Menu Tutup

Mungkinkah Pemahaman Hadis Tanpa Perspektif Sosiologis ?

Hadis dan sosial sebenarnya keduanya saling berkaitan. Menurut Dr Tjipto Subadi, M.Si. dalam bukunya yang berjudul sosiologi mengatakan bahwa “terdapat dua hal yang penting dalam memahami sosiologi. Pertama, masyarakat sebagai keseluruhan. Kedua, masyarakat sebagai jaringan antar hubungan sosial. Fungsi sosiologi adalah untuk menyelami, menganalisa dan memahami jaringan-jaringan antar hubungan tersebut”. Dalam mempelajari dan memahami hadis salah satu yang harus kita pahami adalah bagaimana perspektif sosiologis nya. Namun ada juga hadis yang dipahami tanpa perspektif sosiologis. sebagaimana yang diutarakan oleh Suryadi (2016) dalam Jurnal Living Hadis bahwa “tidak semua hadis Nabi secara eksplisit memiliki Asbabul Wurud yang menjadikan ketidakjelasan status hadis apakah bersifat umum ataukah khusus. Dengan melihat kondisi yang melatarbelakangi munculnya suatu hadis, sebuah hadis terkadang dipahami secara tekstual dan terkadang secara kontekstual”.

Sebagaimana yang kita ketahui, hadis merupakan sumber hukum Islam ke dua setelah al-qur’an. Hadis adalah segala sesuatu yang berasal dari nabi Muhammad, apakah itu perkataan, perbuatan maupun ketetapan nabi Muhammad Saw. Pror. Dr. Tajul Arifib, MA (2014) juga memberikan asumsi dalam bukunya yang berjudul Ulumul Hadis “ Hadis adalah segala sesuatu yang berasal dari Rasul Saw. sebelum diutus ataupun setelahnya baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan ataupun sifat-sifat”. Pengertian ini menjelaskan bahwa hadis berasal dari nabi, baik saat beliau belum menjadi rasul ataupun sesudah menjadi rasul.

Perlu diketahui, bahwa ada sebagian hadis Nabi yang dapat di pahami secara perspektif sosiologis dan ada juga hadis yang tidak dapat dipahami secara perspektif sosiologis, atau dikatakan dengan memahami hadis secara tekstual dan memahami hadis secara kontekstual. Sebagaimana yang ditulis oleh Muhammad Asriady(2017) dalam jurnalnya “Metode pemahaman hadis yang ditempuh seseorang untuk memahami atau menafsirkan hadis Nabi saw ada dua: pertama, interpretasi tekstual adalah metode pemahaman hadis nabi yang berdasarkan teks semata. Kedua, interpretasi kontekstual adalah metode memahami hadis berdasarkan latar belakang munculnya hadis (asbab al wurud) yang dikaitkan dengan masa kekinian. Ketiga, interpretasi intertekstual, maksudnya adalah pemahaman terhadap matan hadis dengan memperhatikan sistematika matan hadis yang bersangkutan atau hadis lain yang semakna atau ayat ayat al Qur‘an yang terkait”. Penjelasan ini mengutarakan bahwa dalam memahami hadis tanpa prespektif sosiologi dinamakan dengan memahami hadis secara tekstual.

Contoh hadis Nabi yang dapat dipahami dengan cara tekstual adalah hadis Nabi yang yang berkaitan tentang perang, di mana Nabi mengatakan bahwa perang itu adalah siasat. Maka dapat kita pahami bahwa dalam melakukan perperangan kita memerlukan siasat atau yang lebih dikenal dengan sebutan strategi pada saat sekarang. Dalam hadis tersebut, matan hadis ini tidak terikat oleh ruang dan waktu, tanpa perlu mengetahui lebih jauh bagaimana aspek sosiologis yang ada dalam hadis ini, karena dari matan hadis tersebut sudah dapat dipahami dan diambil kesimpulan, bahwa dalam melakukan perperangan harus memiliki strategi khusus untuk mengelabuhi lawan.

Selanjutnya ada juga hadis yang memerlukan prespektif sosiologis dalam memhaminya, tidak cukup dengan hanya memahmi teks atau matan hadis saja, namun dibutuhkan juga penelusuran yang mendalam untuk memahaminya serta mengkaji bagaimana asbabul wurud hadis tersebut. Contohnya hadis tentang kepemimpinan wanita yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Dari Abu Bakrah, ia berkata: Allah telah menyadarkanku melalui kalimat-kalimat yang aku dengar dari Rasul Saw ketika aku hampir saja ikut terlibat dalam peristiwa perang Jamal (unta). Yaitu ketika disampaikan kepada Nabi Saw bahwa bangsa Persia telah mengangkat anak perempuan Kisra sebagai penguasa (ratu) mereka. (Pada saat itu) Nabi Saw. mengatakan: Tidak akan pernah beruntung bangsa yang diperintah perempuan.” (HR. Bukhari).

Dalam hadis ini dijelaskan bahwa, ketika hanya memahami hadis secara tekstual atau hanya dengan melihat makna matannya saja, maka mereka akan berasumsi bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin, karena dalam hadis dikatakan bahwa “tidak akan pernah beruntung bangsa yang diperintah perempuan”. Namun setelah dilihat dari aspek sosiologis ternyata makna itu bukan bersifat umum, melainkan bersifat khusus. Dalam tulisan Nawer Yuslem (2010) dikatan bahwa “pada masa lahirnya hadis, sejalan dengan lingkungan kultural yang ada pada masa itu, kata mar’atun berarti makhluk hidup yang sedang dalam proses diangkat status dan derjatnya oleh Islam, yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw dari kerendahan dan keterpurukan status, terutama pada masa sebelum Islam datang. Derajat kaum perempuan pada masa itu berada di bawah derajat kaum laki-laki. Perempuan tidak memiliki hak untuk ikut serta mengurusi kepentingan masyarakat (umum), apalagi urusan politik. Kenyataan tersebut terjadi di Persia dan juga di Jazirah Arabia”.

Melihat konteks sosial pada saat itu, kultur di daerah persia menjadikan derajat perempuan lebih rendah dari pada derajat laki-laki. Tidak hanya itu, keaadaan masyarakat yang tidak stabil, banyaknya perpecahan dan pertikaian yang terjadi di antara masyarakat Arab Persia. Jika perempuan diangkat menjadi pemimpin pada saat itu, maka tidak akan beruntung daerah tersebut. Jadi kesimpulan dari pemaparan di atas adalah bahwa kita dapat memahami hadis tanpa perspektif sosiologis dan juga bisa memahami hadis secara tekstual dan kontekstual, semua itu tergantung pada isi atau matan hadisnya.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: