Reinterpretasi Surah An-Nisa’ Ayat 3; Poligami Perspektif Asghar Ali Engineer

Menurut Ahmad Baidowi dalam bukunya tafsir feminis kajian perempuan dalam Al-Qura’an dan para mufassir kontemporer menyatakan bahwa Asghar Ali Engineer adalah seorang ilmuan yang lahir di Bohra tepatnya di Salumbar Rajashtan India pada tanggal 10 Maret 1939. Ia dilahirkan dari sebuah keluarga ortodoks yang sangat taat dalam beragama (keluarga amil) dari pasangan Yaikh Qunan Husain dan Maryam. Asghar Ali Engineer menempuh jenjang pendidikan formalnya di dalam negeri India sendiri, mulai dari sekolah dasar hingga masuk perguruan tinggi di Universitas Vikram tahun 1956 semua ia tempuh di negerinya.

Berdasarkan kajian yang telah dilakukan oleh Agus Nuryanto dalam bukunya Islam, Teologi Pembebasan dan kesetaraam jender menyatakan Setelah lulus dari Universitas Vikram, Asghar Ali Engineer mengabdikan dirinya pada Bombay Municipal Corporation selama 20 tahun. Setalah itu nama Asghar Ali Engineer mulia dikenal banyak orang sebagai sarjana Islam setelah mendapat gelar kehormatan D.Litt dari tempat kerjanya di Universitas Calcuta pada bulan Februari 1983. Gelar ini didapat atas karya-karya yang ditulis sejak pecahnya kerusuhan pertama di India pada tahun 1962 di Jabalpur yang berkaitan dengan keharmonisan masyarakat dan kerusuhan sosial. Selain itu ia juga mengajar diberbagai Universitas di Eropa, Amerika Serikat, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan menjadi direktur di Pusat Studi Islam Bombay.

Gavin W. Jones berpendapat bahwa keluarga sebagai struktur masyarakat terkecil yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan antara suami dan istri. Salah satu bentuk perkawinan ialah poligami. Professor Tihami dalam bukunya fiqih munakahat menyatakan kata poligami sudah tidak asing lagi ditelinga kita, poligami adalah masalah-masalah kemanusiaan yang tua sekali. Sejak dahulu kala poligami sudah dikenal oleh orang-orang Hindu, bangsa Israel, Persia, Arab Romawi dan lain-lain. Praktek poligami sudah dilakukan sejak beribu-ribu tahun lalu, jauh sebelum Nabi Muhammad Saw praktek poligami sudah dilakukan oleh Nabi Islmail As yang menikahi dua wanita yang bernama Sarah dan Hajar. Praktek Poligami yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw dan Nabi Ibrahim As harus melihat situasi dan kondisi yang terjadi saat itu berdasarkan penelitan yang dilakukan oleh Mu’arif dalam bukunya monoteisme samawi autentik. Dewasa ini, perkawinan poligami sering dianggap sebagai suatu anjuran yang kerap kali disebut sebagai “sunah” dikalangan masyarakat tanpa mengkaji lebih jauh. Landasan normatif (nash) yang sering kali digunakan ialah surah An-Nisa’ ayat 3 yang jika dilihat secara tekstual ayat ini seolah-olah menganjurkan untuk melakukan poligami.

Khoruddin dalam bukunya hukum keluarga Islam dan perbandingan hukum perkawinan di negara muslim bahwa paradigma bahwa poligami sebuah anjuran yang terbentuk pada masyarakat awam disebabkan tidak memahami surah An-Nisa ayat 3 secara menyeluruh baik itu sebab turunnya ayat maupun kontekstualnya pada saat itu. Asghar Ali Engineer berpendapat bahwa dalam memahami surah An-Nisa ayat 3 perlu dihubungkan dengan ayat yang mendahuluinya, dimulai dengan “dan jika kamu khawatir tidak dapat berbuat adil terhadap anak-anak (perempuan) yatim..” penekanan ayat ini sebenarnya bukan pada menikahi perempuan lebih dari satu orang, tetapi berbuat adil kepada anak yatim.

Konteks ayat ialah mengkisahkan orang-orang yang bertugas memelihara harta kekayaan anak yatim sering melakukan yang tidak semestinya seperti mengawini anak yatim tersebut tanpa memberinya mahar. Penjalasan yang lain sebagaimana dijelaskan oleh ‘Aisyah bahwa ayat ini turun karena menjawab pertanyaan Urwah bin Zubair kepada ‘Aisyah. Ia menjawab “wahai anak saudara perempuanku, anak yatim yang dimaksud ayat ini ialah anak perempuan yatim yang berada dibawah asuhan walinya mempunyai harta kekayaan yang bercampur dengan harta kekayaannya serta kecantikannya membuat pengasuh itu berniat menikahinya dan berniat tidak mau memberikan mahar kepadanya. Karena itu, pengasuh anak yatim seperti ini dilarang menikahi mereka, sampai mau berbuat adil dan memberikan mahar kepadanya. Dan kalau tidak berbuat demikian, maka mereka dianjurkan untuk menikahi perempuan-perempuan lain yang disenangi. Karena itu, ayat ini bukan merujuk pada suatu yang umum, tetapi terhadap satu konteks, bahwa berbuat adil kepada anak yatim itu lebih sentral daripada masalah poligami. Sebagaimana berdasarkan kajian yang telah dilakukan oleh Professor Tihami dalam bukunya fiqih munakahat.

Konteks lain, ayat ini turun setelah perang Uhud terjadi yang menewaskan 70 dari 700 laki-laki. Akibatnya banyak perempuan muslimah yang menjadi janda dan anak yatim yang harus dilindungi dan dipelihara. Menurut konteks sosial yang terjadi saat itu jalan terbaik untuk melindungi para janda dan anak yatim itu ialah dengan cara menikahi mereka, dengan syarat harus adil. Konteks pemeliharaan dan penjagaan terhadap janda dan anak yatim ini didukung dengan adanya Hadis Nabi yang menyatakan betapa tingginya pahala menafkahi para janda seperti membiayai orang yang sedang jihad atau seperti pahala orang yang sholat sepanjang malam dan melakukan puasa pada siang hari. Karena itu, femahaman terhadap surah An-Nisa (4):3 menikahai para janda dan anak yatim sebagai wujud pertolongan, bukan untuk kepuasan seks. Sejalan dengan itu pemberlakuan ayat ini harus sesuai dengan konteksnya. Sebagaimana hasil kajian yang telah dilakukan oleh Asghar A. Engineer dalam bukunya Islam masa kini.

Dengan mengutip Muhammad Ali, The Holy Qur’an, Asghar dalam bukunya Islam masa kini mencatat, diperbolehkannya poligami dalam ayat ini dalam keadaan-keadaan tertentu, tidak membolehkan secara umum tanpa syarat, apalagi menganjurkan. Penakanan pada ayat ini adalah keharusan berbuat adil kepada perempuan secara umum, kepada janda dan anak yatim secara khusus. Hanya saja konteks ayat ini pada saat itu setelah terjadinya perang Uhud yang banyak menewaskan kaum laki-laki sehingga banyak para perempuan menjadi janda dan anak yatim, maka dibolehkan menikahi mereka dengan batasan maksimal empat dengan syarat mampu berprilaku adil. Karena itu, turunnya ayat ini sangat kontekstual sifatnya. Konsekuensinya, poligami adalah pengecualian, bukan hukum asal/umum. Dengan menguti padangan Muhammad Abduh, Asghar menyatakan, berdasarkan konteks ayat An-Nisa(4):3, perkawinan yang ideal menurut Al-Qur’an adalah monogami, sedangkan poligami bersifat pengecualian. Namun, Asghar mengakui bahwa kemandulan istri dapat dijadikan sebagai alasan untuk melakukan poligami.

Terkait pandangan bahwa laki-laki memiliki potensi yang lebih besar melakukan hubungan seksual, sementara wanita dalam keadaan haid tidak diperkenankan untuk melakukan hubungan intim jalan keluarnya adalah dengan menikahi wanita lebih dari satu, oleh Asghar dibantah dengan mengatakan bahwa Al-Qur’an dan Hadis tidak memberikan alasan dan kebolehan melakukan poligami karena alasan seks. Alasan yang ada hanyalah membantu serta menolong para janda dan anak yatim. Perlu dicatat, bahwa perkawinan pra-Islam tidak ada batasan. Sebagimana yang termuat dalam kitab al-Muwatta’, karya Imam Malik (w.179 H) berpendapat adanya seorang pria bangsa thoif yang masuk Islam dan memiliki istri sepuluh, lalu pria ini bertanya kepada Nabi Saw perihal istrinya dan ternyata Nabi Saw menyuruh menceraikan para istrinya dan mempertahankan maksimal empat orang saja. Setelah turunnya ayat ini maka ada batasan maksimal empat, yakni pengurangan yang sangat drastis merupakan sebuah reformasi yang luar biasa. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya surah An-Nisa(4):3 tidak menganjurkan praktik perkawinan poligami melainkan turunnya ayat tersebut untuk menghindari anak yatim yang ingin dinikahi tanpa diberi mahar. Ayat ini juga harus difahami konteks yang terjadi pada saat itu, banyaknya laki-laki yang tewas saat perang Uhud yang menyebabkan banyaknya wanita muslimah menjadi janda dan anak yatim.

Aidil Fadli

Seorang Mahasiswa yang aktif diberbagai forum diskusi, membudayakan literas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: