Menyoal Esensi Mudik di Tengah Pandemi Covid-19

Pemerintah Indonesia per 24 April 2020 telah resmi memberlakukan kebijakan larangan mudik. Menyusul larangan tersebut, dalam beberapa waktu terakhir sempat muncul polemik tentang penggunaan istilah mudik dan pulang kampung. Akan tetapi perbedaan penggunaan istilah tersebut bukanlah sesuatu yang esensial. Poin yang lebih penting adalah apakah kita mau disiplin mengikuti ataukah masih membandel dengan berbagai alibi pembenaran. Terlebih bagi masyarakat yang tinggal di zona merah atau epicentrum penyebaran covid-19, mudik akan semakin beresiko. Orang bisa saja nampak sehat, tapi tanpa disadari justru menjadi carrier bagi virus yang siap untuk menyebar secara sporadis.

Harus diakui, melewatkan mudik yang hanya terjadi setahun sekali ini bukanlah sesuatu yang mudah. D.C. Thomas dan A. A. Pekerti (2003) mengemukakan bahwa, Indonesian people are a society that embraces a culture of collectivism. Salah satu manifestasi dari budaya kolektivitas tersebut adalah dengan mudik. Mudik selalu dinantikan oleh umat Muslim di Indonesia dengan penuh suka cita. Dipandang dari aspek spiritual, mudik adalah ritual sakral untuk pulang demi saling bermaafan setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan selama sebulan penuh. Sedangkan bila dipandang dari aspek kultural, mudik adalah fenomena kembalinya imajinasi masa lalu tentang nostalgia kampung halaman, serta tentang napak tilas identitas kultural dan genealogis seorang manusia.

Begitu tinggi nilai filosofis dari ritual mudik secara spiritual maupun kultural. Tapi bila kita menengok fakta dalam masyarakat kita, kadang mudik sebagai tradisi kultural justru terdistorsi dari esensi spiritualitasnya. Akibatnya mudik seakan-akan tak jauh beda dengan festival, karnaval, atau perhelatan pesta semata. Hiruk pikuk mudik dapat kita saksikan melalui padatnya ruas-ruas jalan yang dipenuhi oleh kendaraan menjelang Idul Fitri. Gairah akan mudik memang sudah sewajarnya tinggi, karena bagi seorang Muslim mudik untuk merayakan Idul fitri di kampung halaman adalah manifestasi dari kemenangan melawan hawa nafsu setelah sebulan ditempa. Namun demikian, kondisi tahun ini sangat berbeda. Kebijakan larangan mudik sudah barang tentu dipandang tidak populer oleh sebagian masyarakat.

Merubah Pola Pikir

Kita semestinya percaya bahwa pemerintah tidak asal dalam menerbitkan sebuah kebijakan berskala besar. Tentu berbagai pertimbangan dari para ahli telah dijadikan referensi sebelum mengetok palu kebijakan. Ingat bahwa dalam hal kebajikan, taat kepada pemimpin adalah suatu kewajiban sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (QS. An Nisa’: 59). Namun faktanya masih banyak sekali masyarakat yang memaksa mudik. Memang ada alasan urgent yang memaksa seseorang untuk tetap mudik, seperti ketiadaan pemasukan yang membuat kondisi perekonomian mereka memburuk. Kondisi tersebut masih bisa dimaklumi jika mereka belum mendapatkan bantuan sosial yang memadai. Namun bagaimana dengan sekedar alasan bisa mudik karena punya kendaraan pribadi sehingga tidak mau diatur.

Bila kita telisik lebih jauh, memaksa mudik kadang juga tak lepas dari ego manusia. Sebagai contoh, dari tahun ke tahun semakin banyak pemudik yang membawa mobil pribadi. Masalahnya tak semua dari mereka yang mudik membawa mobil karena dilandasi faktor kebutuhan. Misalnya untuk menunjukkan eksistensi kepada kerabat di kampung. Meskipun kalau boleh jujur, belum tentu mobil yang dibawa pulang tersebut merupakan milik pribadi. Sebagian adalah milik kantor, sewa, pinjam, dan lain sebagainya. Disadari atau tidak, ini menunjukkan bahwa membawa mobil ketika mudik dipandang sebagian masyarakat sebagai salah satu indikator kesuksesan yang dapat meningkatkan gengsi di kala reuni.

Dalam hal ini saja kita sudah harus merubah pola pikir yang mana menanamkan paradigma bahwa salah satu indikator negara modern. Paradigma mengenai masyarakatnya yang semakin banyak menggunakan kendaraan pribadi, melainkan moda transportasi publik. Apalagi kita melihat transportasi publik seperti bus antar kota dan kereta api dari hari ke hari juga semakin memperbaiki kualitas layanan. Hal tersebut dapat kita lakukan dalam kondisi normal. Nah di masa pandemi dimana kita diminta untuk stay at home ini, tentu perilaku pemudik berbasis gengsi cenderung membawa mudharat baik untuk diri mereka sendiri maupun bagi masyarakat.

Not Together, But Still Gather

Beberapa pengamat mengatakan bahwa justru kalau mudik itu dilarang, akan ada perlawanan sosial kepada pemerintah dan akan menjadi letupan yang memicu malapetaka sosial lebih besar. Pandangan tersebut tidak dapat kita telan mentah-mentah karena bagaimanapun itu sebatas pendapat dimana antara yang satu dengan yang lain bisa berbeda. Apalagi bukankah kita sudah terbiasa melihat pendapat pakar yang berbeda selama pandemi covid-19 ini. Untuk mendudukkan pandangan tersebut secara lebih netral, kita dapat belajar dari pengalaman beberapa negara seperti Spanyol dan Italia. Ketidakpatuhan pada intruksi pemerintah untuk tetap di rumah berakibat fatal dan merenggut banyak korban.

Jika kita lihat di India, mudik secara brutal justru menimbulkan chaos hingga sering kita lihat berita polisi setempat memukuli para pemudik. Sebagai warga negara yang baik, bukan saatnya kita selalu menyalahkan pemerintah karena itu tidak akan menyelesaikan masalah. Kita perlu menghargai berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Oleh karena langkah terbaik yang dapat kita lakukan saat ini adalah patuh tapi tetap kritis, agar kita tidak harus menghadapi kemungkinan lebih buruk.

Jika sudah demikian, kita perlu untuk lebih menata hati, bersiap menyambut Idul Fitri yang kali ini akan sangat berbeda dari biasanya karena tidak ada sholat ied berjamaah yang dilanjutkan halal bil halal. Sekali lagi kita perlu menekankan bahwa esensi dari mudik adalah silaturahmi, bukan adu gengsi. Kita masih bisa memanfaatkan teknologi informasi sebagai media pengganti. Toh selama ini masyarakat kita sudah sangat akrab dengan berbagai media aplikasi dan sanggup duduk berjam-jam menghabiskan waktu di depan layar, jadi lantas kenapa sekarang malah ribut jika untuk kebaikan. Bersilaturahmi lewat media daring jelas berbeda rasanya dengan tatap muka. Tapi paling tidak rindu kita pada keluarga tetap tersampaikan. Walau tak bersama kita tetap bisa berkumpul. Not together, but still gather.

Bayu Mitra A. Kusuma

Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

2 tanggapan untuk “Menyoal Esensi Mudik di Tengah Pandemi Covid-19

  • Mei 13, 2020 pada 10:45 pm
    Permalink

    banyak yg pingin pulang kampung karena dikota sudah tidak ada mata pencarian lagi.

    Balas
    • Mei 14, 2020 pada 5:21 pm
      Permalink

      Betul, itu disebut di paragraf ke 4.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: