Program Keluarga Berencana ( KB ) Dalam Pandangan Maqasid Syari’ah

Keluarga Berencana ( KB ) merupakan salah satu program pemerintah yang dibuat dengan maksud untuk menyeimbangkan antara kebutuhan dan jumlah penduduk. Program ini tentu saja dibuat dengan tujuan yang baik, demi kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mencapai tujuan didalam pernikahan nantinya bisa tercapai.

Dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Pasal 1 disebutkan bahwa “ Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Apabila tujuan pernikahan telah tercapai tentu saja nantinya bisa melahirkan keturunan yang kuat dalam ilmu pengetahuan, sehat jasmani dan rohani, dan kuat secara perekonomian. Sehingga didalam keluarga terbentuklah sebuah keluarga yang bahagia, sejahtera lahir dan batin.

Keluarga Berencana ( KB ) diatur dalam hukum positif yaitu pada Peraturan Pemerintah No. 87 Tahun 2014 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga, keluarga berencana dalam sistem informasi keluarga. Untuk konteks di zaman sekarang dengan meledaknya jumlah penduduk dan semakin sempitnya lapangan pekerjaan, hal ini tentu saja akan menimbulkan problem di dalam keluarga dan pemerintah. Al hasil pemerintah membuat peraturan demi mengatasi hal tersebut.

Sedangkan Keluarga Berencana di dalam Al-Qur’an dan hadist tidak ada yang memerintahkan dan juga tidak adadalil yang melarangnya, sehingga program Keluarga Berencana ( KB ) masih menjadi pro dan kontra dikalangan masyarakat.

Namun menurut Imam Al-Ghazali membuat rumusan baru untuk memelihara tujuan syara’. Imam Al-Ghazali membagi tujuan syara’ menjadi 5, yakni menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

  1. Tujuan Agama : Merupakan tujuan yang paling utama Hukum Islam, sebab  agama pedoman manusia.
  2. Tujuan Jiwa  / Pemeliharaan Jiwa : Islam mewajibkan umatnya untuk memelihara hak manusia untuk hidup dan mempertahankan hidupnya.
  3. Pemeliharaan Akal : Akal sangat penting, dalam Islam akal digunakan manusia untuk kebutuhan Hablumminallah dan juga untuk kebutuhan sehari hari yaitu Hablumminannas.
  4. Memelihara Keturunan : Menjaga dan memelihara keturunan didalam menjalani kehidupan demi tercapainya sebuah tujuan.
  5. Memelihara Harta : Menurutajaran Islam adalah pemberian dari Allah agar manusia dapat mempertahankan hidup.

Dalam konteks Maqasid Syari’ah memelihara keturunan yaitu sebuah hubungan harus di ikat dengan sebuah perkawinan/pernikahan yang sah, bukan melalui perzinaan yang menyebabkan kerugian bagi manusia.  Dalam menjaga keturunan (Hifdz Al-Diin) orang tua bertanggung jawab memberikan pendidikan keagamaan bagi kehidupan anak dimasa depan. Hal ini sangat penting peran norang tua didalam mendidik anaknya. Karena berawal dari dalam keluarga, nantinya akan berdampak bagi kemajuan suatu bangsa, sehingga bisa menciptakan kemaslahatan yang lebih besar.

Keturunan akan merasa bahagia apabila tidak terbebani akan banyaknya anggota keluarga. Jika suatu keluarga terbebani akan hal tersebut maka dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi keberlangsungan suatu keluarga.

Muhamad Fikri Aziz

Mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: