Penguatan Dakwah An-Nahdiyah Sebagai Penawar Radikalisme di Indonesia

Dakwah adalah pesan penguatan iman, islam dan ihsan yang menyejukkan dan edukatif. An Nahdliyah merupakan ciri khas aswaja yang dimiliki oleh NU yang membedakan dengan kelompok Islam yang lain. Maka amat sangat penting juga ditengah radikalisme yang muncul, kita perlu melihat dan membaca sejarah perjuangan Nahdatul Ulama (NU) atau Aswaja An Nahdiyah dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsa indonesia, agar tidak salah mengikuti aliran atau kelompok Islam tertentu yang radikal dan tidak paham sejarah perjuangan bangsa.
Dakwah An nahdiyah adalah bagian dari Manhaj dakwah (metodologi dakwah) juga merupakan dakwah yang ideal menurut Nahdatul Ulama (NU), sebagai ormas sosial keagamaan terbesar di Indonesia. Dakwah yang berseru bukan berseteru, dakwah yang menyejukkan dan menyenangkan bukan membuat konflik dan pertikaian. Innakalam tahdi man ahbabta walakinnalloha yahdi ma yasak. Dalam hal berdakwah Nabi saja tidak bisa memberi hidayah hakikiyah kepada pamannya, yang bisa memberi hidayah hakikiyah hanya Alloh SWT. Maka dari itu tidak ada pemaksaan dalam agama dan berdakwah secara santun menjadi simbol penting dakwah an nahdiyah.
Dakwah an nahdiyah menjadi dakwah yang ideal menangkal radikalis di Indonesia. Radikalis di Indonesia dalam makna negatif diartikan sebagai orang atau kelompok tertentu yang memaksakan faham dan keyakinannya untuk orang atau kelompok yang lain. Sehingga hal inilah yang mengancam persatuan dan kerukunan warga masyarakat, keberagaman, bahkan bisa mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penguatan Dai (Intern)

Dakwah An nahdiyah sebagai penawar radikalisme di Indonesia perlu penguatan baik secara intern (personal dai), ekstren(mad’u, masyarakat,emak emak) dan kelembagaan (sekolah atau madrasah). Secara personal dai (intern) yang pertama harus dengan sikap yang baik yaitu mukhafadoh ngala kodimis solih, wal akhdu bil jadidil aslakh. Seperti mempertahankan tahlilan, maulid nabi, isrok mikroj karena kesemuanya itu merupakan amalan yang solih, meningkatkan iman, baik, tidak bertentangan dengan islam dan membangun keseimbangan di tengah masyarakat.
Wal akhdu bil jadidil aslakh adalah mengikutin tuntutan dan perkembangan zaman jika ada perkara baik maka diambil, termasuk untuk kepentingan dakwah. Ini sesuai dengan yang disampaikan Ketua LDNU KH. Agus Salim dalam menangkap problem dakwah di era digital dengan program 34 ribu dai media sosial. Dai NU harus akrab, upgrade dan solutif pada tantangan zaman mengisi lini lini, ruang media seperti Youtube, Twitter, Instagram, Website, Facebook, Tik tok dll. Jargon dari beliau adalah melek media sosial adalah harga mati, dalam rakornas LDNU di Hotel Bidakara Jakarta tahun 2019. Itu semua adalah bagian dari wal akhdu bil jadidil aslakh.
Yang kedua untuk penguatan dai (intern) adalah la yukafiru bakduhum bakdo (tidak mengkafirkan kelompok satu dengan kelompok yang lain). Tidak suka mengatakan kamu kafir, kamu syirik, kamu halal darahnya selama ada kemungkinan bertaubat maka tidak menghukumi kafir inilah makna dari Washatiyah (toleran) terhadap sesama manusia (Ketua LDNU Kepri Ustad Ahmad Mujib Zain).
KH. Ahmad Ishomudin Rais Syuriah PBNU menyampaikan bahwa Aswaja merupakan kelompok yang mengikuti Rasululloh dan juga para sahabatnya. Ciri cirinya adalah tidak gampang menuduh kafir orang lain, tidak menyesatkan masyarakat dan tidak merasa paling benar. Ajaran islam yang disampaikan tidak berbau provokasi, menyudutkan ataupun memojokkan Islam, agama dan masyarakat tertentu.
Kitab yang berbahaya jika dibaca adalah kitab Idham Sadatun Mudakin karya Imam Murtado Azabidi kitab pegangan dari kelompok salafi dan wahabi menjelaskan bahwa kelompok islam diluar mereka adalah kafir. Pemahaman seperti inilah yang sangat berbahaya. Ini jelas memutus sanad dakwah, dimana para wali, alim ulama yang berdakwah untuk menyebarkan islam dan memberi pemahaman islam dengan sabar kepada masyarakat luas dan penganutnya di rusak oleh paham paham yang hanya sibuk mengkafirkan.
Yang terakhir adalah Otentitas agama itu dilihat dari sanad. Al isnadu minad din laulal isnad la kola man sa a ma sa a. Sesungguhnya sanad bagian dari agama, karena tanpa sanad orang akan berbicara semaunya. Sehingga perlu diketahui orangnya siapa, kitabnya mana, ulamanya siapa, ngajinya dimana. Ini penting agar sanad keilmuwan jelas dan tidak berguru pada orang yang salah.

Penguatan Mad’u khususnya Emak emak (Ekstren)

Apa yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Banjarmasin menarik dengan melibatkan emak emak sebagai agen perdamaian. Emak emak menyampaikan bagi keluarga dan masyarakatnya tentang bahaya radikalisme dan terorisme. Dakwah An Nahdiyah harusnya juga melibatkan peran masyarakat sebagai kader perubahan dan kader dakwah utamanya emak emak. Emak emak adalah madrasah pertama dan utama bagi anak anak dan generasi berikutnya (Quraisy Syihab,1998: 258).
Dalam perkembangan budaya dan teknologi yang begitu pesat dituntut emak emak yang juga cerdas menjawab tantangan dakwah di era digital. Perkembangan budaya seperti Trend fast food culture, fun behaviors of hedons akan langsung ditemui oleh emak emak disaat mengasuh buah hatinya. Maka emak emak harus berilmu dan memberikan teladan yang baik agar anak anak dan remaja jauh dari perilaku radikalis.

Penguatan Madrasah (Kelembagaan)

Penguatan kelembagaan pendidikan islam di Indonesia sebagai bagian dari penyempurnaan dakwah an nahdiyah melalui beberapa tahap pembelajaran seperti :

  1. Tilawah/literasi/qiroah, membaca adalah gurunya bagi orang orang pandai (alqiroatu ustadu kuli ngalimin)
  2. Taklim, yaitu tranfer ilmu pengetahuan
  3. Hikmah, yaitu landasan amaliah melakukan sesuatu yang tepat di waktu dan cara yang tepat menurut ibnu qoyim al jauziyah
  4. Tazkiyah, diartikan sebagai akhlak dalam kitab taklim mutangalim juga adabud dunya wad din
    Tetapi kesemua proses diatas tidak mengesampingkan efektifnya pembelajaran guru, fokus dan kemauan murid maupun metode dan fasilitas ajar yang tepat dan memadai. Dengan penguatan terus menerus Dakwah An Nahdiyah baik secara intern (personal dai), ekstren(mad’u, masyarakat,emak emak) dan kelembagaan (sekolah atau madrasah), Dakwah An nahdiyah akan mampu menjadi penawar radikalisme di Indonesia.

(Materi kajian Mochammad Sinung Restendy dalam bincang dakwah LDNU PCNU Tulungagung, 22 Juli 2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: