Refleksi Nilai Diri dalam Menakar Kualitas Kebahagiaan (2)

Refleksi Nilai

Dalam buku karya Mark Manson yang berjudul The Subtle Art of Not Giving A Fuck diterjemahkan menjadi Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat telah banyak memberi pemahaman yang cukup menarik mengenai pemahaman nilai. Pada buku tersebut menjelaskan mengenai Nilai Penderitaan cukup merubah cara pandang mengenai nilai yang menjadi tolok ukur kebahagiaan. Pemaparan sebuah kisah seorang veteran Jepang di masa Perang Dunia kedua bernama Hiroo Onada yang diberikan mandat oleh Kaisar Jepang untuk mendarat di wilayah bernama Lubang di Filipina dari perebutan kawasan dengan Amerika Serikat. Karena kalah jumlah sehingga pasukannya kalah dan dirinya bersama dua orang prajuritnya melarikan diri ke dalam hutan. Selain bertahan hidup seadanya dirinya tidak ingin menyerah dengan terus meneror pasukan Amerika Serikat dan penduduk setempat. Pemberontakan yang dilakukan mereka bertiga masih dilakukan bahkan ketika Perang dunia dinyatakan selesai. Berbagai cara dilakukan untuk membuat Onada menyerah tapi tak membuahkan hasil karena dirinya memegang teguh akan titah Kaisar untuk tidak berhenti sebelum wilayah itu direbutnya dari tangan Amerika Serikat.

Hingga 30 tahun berlalu dirinya masih bertahan dengan misi yang sama yaitu melaksanakan perintah Kaisar. Hingga seorang pemuda bernama Norio Suzuki berhasil meyakinkan Onada bahwa perang telah usai serta membujuknya untuk kembali ke Jepang. Kabar kepulangannya disambut luar biasa, semua orang ingin bertemu dan memberikannya hadiah. Namun hal asing justru merasuki pikirannya. Ada rasa tidak nyaman terasa ketika dirinya menyadari bahwa dirinya hanya dijadikan sebagai obyek yang dipertontonkan di berbagai televisi dan surat kabar. Dalam kaca matanya masyarakat Jepang telah berubah menjadi konsumtif dan tidak mengindahkan nilai-nilai yang dianutnya sebagaimana ketika dirinya meninggalkan Jepang untuk berperang berbekal kepatuhan atas titah rajanya. Hingga akhir hayatnya, Onada menyadari bahwa nikmat hidup adalah dengan memperjuang nilai yang dibawanya di medan perang yaitu kepatuhan terhadap kaisarnya meski harus tinggal di tengah hutan dengan keterbatasan dan jauh dari kata nikmat dibandingkan dengan nominal uang yang ia dapatkan serta serta ketenaran yang tidak ia harapkan.

Kisah lain dialami oleh seorang Gitaris bertalenta luar biasa bernama Dave Mustaine. Karena berbagai alasan, dirinya didepak dari Band besar sekaliber Metallica. Rasa sakit hati karena dua kali dikeluarkan dari band tersebut membuatnya memiliki semangat untuk menyaingi Band lamanya. Dengan talenta yang luar biasa namanya mulai menanjak dan menjadi salah satu Gitaris terbaik sepanjang masa melalui Band besutannya bernama Megadeth. Kesuksesan menghampirinya. Baik Megadeth maupun Metallica sama-sama menjadi dua band papan atas yang sangat berpengaruh di zamannya. Namun dilihat dari penghargaan Grammy Metallica menang di atas kertas dengan delapan kali memenangkan penghargaan itu dibandingkan Megadeth yang hanya sekali mendapat Grammy Award di tahun 2017 melalui lagu Dystopia. Meskipun kesuksesan diraih oleh Mustaine, dirinya masih belum merasa cukup karena raihannya tidak sesuai dengan apa yang didapat oleh Band yang pernah membuangnya.

Kisah serupa dialami oleh Pete Best. Penggebuk drum pertama band legendaris The Beatles. Pasca terdepak dari band tersebut dirinya harus menelan pil pahit dengan berjayanya The beatles yang gaungnya terdengar seantero dunia. Dirinya mencoba untuk membuat band baru yang bernama Pete Best & the All Stars meskipun tenarnya tidak ada apa-apanya dengan ketenaran The Beatles. Meski sakit hati toh akhirnya ia menerimanya dan mulai membangun kehidupan baru dengan keluarganya yang bahagia.

Dari kisah di atas tentunya kita dapat melihat sebuah nilai masing-masing orang berbeda. Nilai bukan hanya ditentukan oleh masyarakat. Ada yang melihat nilai adalah dengan melakukan titah Kaisar yang sangat disanjungnya dan berusaha melakukan apapun demi tercapai nilai tersebut. Ada pula yang mengukur nilai sebagai sebuah penghargaan lantas mengejarnya hingga tidak menemukan lagi nilai-nilai yang lebih memungkinkan untuk dikejar. Ada pula yang mengikhlaskan nilai yang dianggap tinggi oleh masyarakat lalu menemukan nilai lain yang didapat dari lingkungan privatnya.

Berkaitan dengan nilai, ada satu budaya unik di Indonesia yang sering kali menjadi sebuah perbincangan yakni fenomena mudik. Budaya ini sudah mengakar sejak dahulu kala yang masih dilakukan hingga saat ini. Satu hal yang ingin diperlihatkan oleh orang-orang yang merantau keluar dari wilayahnya adalah tentang kesuksesannya di tanah rantau. Segala hal dipersiapkan matang-matang sebelum pulang seperti kendaraan, bingkisan hingga pakaian yang dikenakan. Hal ini tidak salah selagi seseorang benar-benar mampu. Namun persepsi yang seringkali memberatkan adalah mengada-ada sesuatu yang aslinya tidak ada sehingga harus mencari jalan keluar seperti dengan menyewa dan berhutang. Nilai dalam masyarakat yang terpatri seringkali dilihat dari sesuatu yang berwujud seperti baju, tas, pakaian dan benda-benda yang nampak lainnya. Mobil mewah, tas dan baju mahal serta bingkisan yang banyak menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang di tanah rantau. Sehingga banyak orang terjebak untuk menerapkan penilaian orang lain terhadap dirinya sendiri.

Nampaknya betul kata pepatah jawa yang berbunyi urip iku mung sawang sinawang yang artinya bahwa hidup itu adalah tentang memandang dan dipandang. Seringkali seseorang melihat kehidupan dari keadaan dan kondisi orang lain sebagai standarisasi nilai yang diyakini. Seperti halnya seseorang mengejar karir dengan cara yang sama seperti yang orang lain lakukan, atau terobsesi dengan kesuksesan orang lain sehingga terbesit untuk menyamai bahkan mengungguli tanpa memperdulikan nilai mana yang sepatutnya diprioritaskan sesuai pada kondisi diri. Banyak orang lupa bahwa ada nilai yang lebih rasional yang berlandaskan pada pengalaman diri yang sepatunya diperjuangkan bukan hanya nilai yang melekat pada orang lain. Teori Looking Glass Self dan kisah tokoh-tokoh mengenai pandangan tentang nilai tadi mengikhtibari bahwa sejatinya manusia seringkali terjebak pada penilaian orang lain lantas melupakan hal yang lebih penting yaitu penilaiannya sendiri agar mampu menciptakan kebahagiaan yang benar-benar tulus, bukan kebahagiaan yang dipaksakan atas persepsi orang lain terhadap diri sendiri.

Nur Afni Khafsoh

Dosen Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: