“Pernikahan Dini Sebagai Alternatif untuk Menjamin Keberlangsungan Hidup si Anak?”

Beberapa tahun yang lalu sekitar tahun 2017 terjadi kasus yang mengejutkan masyarakat. Dikutip dari merdeka.com bahwasannya terdapat 375 anak dibawah umur yang menikah pertahunnya. Berdasarkan survey tersebut pula didapatkan kesimpulan bahwa pernikahan dibawah umur paling banyak terjadi di daerah Jawa Tengah. Tercatat terdapat sekitar 30.000 an anak yang ingin melakukan dispensasi nikah dan tentu saja dari pihak pengadilan tidak serta merta mengabulkannya. Berkenaan dengan hal itu, meskipun angka permohonan dispensasi nikah sudah tinggi masih banyak juga anak yang melakukan nikah dibawah tangan (nikah sirri). Dari penelitian yang ada rata-rata pernikahan dini terjadi di lingkungan pedesaan. Hal itu dipengaruhi oleh pemikiran orang desa yang cenderung konservatif. Mereka berpendapat bahwa dengan mereka menikahkan anak mereka maka akan mengurangi beban ekonomi. Alasan lain dari orangtua yang ingin segera menikahkan anaknya adalah karena si anak hamil, namun penyebab ini hanya  menempati angka 10% dalam artian tidak banyak orangtua yang menikahkan anaknya yang masih dibawah umur dengan alasan si anak hamil terlebih dahulu.

Di Indonesia sendiri mengenal adanya Dispensasi Nikah. Dalam UU No 16 Tahun 2019 disebutkan bahwa pria atau wanita yang akan menikah haruslah berumur lebih dari 19 tahun. Dispensasi nikah adalah pemberian hak kepada seseorang yang akan menikah akan tetapi belum mencapai usia nikah yang disesuaikan dengan undang-undang. Untuk pengajuannya sendiri, berbeda halnya dengan pencatatan perkawinan yang harus menghubungi KUA, jika akan mengajukan dispensasi nikah maka harus mengajukan permohonan ke Pengadilan Agama bagi muslim dan Pengadilan Negeri bagi non muslim. Jika dilihat dari kejadian tersebut mengenai tingginya angka  nikah dini harus diteliti mengapa orangtua mendorong anaknya untuk segera menikah? Ataukah nikah tersebut berdasarkan kehendak anak? perlu kita ketahui bahwa penyebab adanya nikah dini bukan melulu mengenai hal negatif. Terdapat kasus bahwa terdapat kasus dimana nikah dini dianggap sebagai hal yang terbaik seperti kasus beberapa orangtua yang mengkhawatirkan anaknya yang beranjak dewasa terjerumus kedalam hal-hal negatif. Seperti halnya, tidak perlu dipungkiri anak-anak dengan sangat mudahnya dapat mengakses internet. Sedangkan kita tahu tidak semua hal yang terdapat dalam internet merupakan hal yang positif. Kemudahan mengakses internet memudahkan pula seseorang mengakses suatu hal yang berbau pornografi dan sebagainya. Berita-berita dari internet pun juga tidak bisa disaring lain halnya dengan siaran di televisi. Yang dapat menyaring hanyalah kita sendiri sebagai penikmat internet. Sedangkan anak dibawah umur masih belum bisa menyaring mana hal yang benar dan mana hal yang salah.

Dengan menikahkan mereka dianggap mampu menanggulangi hal-hal tersebut karena menganggap bahwa anak suadah ada yang menjaga. Meskipun kebanyakan masyarakat berpendapat negatif mengenai nikah dini. Namun, ada beberapa kasus dimana masyarakat memaklumi  adanya anak yang nikah dibawah umur dengan berdasar bahwa si anak yang meskipun secara umur masih dibawah yang ditentukan oleh undang-undang akan tetapi dia dianggap lebih dewasa secara pemikiran dan dianggap mampu berumah tangga meskipun di usia belia. Sebaliknya, banyak terdapat komentar negatif yang muncul dari masyarakat karena masyarakat belum melihat adanya tanda-tanda kedewasaan pada anak Mengenai hasil survey yang telah dilakukan tersebut ada hal yang membuat saya kurang sepakat dengan alasan atau penyebab orangtua segera ingin menikahkan anaknya adalah agar meringankan beban. Dalam hal ini si anak cenderung dipaksakan untuk menikah. Apakah anak harus dianggap sebagai beban sehingga menjadikan orangtua ingin menyegerakan menikahkan anaknya?. sebagai seorang perempuan yang dalam hal ini menjadi obyek saya kurang menyetujui akan hal tersebut. Mengapa saya mengatakan perempuan sebagai obyek karena memang dalam hal ini perempuanlah yang menjadi sasaran untuk melakukan nikah dini. Beberapa orangtua berpendapat bahwa agar anak perempuannya segera dinikahkan dan segera ikut suaminya sehingga sedikit banyak akan mengurangi beban keluarga. Dalam hal ini, adanya suatu pernikahan terkesan terlalu dipaksakan. Tidak sedikit perempuan yang dipaksa menikah dengan laki-laki yang bukan pilihannya. Apalagi perempuan dibawah umur yang basicnya tidak mengetahui apa-apa walhasil hanya bisa pasrah dan menurut pada pilihan orangtua nya. Menikah dibawah umur sebenarnya tidak dianjurkan karena secara biologis dan psikis si anak belum siap. Kehamilan pada perempuan yang belum matang secara usia juga dapat mengakibatkan lebih banyak resiko. Menikah dibawah umur juga dapat merampas hak belajar atau hak  mendapatkan pendidikan. Pemerintah sendiri sudah mengupayakan dengan mengadakan program wajib belajar 9 tahun yang sedikit banyak diharapkan mampu menekan angka nikah dibawah umur. Di daerah perkotaan para orangtua sudah berpikiran bahwa akan menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Lain haknya dengan penduduk desa yang berpikiran konservatif dan mengkhawatirkan jika anaknya menjadi perawan tua.

Tingginya angka nikah dibawah umur juga menimbulkan tingginya angka perceraian karena ada beberapa kasus menikah dini dengan suatu keterpaksaan yang mengakibatkan si anak menjalani kehidupan berumah tangga karena suatu keterpaksaan dan akhirnya membuat keluarga menjadi tidak harmonis yang kemudian membuat mereka memilih untuk bercerai. Dalam hal ini peran peran orangtua dan masyarakat sangat diperlukan dalam menanggulangi masalah nikah dibawah umur. Perlunya pengetahuan tentang dampak-dampak dan resiko-resiko apa saja yang akan didapatkan oleh seseorang ketika memutuskan untuk menikah dini juga perlu untuk diberitahukan.

Afida Ilma Maula

Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: