Rukhshoh, Corona dan Fatwa MUI Tentang Salat Jum’at; Sebuah Diskusi Singkat

Perihal upaya memutus mata rantai penyebran covid-19, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa tentang keringanan salat jum’at di tengah wabah yang terjadi di saat ini, khususnya bagi masyarakat muslim di Indonesia. Komisi fatwa MUI mengingatakan bahwa setiap orang wajib melakukan ikhtiar menjaga kesehatan dan menjauhi setiap hal yang diyakini dapat menyebabkan terpaparnya penyakit. Fatwa tesebut dikeluarkan untuk menyikapi tentang penyebaran virus corona saat ini.

Meskipun ada pertentangan antara yang berpendapat untuk menjauhi hal yang bersifat madharat, namun masih ada pihak yang kekeh berpendapat bahwa justru dengan tetap melaksanakan salat di masjid akan meningkatkan keyakinan kita kepada Allah Swt sebagai Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Memang benar, dai prinsip teologis kita meyakini bahwa segala kekhawatiran tentang covid-19 bisa sirna hanya dengan izin Allah Swt. Namun yang harus disadari juga adalah bahwa Allah Swt. melihat seberapa serius kita dalam menghadapi cobaan ini. Pada titik ini, sebagi pihak yang berwenang dalam bidang keagamaan, khususnya masyarakat muslim, sikap MUI sudah sangat relevan untuk dijadikan rujukan atau pedoman sebagai langkah preventif dalam menyikapi sebaran wabah corona.

Dalam ilmu ushul fikih, istilah rukhshah dapat secara sederhana kita pahami sebagai dispensasi dalam penunaian kewajiban, misalnya dalam hal ini adalah mendirikan salat Jum’at. Dengan demikian, instruksi untuk tidak melakukan salat jum’at bagi umat muslim di tengah merebaknya pandemi corona bisa dikategorikan sebagai rukhshah. Hal ini senada dengan apa yang dialami oleh khalifah Umar bin Khatab ketika menyikapi sebuah wabah. Cerita khalifah Umar bin Khatab dapat menjadi ruujukan umat muslim. Karena pada akhinya, khalifah Umar bin Khatab untuk tidak melanjutkan perjalanan ke wilayah syam yang tengah dilanda wabah saat itu. Tentu kita mengerti bahwa khalifah Umar bin Khatab tidak mungkin tidak mengetahui prinsip teologis di atas, namun secara sadar apa yang dilakukan oleh khalifah Umar bin Khatab merupakan bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kemaslahatan yang lebih universal.

Berdasarkan deskipsi singkat di atas, fatwa MUI tentang salat Jum’at tentu sudah melalui kajian yang mendalam dalam menerapkan konsep rukhshah ini. Lain dari pada itu, fatwa tersebeut juga sesuai dengan bunyi kaidah ”dar’ul mafasid muqqoddamun alaa jalbil masalih”, artinya mencegah segala hal yang negatif (yang dapat membuat corona semakin tersebar) lebih di utamakan dari pada tetap berupaya untuk mendapatkan kemaslahatan (melaksanakan salat Jum’at).

Dengan demikian, sebagai masyakat yang peduli terhadap pemutusan mata rantai sebaran corona, maka penting bagi umat Islam untuk mengindahkan fatwa MUI tersebut. Hal ini sebagai upaya untuk memadukan sikap tawakkal kita kepada Tuhan sekaligus sikap kewaspadaan dan kepedulian kita terhadap sesama. Sebab keduanya merupakan prinsip ajaran Islam, dan keduanya juga tidak saling bertentangan. Artinya, kita bertawakkal dan waspada serta peduli sekaligus.

Agung Priyono

Mahasiswa Perbandingan Madzhab Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: