Menu Tutup

PSBB, Pandemi dan Kesadaran Sosial: Belajar Dari Era Kenabian

Novel Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit menular pada manusia dan hewan. Virus ini menyerang imunitas manusia dengan tanda-tanda menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Berat (SARS). Virus ini adalah jenis baru yang ditemukan pada manusia sejak muncul di Wuhan Cina pada Desember 2019, dan menyebabkan penyakit Coronavirus Disease-2019 (Covid-19).

PSBB dalam Pengalaman Keislaman

Dalam pengalaman masyarakat Arab-Islam dikenal istilah tha’un dan waba’. Tha’un sendiri ialah wabah atau pandemi karena bisa menimpa dan menulari begitu banyak orang, tidak memandang jenis kelamin, usia, kebangsaan, atau agama dalam suatu wilayah atau bahkan meluas ke banyak wilayah. Adapun waba’ ialah merujuk pada penyakit menular itu sendiri. Setiap tha’un adalah waba’. Namun tidak berlaku sebaliknya.

Pandemi Covid-19 yang kita hadapi sekarang termasuk tha’un dan waba’ sekaligus. Di mana ini bukanlah suatu hal yang baru. Karena pada masa Rasulullah SAW, telah terjadi wabah yang menulari masyarakat disebut dengan tha’un itu sendiri.

            Dari Hafsah binti sirin bahwa ia mengatakan Anas bin Malik Ra bertanya kepadaku; Yahya meninggal karena apa? Aku katakan karena thaun (penyakit menular) . Anas berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Thaun adalah kesyahidan bagi setiap Msslim. Dalam hadis ini dapat kita lihat bahwa waba’ atau tha’un telah ada di zaman Rasulullah, dan merupakan cobaan bagi siapa saja yang terdampak. Dalam konteks keimanan, mereka yang meninggal akibat terkena tha’un atau waba’ dianggap syahid. Hal ini sebagaimana ditegaskan  oleh sabda Rasulullah SAW.

            Dari Sayidah Aisya r.a. berkata:  “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang tha’un. Beliau memberitahukan kepadaku bahwa tha’un adalah cobaan yang dikirim Allah bagi manusia. Siapapun yang telah berupaya menjaga diri dan keluarganya agar tidak terjangkit, baik dengan menetap di dalam daerah dengan sabar dan ridha, maka ketika ada yang meninggal karena penyakit wabah tersebut,  baginya seperti pahala syahid.’ (HR A-Bukhari 3474)

            Berdasarkan hadis-hadis di atas, kita dapat  menyatakan bahwa di era pandemi, Rasulullah SAW telah mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga diri dan menjaga jarak sosial.  Dalam konteks keindonesian, pengalaman kesehatan di era kenabian diterjemahkan  dengan PSBB sebagai kebijakan dalam menangani COVID-19.

Covid-19 dan Instruksi PSBB

Penyakit Virus corona (Covid-19) adalah penyakit menular yang menyerang pernafasan. Sebagian besar orang yang tertular Covid-19 akan mengalami gejala ringan hingga sedang, dan akan pulih tanpa penanganan khusus. Virus ini membuat seluruh dunia geger. Karena virus ini dapat menular dengan cepat hanya dengan jarak yang dekat, berjabatan tangan, percikan air liur (droplet) dari orang yang besin, penggunaan alat makan dan minum secara bersamaan dan apapun yang berinteraksi secara  langsung dengan orang yang tertular virus ini.

Kita dapat tertular saat menghirup langsung udara yang mengandung virus jika kita berada terlalu dekat dengan orang yang sudah terinfeksi COVID-19 kita juga dapat tertular jika menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung atau mulut. Karena penyebaran virus ini yang sangat cepat sehingga seluruh dunia mengeluarkan kebijakan masing-masing untuk negaranya. Sama halnya dengan Indonesia.

Demi menjaga keutuhan dan keselamatan negara, pemerintah melakukan berbagai macam upaya, di antaranya dengan dikeluarkannya status gawat darurat bencana. Karena covid-19 ini merupakan bencana nasional non alam. Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Di mana PSBB merupakan peraturan yang diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan (Kemenkes) dalam rangka percepatan penanganan COVID-19 agar bisa dilaksanakan di berbagai daerah.

Aturan PSBB tercatat dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020.  PSBB melingkupi pembatasan sejumlah kegiatan penduduk tertentu dlam suatu wilayah yang diduga terinfeksi COVID-19. Pembatasan tersebut meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan sosial budaya, pembatasan kegiatan keagamaan,  pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum, pembatasan kegiatan roda trasnportasi, dan pembatasan kegiatan lainnya khususnya terkait aspek pertahanan dan keamanan.

Pelaksanaan PSBB ini dapat dimaknai sebagai upaya kita bersama untuk menjaga keamanan dan keutuhan aktivitas kebangsaan, khususnya dalam konteks kesehatan. Meskipun di sisi lain, PSBB memiliki dampak dan pengaruh yang sangat besar, salah satunya ialah dampak perekonomian, karena masyarakat diminta untuk tidak meninggalkan rumah kecuali dalam keadaan terdesak. Hal ini menyebabkan para pedanggang, buruh, ataupun para pelaku usaha UMKM mulai sedikit demi sedikit kehilangan pembeli sehingga omset penjualan menurun.

Lebih dari itu,  aktivitas perekonomian dengan bisnis skala besar pun ikut menurun omsetnya secara drastis. Misalnya, Mall, Karaoke, Cafe, Restoran, bahkan hingga ke sektor pariwisata. Namun yang perlu disadari bersama adalah bahwa PSBB dilakukan demi kebaikan bersama agar dapat memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: