Sebuah Bentuk ‘Pemikiran’ Pernikahan Matang

Tuhan telah menciptakan makhluk yang berpasang-pasangan, Dengan sebab itu maka sebuah pernikahan bukan hanya sebagai pelepas rasa penasaran belaka. Penikahan yang di impikan semua orang ialah sebuah ikatan resmi yang di akui oleh agama dan negara. Pernikahan  matang diakui negara haruslah ada dicatatan negara repubik Indonesia,sayangnya perkawinan tak tercatat’siri’ masih marak terjadi di negara ini sebagai jalan pintas yang konon katatanya terhindar dari maksiat dan sebagai jalan keluar pengeluaran ekonomi yang sedikit.

Sebenarnya pernikahan siri tersebut adalah hasil pemikiran yang kurang matang juga karena sifat dasar manusia yang mudah bosan terhadap sesuatu bahkan bisa terjadi pula pada suatu pasangan, dan ketika sesuatu tersebut melanda suatu pasangan sedangkan pernikahan tersebut secara tidak tercatat oleh negara maka akan sangat mudah pasangan tersebut mengakhiri sebuah hubungan dengan sepihak, mungkin dalam permasalahan putusan mengakhiri ikatan tersebut dampak kurang baiknya banyak di ‘mantan’isteri, sebab mantan istri tersebut tidak bisa memenuhi hak-haknya dalam menjadi istri dan setelah putusnya ikatan tersebut, dan apabila pasangan siri tersebut memiliki anak maka anak tersebut hanya dianggap anak yang lahir diluar pernikahan.

Pernikahan impian yang di dalam pernikahan didalamnya terdapat terdapat tiga unsur penting,unsur yang menjadikan kebaikan dalam sebuah pernikahan dan tujuan pernikahan bagi suami isteri maumpun anak-anaknya, unsur ini pula bisa menajadi momok di sebuah pernikahan unsur tersebut adalah Sakinah Mawadan dan Rahmah. Bisa dikatakan momok sebab pemikiran di dalam pernikahan yang belum matang dapat mendatangkan marabahaya, seperti sebelm menikah sudah melakukan ‘penuntasan rasa penasaran sehingga tubuh si wanita hamil, akibat pergaulan bebas para muda mudi sekarang mengakibatkan perkawinan dini atau perkawinan anak.

Pernikahan di usia dini menyebabkan adanya beberapa fenomena yang kurang mengenakan, fenomena tersebut adalah sebuah akibat akibat yang kuarang baik dalam pernikahan, akibat tersebut antara lain dapat mengakibatkan banyaknya perceraian karena kurang dapat mengontrolnnya emosi dari pemikiran yang masih kurang dewasaa tersebut. Adanya keguguran dan mengakibatkan kanker serviks karena kurang siap’badan’ mempelai perempuan dalam mengandung dan melahirkan.

Pernikahan ialah sebuah perikatan pasangan yang tidak sejenis kelamin, adanya undang undang perkawinan yang diperbaharui yakni yang sebelumnya perkawinan bagi pihak mempelai wanita hanya 16 tahun sekarang menjadi 19 tahun pada tahun kemarin setidaknya masih bisa melawan perkara yang mengakibatkan tidak sakinah, mawadan dan rahmah di dalam mejalani kekeluargaan. Hal penaikan batasan minimal perkawinan bagi pihak mempelai wanita tersebut  sekurang kurangnya dapat meminimalisir dampak buruk yang diakibtakan dari perkwinan anak tesebut, akan tetapi masih banyaknya dispensasi nikah diakibatkanya pergaulan bebas yang telah terjadi di pasangan tersebut di pengadilan agama. Ya memanglah ini adalah fisishing terahir agar sebuah pasangan tersebut mempertangung jawabkan perbuatanya

Sebuah pemikiran dewasa atau matang itu tujuan dari adanya sakinah, mawadah dan rahmah. Dalam menjalani sebuah pernikahan yang sah yang didalamnya terdapat rukun dan sayarat perkawinan, rukun perkawinan sendiri para ulama sepakat bahwasnya di dalam melangsungkan akad nikah yang sah adalah adanya ijab dan qabul, calon suami, calon isteri, wali nikah, dua orang saksi. Dan syaratnya antara lain sighat ijab qabul tidak dibata oleh waktu, suami istri tidak adanya hubungan nasab, dan dalam melangsungkan ijab qabul mempelai pria dan wanta tidak ada paksaan, ada mahar, kejelasan atau keterbukaan asntar keduanya atau tidak menyembunyikan sesuatu,

Pemikiran pernikahan dewasa matang dapat mendatangkan keluarga yang menujukan tujuan yang jelas, sebagaimana tusgas tugas dalam kekeluargaan seperti halnya dalam pencarian nafkah dan pengambilan keputusan, yang seperti biasanya’lumrah’ puhak laki-laki karena sejatinya setelah dilangsungkanya sebuah akad di dalam pernikahan mempelai wanita telah seutuhnya menggantungkan kehidupanya paada sang suami, dan bukan bagi kepada ayah kandungnya.

Dalam urusan pencari nafkah bisa juga pihak laki-laki maupun perempuan itu bisa bersama dalam mencari nafkah akan tetapi dalam pengabilan keputusan basanya yang lebih dominan ke suami debabkan adanya sebuah pertanggungjawaban sebuah keluarga di akhirat kelak. Tanggungan dari pria yang merupakan kepala kelaurga sangatlah besar, panutan keluarga pria atau ayah bagi anak-anaknya. Anak anak sendiri akan menggangap bahwasanya sesosok ayah adalah idola baginya dan sang anak akan cenderung meniru sikap dari sosok ayah tersebut.ddalam sisten kekeluarganaan yang  di dalam  serumah, pihak pria yang merupakan suami atau sosok ayah  ada kewajiban yang ditanggungnya sepeti perhatian kepada istreri atau yang pokoknya dalam memberi nafkah, nafkah sendiri berupa tempat tinggal, sandang, dan pangan. kewajiban suami yang lain seperti tidak menyakiti fisik istrinya daan memberi nafkah batin istri, tidak meninggalkan istri dan anak tanpa kejelasan yang pasti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: