tidak merugikan pada masyarakat sendiri, maka akan dilaksanakan sesuai dengan apa yang pendahulunya laksanakan.

Kedua, masyarakat cendrung memilih melaksanakan tradisi yang sejak dulu dilakukan oleh pendahulunya dari pada melaksanakan apa yang diperintahkan oleh agama, hal ini terbukti ketika bulan puasa. Sebagian dari masyarakat desa Bancamara tidak melaksanakan ibadah puasa romadhan tetapi ketika waktunya malam dua puluh satu romadhan atau yang sering disebut dengan semalatan ini justru bebondong-bondong mereka melaksanakannya.

Ketiga, ketika ada salah satu yang tidak ikut atau dalam hal ini ada yang tidak merayakannya dengan memberi nasi putih atau nasi ketan kepada keluarga, tetangga dan musollah. Akan dianggap tidak melakukan kebaikan dalam hal ini kemungkinan kebaikan sosial, karena seperti dijelaskan di atas bahwa tradisi ini bukan hanya dianggapp sebagai ekspresi dari keagamaan tetapi lebih dari hal itu, masyarakat menganggap sebagai tradisi yang sakral. Gunjingan dan hukuman secara moral akan didapatkan oleh orang yang tidak ikut serta dalam melaksanakan kegiatan malam kedua puluh satu romadhan.

Dengan demikian, dapat kita simpulkan di sini bahwa spiritual keagamaan yang sudah dikemas dengan tradisi akan lebih kuat bertahan dalam masyarakat desa Bancamara. Hal ini bisa dilihat dalam tradisi perayaan malam kedua puluh satu bulan romadhan ini, masyarakat sangat antusias dan serentak melaksanakannya. Menganggap apa yang sudah sejak awal menjadi tradisi dari nenek moyang merupakan sesuatu yang wajib dilaksanakan, apalagi hal ini (malam kedua puluh satu) dianggap merekatkan hubungan sesama keluarga dan juga tetangga sekitar.

Maka dari itu, untuk melestarikan tradisi ini perlu upaya respon dari anak muda dan mengenalkannya. Seperti ketika ingin memberikan nasi ketan, nasi putih atau apapun di malam kedua pilih satu rpmadhan harus melibatkan anak muda, supaya mereka tersentuh dari awal. Ketika anak muda sudah terbiasa melakukan hal tersebut, maka tradisi malam kedua puluh satu akan terus bertahan sampai kapanpun. 

Moh Syaiful Bahri

Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: