Poligami, Apakah Cerai Atau Lanjut ?

Suatu keluarga akan terbentuk setelah adanya perkawinan. Perkawinan itu sendiri yaitu ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga (RumahTangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, (menurut UU No.1 Tahun 1974).

Dengan terbentuknya sebuah keluarga maka akan secara otomatis melahirkan sebuah hukum, yang disebut dengan hukum keluarga. Dimana hukum itu untuk kebutuhan manusia itu sendiri, manusia dengan lingkungan sosial. Tentu saja, membutuhkan hukum yang mengatur itu semua. Hukum keluarga sangat penting untuk dipelajari, karena pada hakikatnya semua orang memiliki keluarga.

                        Berdasarkan pembahasan diatas, adapun ruang lingkup meliputi :

  1. Perkawinan
  2. Perceraian
  3. Harta benda dalam perkawinan
  4. Kekuasaan orangtua
  5. Pengampuan
  6. Perwalian

Hukum keluarga adalah suatu produk karena adanya suatu ikatan perkawinan. Perkawinan merupakan hubungan hukum yang menimbulkan hak dan kewajiban oleh seorang suami dan istri, yang dimaksud hak disini yakni milik/ dapat dimiliki oleh suami dan istri. Sedangkan kewajiban yaitu sesuatu yang dilakukan oleh kedua belah pihak istri/ suami untuk memenuhi suatu hak.

                    Sedangkan perkawinan itu ada yang di namakan poligami. Poligami adalah perkawinan seorang suami dengan lebih dari seorang istri dalam waktu yang bersamaan, lawan dari poligami adalah monogami. Dalam hukum islam poligami dibatasi sampai maksimal empat orang istri, ada dua ayat yaitu QS. Al-Nisa’ (4) : 3 dan QS. Al-Nisa’ (4) : 129. Poligami sudah berjalan seiring perjalanan sejarah umat manusia. Terdapat perbedaan pendapat para ulama’ mengenai ketentuan dan hukum poligami. Diantaranya ada yang menyetujui poligami dengan persyaratan agak longgar dan persyaratan ketat. Diantaranya ada juga yang melarang poligami, kecuali karna terpaksa (rukhsoh) dalam kondisi tertentu.

                    Pelaksanaan poligami menurut hukum-hukum Islam harus didasari oleh terpenuhinya keadilan dan kemaslahatan diantara pihak yang terlibat. Namun, kenyataannya banyak poligami yang tidak mengindahkan ketentuan hukum tersebut sehingga masih jauh dari yang diharapkan.

Sejarah poligami

                    Sebenarnya poligami sudah meluas berlaku pada banyak bangsa sebelum Islam sendiri datang. Dan tidak benar, jika dikatakan bahwa Islamlah yang mula-mula membawa system poligami. Sebenarnya system poligami ini hingga dewasa ini masih tetap tersebar pada beberapa bangsa yang tidak beragama Islam, seperti : Penduduk asli Afrika, Hindu, Cina dan Jepang.

                    Dalam kompilasi hukum Islam memperbolehkan poligami. Tetapi, dengan aturan yang ketat, mengharuskan mengahadirkan alasan-alasan yang harus ada izin istri :

  1. Harus dengan izin istri
  2. Mampu secara financial
  3. Harus berlaku adil yakni adil dalam pembagian waktu, adil dalam nafkah, adil dalam tempat tinggal, adil dalam biaya anak.

                    Islam tidak menjadikan poligami sebagai sebuah kewajiban atau hal yang disunahkan bagi kaum muslimin, tetapi hanya menjadikannya sebagai sesuatu yang mubah, yakni boleh dilakukan jika memang dipandang perlu. Karena poligami merupakan hukum syariah yang tercantum didalam al-Quran dan Hadis Nabi SAW secara jelas, maka penentangan atau penolakan terhadap kebolehan hukum poligami sebenarnya merupakan penentangan terhadap  hukum Allah SWT, dan inilah yang sebenarnya terjadi. Kebolehan untuk melakukan poligami tentu tidak serta merta seorang suami bebas melakukan poligami tanpa memperhatikan aturan-aturan yang mesti dipenuhinya.

                    Dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 58 ayat (1) bahwa suami yang akan beristeri lebih dari seorang harus memperoleh izin Pengadilan Agama, harus pula dipenuhi syarat-syarat yang ditentukan pada pasal 5 UU No. 1 tahun 1974, yaitu: a. Adanya persetujuan isteri. b. Ada kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak mereka

                    Dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 57 bahwa Pengadilan Agama hanya memberikan izin kepada seseorang suami yang akan beristeri (poligami) lebih seorang apabila : 1. Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai seorangistri; 2. Isteri mendapatkan cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan; 3. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan. Atas dasar ketentuan diatas, tentu sedikit berbeda dengan ketentuan poligami yang berlaku dalam Islam, dimana Islam hanya mensyaratkan adil sebagai syarat melakukan poligami.

                    Keadilan yang diwajibkan atas seorang suami adalah bersikap seimbang diantara para istrinya sesuai dengan kemampuannya, yaitu dalam hal bermalam atau member makan, pakaian, tempat tinggal, dan lain-lain, bukan dalam masalah cinta dan kasih sayang yang memang berada diluar kemampuan manusia. Bersikap adil sebagai syarat utama dalam poligami tidak mudah, karena dalam perkawinan poligami terdapat hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh suami kepada istrinya yang lebih dari satu tersebut. Hal ini tidak akan mudah terpenuhi apabila suami tidak memiliki sifat dan sikap yang cukup layak untuk melakukan poligami. Bagi suami yang telah melakukan poligami, maka ia diwajibkan untuk memenuhi hak-hak istrinya. Adapun diantara hak setiap istri yang dipoligami adalah sebagai berikut:

  1. Adil adanya kediaman sendiri setiap istri memiliki hak untuk mempunyai kediaman sendiri.
  2. Adil masalah giliran setiap isteri harus mendapat jatah giliran yang sama. Ketika dalam bepergian, jika seorang suami akan mengajak seorang isterinya, maka dilakukan undian untuk menentukan siapa yang akan ikut serta dalam perjalanan.
  3. Adil menyamakan nafkah setiap isteri memiliki hak untuk mempunyai rumah sendiri-sendiri hal ini berkonsekuensi bahwa mereka makan sendiri-sendiri, namun bila isteri-isteri tersebut ingin berkumpul untuk makan bersama dengan keridhaan mereka maka tidak apa-apa.

Wahyu Kantiasih

Penulis adalah mahasiswa yang suka masak dan bersepeda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: