Pandemi dalam Kacamata Tasawuf

Merebaknya virus corona di dunia, menjadi sebuah perhatian besar bagi seluruh negara, dalam hal ini tidak hanya dalam segi medis yang sedikit direpotkan namun banyak hal lainnya yang terdampak atas adanya virus ini. Termasuk di Indonesia, sisi ekonomi, pendidikan dan agama seperti lumpuh dan tak berdaya. Bisa dilihat saat adanya penutupan tempat ibadah, pembatasan kegiatan perekonomian, dan pelaksanaan sekolah online dan kuliah online menjadi bukti bahwa virus ini sudah barang pasti menjadi perhatian yang sangat serius.

Tidak heran bila sebagian dari masyarakat ada yang mengatakan “takut kok sama corona, tidak takut sama Allah.” Statement seperti ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, bahkan jauh-jauh hari sebelumnya ada yang mengatakan bahwa corona adalah tentara Allah. Bahkan hanya menimpa masyarakat yang mayoritas non-muslim, seperti di Negara China dan Negara-negara yang mayoritas penduduknya tidak beragama Islam. Salah satu Menteri Indonesia di awal-awal juga mengatakan bahwa corona tidak akan masuk ke Indonesia, dan masih banyak lagi pernyataan yang tidak masuk akal dan justru berakibat fatal terhadap kebijakan Indonesia. Perkembangan penyebaran kasus virus covid-19 dapat dipantau melalui website resmi yakni www.covid19.go.id. Disampaikan langsung oleh juru bicara pemerintah terkait penanganan covid-19 Achmad Yurianto, hingga (29/5/2020), ada 25.216 kasus positif sebagai mana dilansir dari www.detiknews.id

Di tengah maraknya isu-isu yang simpang siur mengenai virus ini, ada kebijakan baru dari pemerintah. Ada skenario new normal, atau pola hidup baru yang beradaptasi dengan pandemi covid-19, kini menjadi semacam arik ulur atau sorotan publik. Pemerintah telah menyiapkan berbagai upaya yang dilakukan meskipun sejumlah indikator mengetakan Indonesia belum layak memasuki fase tersebut. saat meninjau kesiapan new normal di Mal Summarecon, Bekasi, Selasa (26/5/2020), Presiden Jokowi menyatakan keinginannya agar Indonesia bisa segera memasuki fase normal baru sebagaiman pemberitaan dari kompas.com (Rabu 27 Mei 2020).

Sudut pandang tasawuf dalam menyikapi covid-19 di Indonesia khususnya, tentu cara pandang ini agak berbeda dengan yang lain. Selaras dengan Syekh Abu Hasan Asy-syadzili seorang syekh dari Afrika Utara bahwa tasawuf sebagai proses praktek dan latihan diri melalui cinta yang mendalam untuk ibadah dan mengembalikan diri ke jalan Tuhan. Sedangkan bagi Imam Junaid yang merupakan seorang sufi dari Baghdad, tasawuf memiliki definisi sebagai mengambil sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah. Mengenai tasawuf ini beberapa sufi menyandarkan pengertian dan dasar-dasar dari ayat al-Qur’an. Bisa dilihat dalam QS. Al-baqarah ayat; 186 yang artinya; “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” Bahkan dalam surah Al-Kahfi ayat; 65 yang artinya; “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.

Melaksanakan ajaran tasawuf ini bukan berarti kita abai terhadap anjuran dari pemerintah dan tim medis, mengenai physical distancing and social distancing bahkan ketika dihimbau untuk sering-seing mencuci tangan, keluar rumah memakai masker dan juga dihimbau untuk rajin olah raga sebagai upaya menumbuhkan kekebalan imunitas tubuh. Di sini tasawuf hadir dalam upaya untuk menyadarkan kepada masyarakat untuk terus mengingat dan berserah diri kepada yang Maha Kuasa atas segala apapun yang terjadi di bumi, seperti adanya wabah penyakit, bencana alam, dan lain sebagainya.

Dengan adanya pandemi covid-19 yang sudah menghebohkan semua manusia, sebenarnya Allah mengingatkan kepada kita terhadap kematian yang begitu dekat, baik melalui pola hidup yang kurang baik (bersih) dalam perspektif kedokteran dan agama, juga bisa melalui keluarga yang menularkan kepaa kita dan bahkan bisa saja kematian karena kita terlalu takut terhadap wabah ini. Maka dari itu pandemi ini sudah banyak mengajari kita hidup dengan bersih dan menjaga kesehatan diri, rajin menyucikan diri secara lahiriyah seperti berwudhu atau mempersihkan tangan sebelum makan, setelah BAK dan BAB, namun juga tidak lupa untuk menyucikan diri dari penyakit bathin, menyucikan diri dari sifat dengki, takabbur, iri hati, sombong dan juga berburuk sangka terhadap sesama, dan ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan berbaik sangka terhadap yang Maha Memberi Kehidupan.

Bahkan yang tak kalah pentingnya adalah selalu bermuhasabah, kenapa pandemi ini terjadi dan menimpa kita semua. Dengan hal seperti itu, akan menghindari sifat selalu menyalahkan pemerintah dan juga lebih-lebih terhadap Allah. Perlu untuk mencoba uzlah (mengasingkan diri) dan khalwat (menyendiri) tujuan dari ber-uzlah untuk semata-mata mendekatkan diri dan bertafakkur kepada Allah sang maha Mengetahui dari segala sesuatu yang ada dalam diri kita. Makna uzlah di sini sebagai upaya untuk menghidar keramaian, kerumunana orang banyak yang membahayakan terhadap kita, dan menghindari tempat-tempat yang sudah zona merah.

Jadi dengan kita ber-uzlah dan berkhalwat dalam kontek pandemi saat ini tentu merupakan langkah baik untuk mendukung kebijakan pemerintah Indonesia, yang menganjurkan untuk tetap waspada dan menjaga diri untuk tidak tertular dan menularkan virus pada yang lain. Apalagi saat ini pemerintah sudah menyiapkan untuk new normal yang masih menjadi pro-kontra di masyarakat. Maka, untuk tetap bersikap baik sangkaan terhadap pemerintah sebelum memasuki new normal perlu untuk karantina mandiri dan mencegahnya dengan uzlah dan khalwat di rumah dan tentu juga selalu melakukan riyadzah berupa dzikir, wirid dan sering membaca shalawat dan Al-Qur’an. Selebihnya kita berserah diri kepada Allah yang Maha Memberi Kehidupan.

Moh Syaiful Bahri

Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: