Perceraian Awal Buruk Psikologis Anak

Pernikahan merupakan awal mula adanya sebuah keluarga, dengan melalui berbagai ritual yang perlu dipersiapkan sebelum melangsungkan pernikahan, seperti halnya melamar dan menentukan hari bahagia. Pernikahan bukan hanya sebuah kontrak sosial namun juga terdapat konsep ibadah di dalamnya.  Dalam nilai ibadah seorang istri apabila melayani suaminya akan mendapatkan imbalan berupa pahala begitu pula dengan seorang suami yang memenuhi nafkah untuk keluarganya. Adanya sebuah pernikahan akan mengikat keduanya dalam bingkai keluarga. Dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Bab IV Pasal 30 menyebutkan bahwa suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar susunan masyarakat. Jadi sebuah keluarga menjadi lapisan masyarakat yang paling kecil karena tanpa keluarga tidak akan terbentuk lingkungan sosial.

Keluarga merupakan tempat pendidikan yang pertama bagi anak, dimana di dalam sebuah keluarga terdapat orang-orang yang mengajarkan hal-hal awal dalam hidup, mulai dari cara berpakaian berbicara, berinteraksi,  dan lain sebagainya. Keluarga juga tempat anak menghabiskan waktu-waktunya untuk bermain, bercanda dan belajar dari hal-hal yang ada di lingkungan mereka. Sebuah keluarga akan dirasakan seorang anak apabila mereka merasa memiliki kenyamanan untuk kembali kepada kelurganya sebagai tempat berkeluh kesah. Semua anak menginginkan keluarga yang bahagia sejahtera kehidupannya. Namun nasib setiap anak berbeda-beda. Di tengah kita banyak orang tua yang memilih berpisah dari pasangan mereka karena faktor tertentu. Sebagai seorang anak tidak mungkin menginginkan perpisahan terjadi pada keluarganya. Selain itu dampak perceraian ini pasti akan berdampak pada terganggunya jiwa anak. Karena dari orang tua anak belajar kasih sayang, anak akan merasa bingung mencari dimana selain kepada mereka, karna seorang anak hanya akan bersandar kepada kedua orang tuanya saja terlebih bagi anak yang berumur belia.

Di tengah masyarakat banyak keluarga yang harmonis karena kedua orang tua saling menjalankan tugas dan kewajiban masing-masing. Namun bagaimana dengan orang tua yang kurang mampu dalam tugas dan kewajibannya. Mereka yang kurang mampu memenuhi tugas dan kewajibannya akan saling menyalahkan karena banyak faktor masalah yang mucul seperti halnya masalah ekonomi. Contoh halnya suami yang kurang mampu memenuhi nafkahnya, istri yang selalu meminta untuk dipenuhi kebutuhan nafkahnya. Dari hal tersebut akan muncul pertengkaran yang menimbulkan masalah. Sang anak yang mengetahui kedua orang tuanya bertengkar akan mengikuti perilaku kedua orang tuanya dalam bertengkar mungkin dengan membentak atau menyalahkan. Dari masalah kedua orang tua tersebut apabila tidak mampu mengatasi maka akan berujung pada sebuah perceraian.

Perceraian bukanlah suatu hal yang tabu di lingkunga masyarakat, banyak disekitar kita yang menyelesaikan masalah keluarganya dengan sebuah perceraian. Menurut Holmes dan Rahe, perceraian adalah penyebab stres kedua paling tinggi, setelah kematian pasangan hidup. Perceraian merupakan hal yang tidak diinginkan siapapun karena dianggap sebagai sebuah kegagalan. Mengutip dari detik.com pada tahun 2018 hampir setengah juta orang Indonesia  bercerai, yakni sebanyak 419.268 pasangan bercerai yang dari jumlah tersebut inisiatif perceraian oleh laki-laki sebnayak 111.490 orang dan dari pihak perempuan sebanyak 307.778 orang. Orang tua yang bercerai akan lebih siap dibandingkan dengan seorang anak yang tidak tahu menahu tentang kedua orang tuanya. Orang tua yang bercerai akan memikirkan secara matang apabila mereka berpisah. Berbeda dengan anak yang hanya mengikuti kedua orang tuanya. Anak yang dalam hal ini dianggap korban mempunyai psikologis yang berbeda dengan anak yang hidup di lingkungan keluarga yang lengkap dengan kasih sayang yang didapatkan dari kedua orang tuanya.

Menurut UU No.1 tahun 1974 apabila putusan pernikahan karena perceraian mempunyaibeberapa dampak yaitu

  • Dampak hukum terhadap anak, bekas suami/istri dan harta bersama.
  • Dampak cerai dalam hukum adat.
  • Dampak cerai dalam hukum agama.

Dari beberapa dampak diatas dapat kita lihat, bahwa perceraian merupakan jalan terahir yang diambil oleh suami dan istri untuk menyelesaikan masalah dan mereka juga siap atau setuju untuk menerima dampak yang ditimbulkan dari jalan yang mereka pilih. Karena dampak dari perceraian tidak hanya berdampak buruk pada kedua pihak yang menjalankan (suami& istri). Namu, justru anak dari orang tua yang bercerai yang akan memiliki dampak besar salah satunya yaitu terganggunya perkembangan psikologi pada anak. Dengan teranggunya jiwa anak mereka cenderung akan mudah mengalami depresi dan mereka akan lebih tertekan dan terisolasi. Hal ini disebabkan karena seorang anak berasumsi bahwa kedua orang tuanya akan terus bersama dan anak kurang mengerti mengenai perceraian. Anak akan merasa kaget dengan perpisahan dan akibat-akibat yang ditimbulkan. Kasih sayang yang biasa didapatkan secara tiba-tiba menjadi tidak utuh. Karena merasa tertekan dan kurang mendapatkan kasih sayang, akibatnya anak akan merasa depresi. Anak merupakan mahluk yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya. Selain itu anak merupakan bagian dari keluarga, dan keluarga memberi kesempatan bagi anak untuk belajar tingkah laku yang penting untuk perkembangan yang cukup baik dalam kehidupan bersama.

Selain dapat mengganggu perkembangan psikologi anak, perceraian juga dapat mengganggu proses pendidikan pada anak. Ketika orang tuanya berpisah mengakibatkan perubahan sikap yang berbeda dari orang tua, seorang ayah atau ibu kurang mempedulikan perkembangan anak, dan kurang memperhatikan pendidikan anak, disitu anak akan merasa kesulitan dalam hal pendidikan maupun tumbuh kembangnya, bahkan anak mampu menanamkan perasaan benci, dendam maupun amarah terhadap kedua orang tuanya. Dari sinilah akan mulai munculnya konflik batin pada anak. Tidak hanya dari perasaan anak juga akan mulai memperlihatkan atau mengungkapkannya melalui perubahan tingkah laku pada anak. Semua perubahan sikap anak korban percerian ini terjadi pada fase orang tuanya setelah bercerai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: