Pesan Idul Fitri di Tengah Covid-19

Lebaran atau momentum idul fitri dapat dimaknai kemenangan sejati karena umat Islam di seluruh dunia merayakannya dengan gegap gempita. Gema takbir berkumandang. Terkadang, takbir keliling dilakukan oleh masyarakat di malam hari untuk merayakan hari kemenangan sebulan berpuasa. Pagi harinya melaksanakan shalat id tak kadangan masyarakat banyak yang memakai pakaian serba baru, serta makan dengan makanan khas dan istimewa. Setelah itu, bersiap pergi untuk mengunjungi sanak keluarga dan ada juga yang merencanakan liburan ke wahana indah nan eksotis. Bahagia rasanya menjadi seorang Muslim ketika dapat merayakan kembali hari yang fitri. Setelah melaksanakan ibadah puasa bulan Ramadhan. Kebahagiaan itu terasa istimewa karena perayaan idul fitri hanya dirayakan oleh orang khusus. Orang yang berpuasa selama satu bulan penuh. Hal ini sesuai janji Allah SWT dapat meraih kemenangan sejati (Q.S. 75:10; 97: 3; 2: 185). Kemenangan sejati dapat diraih apabila idul fitri dimaknai dengan rasa suka cita.

Namun meraih kemenangan sejati tidak semudah membalikan kedua telapak tangan. Ada upaya yang patut dilakukan oleh seorang Muslim yang berpuasa secara sungguh-sungguh. Karena itu, puasa di bulan suci Ramadhan seraya melatih diri. Latihan untuk menahan dari yang bersifat materil agar tidak terlena. Menahan lapar, haus, dahaga, hubungan seks, dan lain-lain dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Secara bahasa, shaum (puasa) sinonim dengan imsak yang artinya menahan. Untuk itu, puasa Ramadhan merupakan sarana manusia berlatih diri. Target utamanya, manusia menahan yang halal saja mampu, apalagi yang diharamkan. Sarana latihan ini ibarat siswa sekolah akan menghadapi ujian nasional. Seminggu sebelum ujian, siswa digembleng belajar materi ujian, mengurangi jam bermain, dan tetap fokus agar dapat lulus ujian nasional.

Puasa Ramadhan memang tidak sekedar seperti siswa tadi. Namun manusia berharap lulus ujian Allah SWT. Agar meraih magfirah (ampunan) segala dosa-dosa, dilimpahkannya rahmah (rahmat), dan itqun minan nar (pembebasan dari api neraka). Tiga ujian ini dapat diraih dengan satu kata, “bertakwa” (Q.S. 2: 183). Takwa tidak hanya sekedar menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Setidaknya, orang yang bertakwa memilki tiga ciri-ciri (Q.S. 3: 134). Pertama, gemar menyedekahkan sebagian hartanya dalam keadaan sulit maupun senang. Orang bertakwa tidak hanya sibuk dengan urusan dirinya sendiri. Namun harus juga memiliki empati dan kesadaran sosial yang tinggi. Berbagi dengan sama dari sebagian harta yang dimiliki. Berderma adalah jalan untuk meraih kemenangan sejati. Kedua, mampu menahan amarah. Orang yang bertakwa mampu menahan amarah dari godaan yang dapat terlampiaskannya hawa nafsu. Untuk itu, puasa merupakan sarana manusia agar dapat menahan hawa nafsu dari perbuatan yang bisa menimbulkan amarah. Ketiga, orang bertakwa mampu memaafkan orang lain. Sebaik-baiknya orang adalah mampu memaafkan orang lain walaupun pernah disakiti. Jika tiga ciri dijalankan dengan baik, kemenangan sejati dapat diraih dihari yang fitri.      

Karena itu, Id dapat dimaknai hari raya. Fathara artinya orang yang berpuasa. Jika digabungkan, orang-orang yang kemarin menjalankan ibadah puasa. Setelah hari suka cita tiba, orang-orang dapat makan dan minum kembali di siang hari. Inilah yang dimaknai fathara (makan pagi). Dengan demikian, zakatul fithr sebenarnya zakat untuk makan di hari raya idul fitri. Itulah makna puasa dan lebaran yang dapat kita ambil hikmahnya.

Namun meraih hikmah tersebut ada rasa yang berbeda. Ada sesuatu yang hilang dari tradisi lebaran di Indonesia. Tradisi mudik lebaran tidak dapat dilaksanakan. Silaturahim kepada sanak keluarga di kampung harus melalui media virtual. Tatap muka dan berjabat tangan juga tak luput dari larangan. Hal ini dilakukan agar tidak menambah penyebaran corona virus—jamak dikenal dengan Covid-19. Di tengah pandemi ini telah mengikis semua kemenangan sejati orang yang merayakan idul fitri. Pertanyaannya, adakah aspek lain yang dapat kita lakukan di tengah pandemi ini?

Sesungguhnya, wabah (tho’un) bukan menjadi halangan. Jika kita merenung kembali dari tiga ciri-ciri orang bertakwa tadi, ada sesuatu yang dapat diraih dengan hakiki. Berdema adalah media yang paling ampuh untuk meraih ridha Allah SWT. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menyumbangkan sebagian harta yang dimiliki kepada lembaga sosial. Apalagi kondisi ekonomi telah membuat daya beli masyarakat semakin menurun derastis. Bahkan angka kemiskinan semakin menghiasi data statistik nasional.

Pada aspek lain, takbir keliling, mudik, berjabat tangan, bertemu sanak keluarga, dan berliburan tidak dapat dilakukan. Ini juga momentum kita untuk meraih derajat ketakwaan yang kedua, menahan amarah dari nafsu. Nafsu untuk bepergian ketempat liburan, di tengah pandemi menguji kita agar menahan hal tersebut. Bukankah ini juga nilai yang dapat kita ambil hikmahnya di tengah wabah ini? Sementara itu juga, memaafkan orang lain sebagai raihan takwa yang ketiga, kita dapat bertemu dengan sanak keluarga melalui media virtual. Bahkan media ini tidak mengenal batas dan ruang. Kita, dimanapun tempatnya, dengan siapapun bahkan hanya sekedar kawan biasa, dengan seksama dapat menyapa dan saling memaafkan. Bukankah kondisi ini dapat mempermudah kita untuk meraih derajat takwa yang hakiki? Wallahu’alam

Oleh karena itu, wabah Covid-19 bukan menjadi arang yang melintang. Namun seyogyanya kita dapat memanfaatkan keadaan dengan sungguh-sungguh. Tidak ada yang perlu kita sesali dan juga ratapi. Semua telah diatur oleh Sang Maha Pencipta. Aspek lain juga agar kita dapat lebih mawas diri. Selain itu, kita juga dapat menjaga dari hal yang dapat mengurangi derajat ketakwaan kepada Allah SWT. Semoga kita semua menjadi manusia yang pandai bersyukur atas nikmat yang diberikan!   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: