Paradigma Pernikahan Dini di Indonesia

Berbicara mengenai pernikahan dini sebenarnya sudah menjadi  hal yang biasa di Indonesia, bahkan hal ini sudah terjadi pada orang-orang yang hidup di abad 90-an maupun sebelumnya. Pernikahan dini, jika dilihat dari kata “dini” biasanya dikaitkan dengan waktu yang sangat awal. Fenomena pernikahan dini sudah terjadi jauh sebelum abad 20 bahkan menjadi hal yang wajar dilakukan, akan tetapi seiring berkembangnya zaman paradigma tentang pernikahan dini pada masyarakat dulu dengan masyarakat sekarang berubah. Namun, sekarang ini pernikahan dini sendiri menjadi hal yang tabu di masyarakat karena dipandang membawa dampak negatif khususnya bagi perempuan.

Di Indonesia ada aturan yang mengatur tentang pernikahan tertuang dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 yang menyebutkan bahwa pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai seorang suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Adapun aturan yang mengatur tentang batas usia pernikahan tertuang dalam Undang-Undang Perkawinan bab II Pasal 7 ayat 1 disebutkan bahwa pernikahan hanya diijinkan jika pihak pria maupun wanita sudah berumur 19 tahun. Kebijakan pemerintah dalam menetapkan batasan usia pernikahan  tentunya sudah dipikirkan secara matang dan melalui proses serta berbagai pertimbangan. Namun, dalam prakteknya masih banyak yang melangsungkan pernikahan di usia muda atau di bawah umur.

Pernikahan dini berarti pernikahan yang dilakukan pada batas usia yang diijinkan yakni 19 tahun. Padahal menurut Dwi Rifiani dalam jurnal Syariah dan Hukum yang berjudul “Pernikahan Dini dalam Perspektif Hukum Islam” usia pernikahan yang ideal bagi perempuan adalah 21-25 tahun, sedangkan laki-laki adalah 25-28 tahun. Karena pada usia tersebut organ reproduksi pada perempuan sudah berkembang dengan baik dan kuat serta secara psikologis sudah dianggap matang untuk menjadi calon orang tua bagi anak-anaknya. Sementara kondisi fisik dan psikis laki-laki pada usia tersebut juga sudah kuat sehingga mampu menopang kehidupan keluarga dan melindunginya baik secara psikis emosional, ekonomi, dan sosial. Sementara ketika pernikahan dilakukan di usia muda atau bahkan dibawah umur sangat berdampak bagi kesehatan organ reproduksi anak perempuan, anak yang dilahirkan serta kesehatan psikologis anak. Selain itu, fenomena sosial ini juga dapat berdampak terhadap perilaku seksual berupa perilaku yang gemar berhubungan seksual dengan anak-anak yang biasa disebut pedofilia.

Fenomena terjadinya pernikahan dini tentunya juga disertai faktor-faktor yang mempengaruhinya. Karena semua yang terjadi pasti ada sebab-akibatnya tidak serta-merta terjadi begitu saja. Secara umum ada beberapa faktor terjadinya pernikahan usia dini yakni; Pertama, karena keadaan ekonomi keluarga sehingga dengan menikahkan anak perempuannya dapat meringankan beban dari segi ekonomi. Kedua, pendidikan orang tua, anak, serta masyarakat  yang rendah. Ketiga, kekhawatiran orang tua akan mendapatkan aib karena anaknya sudah berpacaran. Keempat,  gencarnya media massa yang mengekspos pornografi dan adegan-adegan yang tidak  layak dipertontonkan. Kelima, kekhawatiran dan ketakutan orang tua terhadap anak jika menjadi perawan tua. Faktor-faktor tersebut hanya secara umumnya saja, tidak bisa dijadikan patokan. Karena terjadinya nikah muda atau nikah dini di setiap daerah berbeda-beda alasan maupun faktor pendorongnya.

Memang paradigma tentang pernikahan dini di masa sekarang ini menjadi hal yang tabu, akan tetapi nikah muda sebenarnya tidak menjadi masalah. Karena hukum asal suatu pernikahan ialah mubah, namun bisa berubah menjadi wajib, sunah dan haram. Menurut Jumhur Ulama, dikatakan wajib menikah bagi orang yang mampu untuk menikah dan khawatir akan melakukan perbuatan zina. Kemudian sunah apabila tidak menikah sanggup menjaga dirinya dari perbuatan haram dan apabila menikah yakin tidak akan menzalimi dan membawa mudarat bagi istrinya. Lalu yang terakhir dikatakan haram apabila menikah akan membawa mudarat dan menzalimi istrinya.

Namun ketika dihadapkan dengan zaman sekarang ini, melangsungkan nikah muda memang suatu hal yang ditakuti. Sekarang ini banyak wanita yang fokus terhadap karirnya. Karena mereka sadar pendidikan seorang ibu juga sangat penting untuk bekal anak-anaknya kelak dimasa mendatang. Sejak R.A. Kartini menyerukan hak-hak suara perempuan itu sama dengan laki-laki. Perempuan yang dulu kerjanya lebih banyak di dapur sekarang mempunyai hak seperti laki-laki. Semenjak itu hak-hak antara perempuan dan laki-laki bisa dikatakan setara. Disamping itu mungkin saja kekebalan tubuh wanita pada orang-orang dahulu lebih tinggi karena lebih banyak beraktifitas yang berbanding terbalik di masa sekarang ini. Sekarang ini banyak wanita menginginkan sesuatu namun inginnya instan. Tak hanya wanita, pola pikir manusia sekarang kebanyakan seperti itu. Hal ini menyebabkan seseorang mudah terserang penyakit.

Dilihat dari masa sekarang, usia tersebut memang belum matang dan emosi masih labil. Hal ini menyebabkan timbulnya konflik perceraian dimana sebenarnya dunia remaja masih disibukkan menata hidup dan diri sebenarnya yang bisa mengakibatkan seseorang remaja tidak siap terhadap suatu perubahan dalam pernikahan. Selain itu pernikahan usia muda juga berdampak terhadap pendidikan seseorang. Kemudian dapat juga menyebabkan gangguan kognitif seperti tidak berani mengambil keputusan, kesulitan memecahkan masalah dan terganggunya memori. Pernikahan dini juga dapat menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga. Selain  itu bagi wanita, ketika hamil dan setelah melahirkan rawan mengalami gangguan mental pasca melahirkan.

Sebenarnya apapun itu semuamnya berdampak, ada pepatah mengatakan “hidup itu penuh dengan resiko”. Dimana jika kita melakukan sesuatu pasti memiliki resiko atau berdampak. Tak hanya itu, jika kita tidak melakukan apa-apa pun sebenarnya juga memiliki resiko atau berdampak. Namun, alangkah baiknya jika ingin melakukan pernikahan itu dipikirkan secara matang terlebih pernikahan dini agar kedepannya tidak menimbulkan perceraian. Jangan serta-merta mengikuti hawa nafsu. Karena jika sampai ada perceraian, kedepannya sangat berdampak bagi seorang wanita dan anak jika sudah memiliki. Sebenarnya statement itu bisa dikatakan sebagai saran, namun semua keputusanya kembali pada diri masing-masing.

Zahwan

Mahasiswa S1 Prodi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syari'ah dan Hukum, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: