Perceraian Serta Dampaknya Bagi Anak-Anak

Pengertian perceraian menurut bahasa Indonesia berarti “pisah” dari kata dasar “cerai”. Menurut istilah (syara’) perceraian merupakan sebutan untuk melepaskan ikatan pernikahan. Sebutan tersebut adalah lafadz yang sudah dipergunakan pada masa jahiliyah yang kemudian digunakan oleh syara’. Serta Dalam istilah Fiqh perceraian dikenal dengan istilah “Talak” atau “Furqah”. Talak berarti membuka ikatan atau membatalkan perjanjian. Sedangkan Furqah berarti bercerai yang merupakan lawan kata dari berkumpul. Perkataan Talak dan Furqah mempunyai pengertian umum dan khusus. Dalam arti umum berarti segala macam bentuk perceraian yang dijatuhkan oleh suami, yang ditetapkan oleh hakim. Sedangkan dalam arti perceraian adalah penghapusan perkawinan dengan putusan hakim atas tuntutan salah satu pihak dalam perkawinan itu

Secara ideal suatu perkawinan diharapkan dapat bertahan sumur hidup,  tetapi tidak selamanya pasangan suami isteri dapat menjalani, kehidupan yang ma’ruf, sakinah mawwadah warrahmah. Dalam perjalanan perkawinan kadang pasangan suami isteri menemui masalah atau kendala-kendala yang menyebabkan terjadinya perceraian. Perceraian tidak mudah untuk dilakukan, karena harus ada alasan-alasan kuat yang mendasarinya.

 Tahun-tahun Rawan Perceraian  dalam Pernikahan.

 Sesungguhnya setiap saat setelah bulan madu adalah merupakan periode yang rawan bagi setiap pasangan pernikahan. Untuk itulah diperlukan kewaspadaan, diperlukan komitmen dan kesungguh-sungguhan bagi setiap pasangan nikah untuk saling memupuk , memelihara dan saling membahagiakan.  Sesungguhnya ada tiga Periode  dalam pernikahan  yang memiliki  tingkat kerawanan  melebihi tahun-tahun yang lain,  hal ini dikarenakan  memuncaknya perbedaan yang menyerap lebih banyak energi pasangan nikah untuk saling menyesuaikan diri. Adapun tiga periode yang sesungguhnya kita patut sadari dan waspadai, dan patut kita antisipasi itu adalah :

  1.  Periode usia nikah 1-5 tahun

adalah  periode dimana  fondasi pernikahan  sesungguhnya  belum cukup kuat.  Dan justru pada usia 1-4 tahun itu  tuntutan  untuk saling mencocokan dan menyesuaikan diri itu menyedot begitu banyak energi pasangan suami istri yang masih baru ini.  Mereka dituntut sanggup menyesuaikan diri dengan pasangannya, dengan mertua dengan saudara ipar, dengan kerabat, dan dengan pekerjaan atau karier. Bila mereka sukses dalam saling menyesuaikan diri akan menjadi keluarga yang semakin kokoh. Namu bila mereka gagal untuk  menyesuaikan diri hal itu akan menyebabkan problema semakin meruncing dan tidak terselesaikan atau perceraian.

  •  Periode Puber kedua atau Usia Paruh baya

yaitu  periode usia pernikahan 15-20 tahun. Adalah  periode dimana usia masing masing suami istri  antara 40-50 tahun. Apa yang sesungguhnya terjadi yang menyebabkan perkawinan menghadapi usia kritis  pada periode ini? Anak-anak mulai menginjak usia remaja, dan kenakalan remaja seringkali menyebabkan perbedaan cara didik dan cara mendisiplin anak  yang mengakibatkan perbedaan semakin tajam antara suami istri, disinilah krisis yang baru dimulai. Bukan itu saja saat ini karir biasanya sudah mantap, keuangan mantap, dan biasanya orang tua dan  mertua yang mengawasi kita sudah mulai meninggal, disaat yang sama hubungan suami istri biasanya mulai merenggang karena istri mulai masuk masa menopause dan suami memasuki masa puber kedua. Dan disinilah terjadi banyak godaan perselingkuhan.

  •   Masa Pensiun atau disebut juga masa sarang kosong

yaitu periode 30-35 tahun usia pernikahan. Masa dimana anak-anak pada umumnya sudah menikah dan meninggalkan rumah. Pasangan suami istri yang selama ini belum biasa saling memaafkan, menghargai dan menyesuaikan diri dengan baik maka saat memasuki masa pensiun dan harus tinggal berduaan selama 24 jam sehari merupakan suatu kesulitan besar yang mengakibatkan pasangan semakin menjauh diusia senja.

Berdasarkan temuan Mark Cammak pada tahun 1950-an angka perceraian di Asia Tenggara, termasuk Indonesia tergolong yang paling tinggi di dunia. Pada dekade itu dari 100 perkawinan 50 diantaranya berakhir dengan perceraian.Pada tahun 2009 perceraian mencapai 250 ribu. Tampak terjadinya 5 kenaikan dari tahun-tahun sebelumnya yang berada hanya pada kisaran 200 ribu kasus. Ironisnya 70% perceraian diajukan oleh pihak isteri atau gugat cerai. Berikut ini adalah data tahun 2010 dari Dirjen Bimas Islam Kementrian Agama RI, yaitu dari 2 juta orang yang menikah setiap tahun se-Indonesia, maka ada 285.184 perkara yang berakhir dengan perceraian pertahuan se-Indonesia. Sehingga dapat dikatakan tren perceraian di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun

Sebab musabab perceraian

Adapun faktor perceraian di Indonesia disebabkan oleh banyak hal, mulai dari perselingkuhan, ketidakharmonisan, sampai masalah ekonomi. Faktor ekonomi merupakan factor terbanyak dan yang unik adalah 70%  yang mengajukan perceraian adalah istri dengan alasan suami tidak mampu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga

  1. Salah satu atau dua melakukan ­zina­ ­­atau meminum Alkohol hingga mabuk atau Penjudi atau sifat buruk lainya yang sukar disembuhkan
  2. Salah satu atau dua pergi tanpa izin selama 2 tahun berturut-turut diluar kepentinganyang umum serta diluar kemampuanya
  3. Salah satu mendapatkan hukuman penjara 5 tahun atau lebih setelah pernikahan.
  4. Salah satu melakukan penganiyaan atau kekejaman sehingga membahayakan pihak lain
  5. Salah satu medapat penyakit/aib/cacat sehingga tidak dapat memenuhi kewajiban sebagai pasangan
  6. Diantara mereka sudah tidak ada keharmonisan dalam berumah tangga
  7. Suami melanggar talak taklik (taklik talak)
  8. Salah satu murtad sehingga tidak ada keharonisan dalam berumah tangga

Dari beberapa fenomena dan alasan inilah, penulis melihat bahwa masalah ini layak untuk dijadikan sebuah karya dalam bentuk artikel

Dampak Perceraian bagi anak yang ditinggal oleh orang tua bercerai (broken home)

Menurut Gerungan bahwa sebagian besar pada anak-anak berasal dari keluarga yang sudah tidak utuh strukturnya. Keluarga yang pecah ialah keluarga dimana terdapat ketiadaan salah satu dari orang tua karena kematian, perceraian, hidup berpisah, untuk masa yang tak terbatas ataupun suami meninggalkan keluarga tanpa memberitahukan kemana ia pergi. Hal ini disebabkan karena:

1. Anak kurang mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan tuntutan pendidikan orang tua, terutama bimbingan ayah, karena ayah dan ibunya masing-masing sibuk mengurusi permasalahan serta konflik batin sendiri.

2. Kebutuhan fisik maupun psikis anak remaja menjadi tidak terpenuhi, keinginan harapan anak-anak tidak tersalur dengan memuaskan, atau tidak mendapatkan kompensasinya.

3. Anak-anak tidak mendapatkan latihan fisik dan mental yang sangat diperlukan untuk hidup susila. Mereka tidak dibiasakan untuk disiplin dan kontrol diri yang baik.

Sebagai akibat bentuk pengabaian tersebut, anak menjadi bingung, resah, risau, malu, sedih, sering diliputi perasaan dendam, benci, sehingga anak menjadi kacau dan liar. Dikemudian hari mereka mencari kompensasi bagi kerisauan batin sendiri diluar lingkungan keluarga, yaitu menjadi anggota dari suatu gang kriminal; lalu melakukan banyak perbuatan brandalan dan kriminal.


                                                 Dampak perceraian bagi anak di usia remaja

Bagi kebanyakan remaja, perceraian orangtua membuat mereka kaget sekaligus terganggu. Masalah yang ditimbulkan bagi fisik tidak terlalu tampak bahkan bisa dikatakan tidak ada karena ini sifatnya fisikis, namun ada juga berpengaruh pada fisik setelah si remaja tersebut mengalami beberapa akibat dari tidak terkendalinya sikis atau keperibadiannya yang tidak terjaga dengan baik, salah satu contoh si remaja karena seringkali meminum-minuman beralkohol maka lambat laun si remaja akan mengalami penurunan system kekebalan tubuh yang akhirnya menimbulkan sakit.

Keadaan tersebut jelas akan mempengaruhi psikologi remaja untuk keberlangsungan kehidupannya, ada beberapa kebutuhan utama remaja yang penting untuk dipenuhi yaitu:

1.      Kebutuhan akan adanya kasih sayang

2.      Kebutuhan akan keikutsertaan dan diterima dalam kelompok

3.      Kebutuhan untuk berprestasi

4.      Kebutuhan akan pengakuan dari orang lain

5.      Kebutuhan untuk dihargai

Kehidupan mereka sendiri berkisar pada berbagai masalah khas remaja yang sangat nyata, seperti bagaimana menyesuaikan diri dengan teman sebaya, apa yang harus dilakukan dengan seks atau narkoba, ataupun isu-isu kecil tetapi sangat penting, seperti jerawat, baju yang akan dikenakan, atau guru yang tidak disenangi. Remaja sudah merasa cukup sulit mengendalikan kehidupan mereka sendiri sehingga pasti tidak ingin diganggu dengan kehidupan orangtua yang mengungkapkan perceraian. Mereka tidak memiliki ruang atau waktu lagi terhadap gangguan perceraian orangtua dalam kehidupan mereka.

Selain itu, remaja secara psikologis sudah berbeda dari sebelumnya. Meskipun masih bergantung pada orangtua, saat ini mereka memiliki suara batin kuat yang memberitahu mereka untuk menjadi mandiri

Auna Ahmad Fadil

Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum dan Ilmu Budaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: