Penakluk Badai; Sebuah Novel Biografi Hadratusyeikh KH. Hasyim Asy’ari

Penulis:Aguk Irawan MN
Penerbit:Republika
Cetakan:Pertama, 2012
Tebal:XXX + 562 Halaman

Buku ini menjelaskan seorang pendiri tokoh organisasi masyarakat atau yang biasa disingkat ormas islam yang ada di Indonesia. Tokoh tersebut yakni Hadratusyeikh KH. Hasyim Asy’ari, beliau pendiri Nahdalatul Ulama yang biasa di sebut NU. Buku ini berisikan bagaimana perjalanan awal KH. Hasyim Asy’ari yang pengemasannya dengan gaya cerita novel. Bagi sebagian orang beranggapan bahwa sebuah buku berisikan mengenai para tokoh itu berat bacaannya, namun ini berbeda karena dengan pengemasan novel.

Pada bab awal kita akan dibawa menuju tahun 1800an yang mana menceritakan sekilas tentang perjalanan Kiai Abdus Salam atau yang terkenal dengan Kiai Shaihah Bersama 3 santrinya. Kiai Abdus Salam mendirikan pesantren di tengah hutan sekaligus memberikan nama daerah tersebut yakni Dusun Gedang. Mengapa diberikan nama Dusun Gedang ?  diceritakan bahwa awal mula ketika akan langar (musholla ) sebagai awal mula berdirinya pesantren daerah tersebut banyak pepohonan gedang atau dalam Bahasa Indonesia berartikan buah pisang. Dusun Gedang ini masuk dalam wilayah Tambakrejo, Jombang. Di mulai dari sini perjalanan ceritanya hingga dari langgar berubah menjadi sebuah pesantren yang mana semakin banyak yang menjadi santri untuk menuntut ilmu disana.

Sampai pada kisah Hasyim Asy’ari lahir dengan sebuah kejadian yakni mimpi sebuah bulan jatuh dari langit dan masuk kedalam perut Halimah (Ibu dari Hasyim Asy’ari) yang sedang mengandung Hasyim Asy’ari. “ KangMas, kawulo tadi ber..mimpi..awalnya indah sekali. Itu loh, bulan purnama yang tadi malam kita lihat itu, tapi…mendadak bulan itu jatuh dari langit dan menimpa perut ini…” Isak tangis yang mengiringi cerita Halimah. (hal. 49). Tepat pada tanggal 14 Februari 1871 Hasyim Asy’ari lahir.  Dengan sejalannya waktu Hasyim Asy’ari bias merangkak, tengkurap dan duduk bahkan belum genap tiga bulan sering minta digendong oleh kakeknya yakni Kiai Usman. Ketika Hasyim Asy’ari bisa merangkak sering dititipkan pada santri-santrinya yang sedang melafalkan surat-surat Al-Qur’an. Perjalanan itu berlangsung hingga Hasyim Asy’ari berumur 6 tahun , kemudian harus pindah ke Dusun Keras yang mana Kiai Asy’ari, bapak Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren.

Di Dusun Keras Kiai Asy’ari dan keluarga tidak memerlukan wktu lama untuk bisa adaptasi, bahkan Hasyim Asy’ari kecil pun dengan cepat bisa bermain dengan anak-anak di dusun tersebut.  Ketika berumur 11 tahun mulai perjalanan belajar agama, dari kitab-kitab bahkan meminta izin kepada sang kakek dan orangtuanya untuk pindah ke pondok lainnya atas dasar ingin mengemban ilmu agama lainnya.  Dari pesantren Trenggilis, pesantren Langitan hingga pada pesantren Kademangan, Bangkalan yang mana bertemu dengan Kiai Kholil. Setelah dari Bangkalan pun pindah ke daerah Semarang untuk menemui Kiai Sholeh Darat yang mana atas restu dari sang kakek, di Pesantren Kiai Sholeh Darat pun Hasyim Asy’ari awal mula bertemu dengan Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah) .  Ketika berumur 16 tahun mulai beraktivitas di Pesantren Keras untuk mengajarkan kitab-kitab yang diperoleh selama ia belajar dari beberapa pesantren. (hal.92)

Menurut Kiai Hasyim Asy’ari, pondok pesantren bukan sekedar tempat untuk memperlajari ilmu-ilmu agama an-sich, untuk kepentingan dirinya sendiri, dengan ritual-ritualnya yang bersifat personal. Akan tetapi ia ingin membumisasikan pesan-pesan agama itu agar memiliki dampak secara langsung di masyarakat. ( hal.155). Adapun diceritakan Kiai Ahmad Dahlan mengunjungi Tebu Irang, yang itu Pesantren yang didirikan oleh Kiai Hasyim Asy’ari. (hal. 199). Keduanya pun dengan akrab berbincang, dikarenakan sebelumnya pernah bertemu di Pesantren Kiai Sholeh Darat. Banyak hal yang dibincangkan dari mulai kenangan-kenangan ketika di Pesantren Kiai Sholah Darat , kondisi pesantren hingga untuk kepentingan dakwah Islam yang mana keduanya memang memiliki pondok pesantren masing-masing.

Dalam buku tersebut pun menceritakan tentang perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari ketika para penjajah Jepang datang dan para santri melawan demi perjuangan Negara Indonesia. Banyak dikisahkan para santri yang gugur dalam perjuangannya mengusir penjajah Jepang. Dan sampai pada Kiai Hasyim Asy’ari mewariskan Nahdlatul Ulama pada anak-anak dan santrinya untuk melanjutkan perjuangan NU. “Siapa yang mau mengurusi NU, saya anggap ia santriku. Siapa yang jadi santriku, saya do’akan husnul khotimah beserta anak cucunya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: