Nafkah Suami Kepada Isteri dan Anaknya di Tinjau Menurut Hukum Islam

Tujuan suatu ikatan pernikahan ialah membentuk keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah. Tujuan inilah yang menjadi impian banyak orang dalam suatu ikatan pernikahan. Oleh karena itu, perlu adanya peran dari kedua pihak, baik seorang suami maupun seorang isteri.

Dalam sebuah ikatan pernikahan tidak terlepas dari adanya hak dan kewajiban antara sorang suami dan seorang isteri. Salah satu kewajiban suami yang harus ditunaikan kepada isteri dan anaknya ialah menafkahi lahir batin. Suami memiliki kewajiban yang telah Allah tetapkan dan begitu penting terhadap isteri dan anaknya. Hukum memberi nafkah Isteri dan anaknya (keluarga) ini wajib atas suami.

Jika isteri dan anaknya (keluarga) hidup serumah dengan suaminya, maka diantara kewajiban yang harus ditanggung suami terhadap isterinya dan anaknya seperti:  beberapa hal  penting (pokok) yang harus diperhatikan suami adalah kewajiban memberi nafkah (nafaqah), baik berupa sandang (pakaian), pangan (makanan) maupun papan (tempat tinggal bersama).

Dalam Islam seorang laki-laki adalah sebagai kepala rumah tangga. Menurut Islam juga bahwa nafkah itu merupakan tanggung jawab suami. Nafkah menjadi tanggung jawab suami untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Bisa dilihat berdasarkan nash Al-Qur’an dan Sunnah.

Dasar hukum nafkah:

  1. Al-Qur’an
  2. QS. Ath-Talaq ayat 7

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا(7)

Artinya : “Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” (QS. Ath-Talaq ayat 7)

  • QS. Al-Baqarah ayat 233

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (233)

Artinya : “…Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya…” (QS. Al-Baqarah Ayat 233).

  • QS. Ath-Talaq ayat 6

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ وَإِنْ كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوفٍ وَإِنْ تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَى (6)

Artinya : “Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin …” (Q.S. Ath-Thalaq: 6)

  • Hadist Nabi

Dari Hakim bin Muawiyah, dari ayahnya dia berkata, “Aku bertanya, Wahai Rosulullah, apakah kewajiban kami terhadap istrinya? Beliau menjawab, “Engkau memberikannya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian jika engkau berpakaian, jangan memikul muka,jangan menjelek-jelekan, dan jangan berpisah (dari tempat tidurnya), kecuali didalam rumah.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasa‟I, Ibnu Majah).

Hadits di atas menerangkan bahwa tentang kewajiban dari suami terhadap istrinya untuk memberikan jaminan berupa :

  1. Suami melaksanakan kewajiban atas Iterinya berupa memberi nafkah (nafaqah), baik berupa sandang (pakaian), pangan (makanan) maupun papan (tempat tinggal bersama).
  2. Tidak menyakiti isteri misalnya: dengan tidak berlaku kasar (secara fisik) terhadap istrinya, terutama dengan tidak memukul wajah isterinya.
  3. Memberi nafkah batin kepada isteri dan anaknya (keluarga) seperti, tidak meninggalkan mereka (pergi) tanpa kejelasan.
  4. Ijma’

Dalam hal ini para fuqaha (ahli fiqih) sepakat bahwa nafkah (nafaqah), baik berupa sandang (pakaian), pangan (makanan) maupun papan (tempat tinggal bersama) itu merupakan hak isteri yang wajib dibayar oleh suaminya.

Menurut Hanafiyyah, tidak ada nafkah bagi isteri yang masih kecil yang belum siap digauli. maksudnya adalah munculnya ikatan perkawinan merupakan salah satu sebab yang diwajibkannya  pemberian  nafkah (nafaqah) . Dengan adanya ikatan perkawinan yang sah antara seorrang suami dan seorang isteri yang layak digauli seperti telah tumbuh baligh, dan mampu digauli (dicampuri) maka berhaklah baginya nafkah. Tetapi sekiranya seorang isteri itu masih kecil (belum baligh) dan hanya bisa bermesraan, tetapi belum bisa digauli maka isteri seperti ini tidak berhak atas nafkah.

Sebagian ulama juga berpendapat bahwa soerang suami berhak memberikan nafkah kepada isterinya sejak terjadinya akad. Hal itu disesuaikan dengan keadaan dan kesanggupan dari suami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: