Refleksi Nilai Diri dalam Menakar Kualitas Kebahagiaan (1)

Betapa beratnya hidup di bawah bayang-bayang standarisasi kesuksesan orang lain. Tolok ukur kesuksesan yang lazim di tengah masyarakat dinilai dari kekayaan yang terimplementasikan dengan mobil, rumah dan uang yang melimpah.  Seseorang dipaksa untuk mampu mengejar capaian prestasi sesuai dengan standarisasi mayoritas. Padahal, Banyak orang lupa bahwa sukses sepatutnya diukur oleh nilai pribadi karena perbedaan kondisi dan pengalaman yang dijalani.

Tanpa disadari manusia hidup dengan segala macam tuntutan dan seakan dikejar oleh ekspektasi-ekspektasi hidup yang tiada hentinya. Adapun sebuah perayaan yang dilakukan untuk menandakan bahwa sebuuah kesuksesan telah tercapai. Apakah pernah terfikirkan mengapa hal ini dirasa penting dilakukan? Seorang teman pernah menjawab bahwa hidup akan terasa bermakna jika ada sesuatu yang dikejar. Kawan yang lain mengatakan hiduplah seperti air agar kamu merasakan betapa hidup itu harus dinikmati bukan dikejar. Dalam konteks bahagia saya pribadi tidak menyalahkan keduanya pun tidak mengamininya. Baik pendapat teman dan kawan saya di atas benar sesuai dengan pengalaman yang dijalaninya. Sehingga dari sinilah penjelasan bisa diuraikan.

Sebuah Ekspetasi

Looking Glass Self teori yang dicetuskan oleh Charles Horton Cooley seorang sosiolog ternama pada tahun 1902. Inti dari teori ini adalah manusia bertindak sesuai dengan apa yang diekspektasikan oleh orang lain. Menjadi baik, ramah, sopan dan berlaku sesuai nilai masyarakat merupakan tindakan agar dipandang dan mendapat pengakuan dari orang lain bahwa dirinya adalah seseorang yang baik, ramah dan sopan. Sebuah perumpama sederahana dari teori Looking Glass Self yakni, seorang artis selalu tampil dengan senyuman didepan kamera, selalu mengucapkan salam sebelum memulai berbicara. Hal ini dimaksudkan agar citra dirinya adalah baik, ramah, sopan dan religius dibenak para penggemarnya. Bukan merupakan sebuah kesalahan karena diyakini atau tidak kita bertindak karena ingin dicap sebagai seorang yang baik di mata orang lain, syukur-syukur mendapat pujian dari itu perbuatan yang dilakukan.

Kini marak para content creator yang membuat konten di media sosial dengan memberikan bingkisan, paket sembako hingga sejumlah uang kepada masyarakat yang nampak miskin lalu direkam dan diunggah di media sosial. Tentunya perbuatan membantu orang lain itu baik, namun dari sisi kritisnya kita bisa melihat ada kepentingan dibalik perbuatan baik tersebut. Hal ini menjelaskan bahwa seseorang memiliki banyak cara untuk mem-branding dirinya. Kita pun tak memiliki wewenang untuk mengatakan perbuatan baiknya hanyalah untuk kepentingan konten belaka, namun setidaknya dalam nilai-nilai agama Islam dijelaskan bahwa ketika tangan kanan sedang memberi, maka tangan kiri tak boleh mengetahui. Teori Looking Glass Self bisa dijelaskan dari kasus ini bahwa setidaknya tuntuan masyarakat untuk berlaku sesuai nilai sosialnya dapat membentuk cara berperilaku seorang individu.

Dalam ilmu sosiologi, nilai dan norma sangat penting dalam membentuk struktur sosial guna mengatur perilaku masyarakat dan memberikan aturan dan batasan setiap tindakan manusia agar tidak mengganggu kepentingan manusia lainnya. Sehingga, secara umum dapat dikatakan bahwa kebebasan seseorang dibatas oleh kebebasan orang lain, artinya tidak ada kebebasan yang seutuhnya bebas. Nilai-nilai sosial ini muncul karena masyarakat meyakini ada kebenaran kolektif dan harus ditaati oleh setiap individu. Jika melanggar maka akan mendapatkan sanksi. Seperti halnya kasus yang masih hangat di jagad media sosial mengenai seorang content creator di media sosial melawan kebenaran umum di masyarakat dengan mengatakan tidak menggunakan masker dan tidak menjaga kebersihan merupakan gaya hidup yang dijalaninya di tengah Pandemi Covid-19. Tentunya ini melawan pakem bahwa menurut pemerintah dan mayoritas masyarakat sepatutnya menjalankan protokol pencegahan penyebaran virus dengan peduli dengan kebersihan dan kesehatan. Lalu yang didapat justru penghakiman dan cemooh dari warganet atas ucapannya tersebut meskipun permintaan maaf telah dilayangkan.

Ada dua hal yang dapat dibaca dari kasus tersebut, pertama bahwa dirinya ingin menunjukkan sebagai seorang content creator yang terlanjur dikenal oleh penggemarnya sebagai seorang yang cablak dalam berbicara sesuai dengan konten yang dibuat sebelumnya dengan gaya yang ceplasceplos. Sehingga dirinya  menonjolkan sisi acuhnya agar framing ceplas-ceplos tetap melekat pada dirinya. Hal ini merujuk pada konsep Looking Glass Self bahwa dirinya bertindak sesuai pada apa yang sudah disematkan orang lain pada dirinya. Di sisi lain, kasus ini memperlihatkan bahwa dirinya sebenarnya tidak berfikir panjang mengenai dampak dari perkataannya yang akhirnya mengundang hujatan dari masyarakat maya yang tak terhitung jumlahnya. Ambivalensi yang terjadi seiring nge-trend-nya media sosial yang mudah sekali menaikkan pamor seseorang namun mudah menjatuhkan. Sekali anda menaati nilai-nilai sosial anda akan dijunjung setinggi langit, namun sekali anda melanggar nilai maka anda akan jatuh tersungkur ke bumi.

Nur Afni Khafsoh

Dosen Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: