Menu Tutup

Pembaharuan Sistem Pendidikan Pesantren

(Refleksi atas Pemikiran Revolusioner Wahid Hasyim)

Sosok Wahid Hasyim yang dikenal sebagai pendiri bangsa juga merupakan salah satu tokoh penting dalam pembaharuan sistem pendidikan Islam dalam hal ini dunia pesantren. Wahid Hasyim adalah putra dari KH. Hasyim Asy’ari pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama dan  Nyi Nafiqah binti Kyai Ilyas, Ia lahir pada hari Jumat legi, 5 Rabiul Awwal 1333 H/1 Juni 1914 M. Hal ini bisa dilihat dalam buku  (Muhammad Rifa’I, 2017)

Wahid Hasyim hadir di tengah-tengah masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai  ke-Islam-an dan kebangsaan. Ia membawa satu pemikiran progresif-transformatif sistem pendidikan Islam ke dalam dunia pesantren, yaitu pembaharuan metodologi pengajaran, penguatan intelektual santri serta pengembangan kurikulum pesantren ke arah yang lebih modern. Ide-ide ini dianggap sebagai lompatan yang radikal oleh para kiai, karena pesantren pada masa itu masih trauma terhadap pemikiran yang berbauh barat (bangsa penjajah).

Perombak Metode Pengajaran dan Kurikulum Pesantren

Secara historis pembaharuan sitem pendidikan pesantren Wahid Hasyim dilatarbelakangi oleh tiga faktor. Pertama, kondisi masyarakat Islam yang terbelakang dalam hal pendidikan, yang berdasar pada kesadaran pentingnya pendidikan dalam membangun bangsa. Kedua, sentimen negatif terhadap kolonialisme yang menganaktirikan masyarakat pribumi terkait hak-hak untuk bependidikan, begitu pula nasionalisme yang dibangun untuk bangasa yang mewujudkan dalam bentuk reformasi pendidikan Islam pesantren sebagai penegas identitas untuk melawan pemerintah kolonialisme (Ahmad Zaini, 2011). Ketiga, keinginan Wahid Hasyim untuk mengangkat martabat dan moral masyarakat pesantren dalam perhelatan perjuangan nasional yang masih dimonopoli oleh kalangan sekular modernis, sedangkan kalangan tradisionalis pesantren tidak mempunyai kesempat ada di lingkaran itu (Rifai, 2011).

Dari ketiga faktor di atas kemudian dipetakan pembaharuan sistem pendidikan pesantren dalam tiga aspek pokok metode secara sitematis, yaitu: (1) metode perubahan institusi; (2) metode pengajaran; dan (3) metode kurikulum pendidikan pesantren. Dalam metode perubahan institusi Wahid Hasyim melihat bahwa sejak awal pesantren dijadikan sebagai tempat untuk mencari ilmu yang orientasinya terhadap akhirat saja, sehingga pelajaran-pelajaran di pesantren hanya seputar kajian fiqih, tasawuf, akhlak dan aqidah yang justru menempatkan pengetahuan umum sebagai bagaian kedua dan tidak perlu dipelajari. Dari dasar ini Wahid Hasyim memberi alternatif kepada para santri untuk sebagian besar tidak menjadi ulama. Di samping pengertian ulama di kalangan pesantren mengalami kemerosotan makna, sehingga ulama hanya  digunakan untuk orang-orang yang menekuni bidang-bidang ilmu agama dan merendahkan ilmu umum (A. Aziz Masyhuri, 2008).

Lebih lajut, Wahid hasyim yang baru kembali dari Mekkah mencoba mengusulkan metode pengajaran pesantren dengan sistem tutorial sistematis, yang mana santri tidak hanya mendengar, mencatat, mengamini yang disampaikan oleh kyai, tetapi ada tindaklanjutnya. Di sini model dialogis berperan untuk menemukan keterampilan santri dan upaya untuk memberi sumbangsi keilmuan, lebih tepatnya proses kritis-transformatif yang dilakukan santri terhadap bahan belajar-mengajar sebagai proses melatih keterampilan berargumen dan memberi pendapat di ruang publik.

Perjuangnnya dimulai dari menjadi staf di pesantren Tebuireng, Wahid Hasyim mencoba melakukan revolusi sistem kurikulum pesantren yang sejak awal hanya melaksanan metode ngaji sorogan dan bandongan. Metode ini sudah berjalan begitu lama, sampai ada yang mengatakan bahwa metode sorogan dan bandongan lebih tua dari pesantren itu sendiri. Tapi Wahid Hasyim menganggap bahwa metode sorogan dan bandongan sudah tidak efektif terhadap cara mendidik santri, dan jauh tertinggal dari perkembangan zaman yang sudah maju.

Hal inilah yang menjadi dorongan Wahid Hasyim bergerak untuk melakukan pembaharuan metode pengajaran dan kurikulum pendidikan pesantren khususnya di Tebuireng. Ide ini banyak mendapatkan penolakan dari masyarakat juga dari pihak pesantren sendiri, terutama Ayahnya KH.Hasyim Asy’ari menganggap bahwa ide yang diusulkan Wahid Hasyim terlalu liberal dan cendrung berdampak negatif terhadap pesantren yang diasuhnya.

Berselang beberapa waktu upaya yang dilakukan oleh Wahid Hasyim ternyata mendapat respon, dukungan dan justru diterapkan di pesantren Tebuireng, salah satunya pendirian Madrasah Nidzamiyah pada tahun 1935 M. Metode yang dilakukan adalah memasukkan 70%  pelajaran umum dan 30% pelajaran agama, seperti bahasa Inggiris, Belanda, geografi, ekonomi, filsafat, matematika dan juga literasi sebagai upaya santri bisa membaca dan menulis yang dijadikan basis perjuangan melawan penjajah.

Seperti yang dikatakan Ahmad Zaini dalam buku KH Wahid Hasyim Pembaharu Pendidikan Islam bahwa Hadirnya Madrasah Nidzamiyah sebagai terobosan besar-besaran dalam dunia pendidkan Islam yang mampu mensinergikan antara pendidikan umum dan pendidikan agama, Wahid Hasyim sebagai pelopor dari perguruan hasil ciptaanya sendiri yang membuka besar-besaran Madrasah modern.

Maka dari itu yang dilakukan pertama Wahid Hasyim adalah inovasi sistem pengajaran pesantren yang sangat bergantung kepada kualitas guru atau Kyai sebagai tokoh utama dan panutannya. Di sinilah Wahid Hasyim mencoba melakukan peningkatan kaulitas santri dengan menggunakan metode belajar mengajar yang dikenalkan dengan mata pelajaran Barat (Ahmad Zaini, 2011).

Dengan demikian modernisasi pendidikan pesantren yang dilakukan Wahid Hasyim mencoba untuk memadukan pengetahuan agama dan pengetahuan umum dalam kurikulum pesantren, dan ini merupakan terobosan berani juga unik di masanya. Wahid Hasyim menolak jika ada anggapan bahwa dirinya ingin memisahkan antara ilmu agama dan ilmu umum, jelas-jelas di sini yang ingin dibentuk adalah kreatifitas berpikir santri yang seimbang dan mampu mengintegrasikan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum.

Pemikiran Pembaharu Pesantren Wahid Hasyim di Era Digital

Pemikiran Wahid Hasyim tidak lepas dari kegelisahannya yang menganggap bahwa pesantren sudah menjadi komunitas yang tertutup, cendrung tidak menerima perkembangan zaman yang sudah bergerak cepat. Jika hal itu dibiarkan, akan berakibat terhadap kemunduran dan keterbelakangan pesantren yang sudah membesarkan Wahid Hasyim. Sehingga pikiran progresif dan wawasan cemerlangnya untuk mendobrak sistem keterbelengguan kurikulum pesantren untuk terus beriringan dengan modernitas.

Reformasi pendidikan pesantren yang dikembangkan oleh Wahid Hasyim sebagai upaya menjawab perubahan zaman di era modernisasi dengan meleburnya ilmu-ilmu sekuler yang mengedepankan rasionalitas. Dengan hal ini pikiran Wahid Hasyim perlu untuk terus digaungkan dan didiskusikan ulang saat ini di era digital. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut kita untuk lebih jeli menyikapi arus perubahannya, di sini pemikiran Wahid Hasyim yang menuntut untuk membuka diri terhadap zaman menemukan korelasinya.

Di era ini, kita dituntut untuk mampu beradaptasi dengan dunia digital yang sudah menjadi bagian dalam kehidupan manusia. Dari sini perlu adanya representasi keilmuan baik pengetahuan agama dan umum di dunia digital dengan cara mengutamakan sikap rasionalitas dalam menyikapi persoalan yang ada di platform digital, tentu hal ini didukungan dengan keterampilan menganalisis dan ketajaman spiriualitas yang tinggi seperti yang sudah dilakukan oleh Wahid Hasyim di masanya.

Dengan demikian apa yang sudah diupayakan oleh Wahid Hasyim menemukan korelasinya hari ini, di mana era digital lebih menarik perhatian untuk lebih tajam pembacaan kita terhadap perkembangan yang terjadi baik nasional ataupun internasional. oleh karena itu, adanya keterampilan, wawasan, dan skil dibutuhkan untuk mendukung peran kita di zaman sekarang.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: