Pentingnya Ikhtiar ,Doa & Tawakal di Tengah Pandemi Covid 19

Penyebaran pandemi covid 19 atau menimbulkan berbagai dampak dikalangan masyarakat, terutama bagi kesehatan dan ekonomi.Virus kecil tak kasat mata ini mampu menewaskan ribuan orang di dunia. Bahkan,virus inilah yang menjadi satu-satunya penyebab yang mampu mengunci kawasan Mekkah . Meski sedang diuji dengan pandemi, jangan sampai ujian itu membuat kita semakin lalai dan lupa pada Allah . Kita diberi rasa takut agar kembali kepada Allah. Al-Qur’an mengajarkan banyak cara bagi orang beriman untuk menyikapi sebuah persoalan yang sedang terjadi. Misalnya menyikapi pandemi virus corona dengan tiga hal, yaitu Ikhtiar, doa dan tawakal.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh menyampaikan fatwa pada Senin 16 Maret 2020 bahwa salah satu bunyi fatwanya adalah  setiap orang wajib melakukan ikhtiar menjaga kesehatan dan menjauhi setiap hal yang diyakini dapat menyebabkannya terpapar penyakit, karena hal itu merupakan bagian dari menjaga tujuan pokok beragama (al-Dharuriyat al-Khams).

Apakah usaha atau ikhtiar agar terhindar dari tertular atau menularkan virus Corona memiliki dasar di dalam ajaran Islam?   Jawabnya “Ya”, yakni Surat Ar-Ra’d, ayat 11 sebagai berikut:

  إِنَّ اللهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ  

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”  
berikhtiar adalah kewajiban.

Untuk memperlancar atau mempermudah upaya lahiriah kita mencapai keberhasilan dalam menangani kasus virus Corona, kita juga harus juga melakukan ikhtiar batiniah, yakni berdoa kepada Allah. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Al Mu’min, ayat 60 sebagai berikut:

  ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ  

 Artinya: “Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkannnya.”  

Selain melakukan ikhtiar dan doa kepada Allah dalam upaya kita melepaskan diri dari ancaman virus Corona, ada satu hal lagi yang tidak boleh kita tinggalkan, yakni tawakal. Dalam surat Ali Imran, ayat 159, Allah berfirman:

  فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ  

 Artinya: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertwakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang brtawakal pada-Nya.”

Ketiga hal itu harus kita laksakanakan secara seimbang (tawazun). Tawakal ,doa dan ikhtiar seharusnya menjadi satu kesatuan sama-sama sungguh-sungguh.Dalam memenuhi keinginannya manusia kadang lupa meminta kepada Allah. Mereka seringnya mendahulukan ikhtiar daripada berdoa. Antara berdoa dan ikhtiar porsinya harus sama-sama besar.Gigihnya ikhtiar, jangan sampai melemahkan tawakal kita kepada Allah SWT. Dan, kuatnya tawakal kepada Allah, jangan sampai melemahkan ikhtiar kita. Ikhtiar dan tawakal harus selaras, seimbang, beriringan. Inilah yang menjadi kunci agar kita mendapat pertolongan Allah SWT.

Seimbangnya tawakal dan ikhtiar bentuknya adalah dengan serius dalam taubat, lurus dalam niat, bagus dalam ibadah, serius dalam memperbaiki diri. Dan, tentu saja serius juga dalam ikhtiar kita. Jangan sampai kita sungguh-sungguh dalam doa dan tawakal akan tetapi dalam ikhtiar kita alakadarnya saja bahkan berleha-leha.

Di tengah kegaduhan akibat pandemic Covid-19, muncul respons demikian: “Hidup dan mati sudah diatur oleh Allah. Kalau sudah waktunya mati, ya mati. Kalau belum, ya tidak akan mungkin mati.” Atau, “Saya tidak takut Corona, hanya takut kepada Allah.”

Ada juga yang mengatakan, “Corona telah merusak tatanan agama. Sholat di masjid tak boleh lama-lama. Iktikaf di masjid tak dianjurkan. Bersilaturrahim harus dihindari. Bersalaman pun harus dijauhi.” Ada pula yang bercetus, “Jangan tinggalkan masjid karena takut Corona.”

Beberapa sikap yang kurang lebih sama juga keluar dari lisan-lisan manusia yang belum terdudukkan pemahamannya dengan benar. Inilah akibat jika memahami tawakkal dan ikhtiar masih setengah-setengah. Atau sempurna mengimani tawakkal,tapi cenderung meremehkan urusan ikhtiar. Tawakkal memiliki ranah sendiri. Ikhtiar pun memiliki ranah yang lain. Walaupun begitu, antara tawakkal dan ikhtiar keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Ikhtiar dulu tawakal kemudian.

Selain itu muncul juga narasi-narasi yang tidak tepat dalam memahami makna takdir. Takdir dimaknai sebagai garis ketentuan Tuhan yang tidak perlu diikhtiari. Akibatnya, muncul pemikiran seolah-olah dengan tameng takdir, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari Covid-19.

Semua orang beragama pasti yakin Tuhan berkuasa atas segala sesuatu dan telah menentukan qada dan qadar apapun yang terjadi di dunia sampai akhirat. Tidak ada yang membantah hal ini. Namun, pemahaman dan iman terhadap takdir tersebut tidak lantas membuat manusia pasrah apalagi “menantang” Covid-19.

#stayathome

#lawancorona

Salwa Fadila Khailifa

Mahasiswa Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: