Menuju Keluarga Sakinah dengan Pencatatan Perkawinan

Pencatatan sebuah Perkawinan di Indonesia diatur dalam UU No. 1 tahun 1974, yang mana pada awalnya sudah ada didalam UU No. 22 tahun 1946 yang pada masa itu hanya berlaku di Jawa dan Madura, lalu pada tahun 1954 diberlakukan keseluruh Indonesia.

Pencatatan perkawinan kalau diperhatikan secara sekilas sepertinya berbentuk tulisan yang mencatat sebuah kejadian pernikahan, lalu apa manfaatnya?, Administrasi?, Apakah didalam Fiqih terdahulu untuk sebuah pernikahan memperhatikan masalah administrasi?.

Ditarik dimasa terdahulu yakni pada masa Rasulullah yakni Nabi Muhammad Saw. Yang mana pernah memerintahkan untuk mengumumkan jika ada sebuah Pernikahan, pada waktu itu pengumuman berupa ketukan-ketukan. Karena pada masa itu belum adanya pemikiran Saksi sebuah Pernikahan, apa bila kita perhatikan sebuah pernikahan ada Aqad, dalam jual beli ada Aqad yang mana disunnahkan adanya beberapa Saksi, kalau dalam halnya jual beli saksi memang dibutuhkan untuk menghindari adanya kelupaan perjanjian pada transaksi oleh dari salah satu dari dua orang yang melaksanakan Aqad jual beli tersebut. Kalau dalam Pernikahan apakah sama? Apakah salah satu mempelai akan lupa mereka pernah Menikah?, kemungkinan kecil akan terjadi. Tetapi disini saksi digunakan untuk Pengumuman seperti pada Perintah Nabi Muhammad Saw. tersebut. Yang mana untuk menghindari suatu salah paham, perasangka buruk baik dari keluarga maupun tetangga sekitar maka sebuah pernikahan harus diumumkan diberitakan kesemuanya bahwasannya sepasang laki laki dan perempuan tersebut telah Sah menjadi Suami Istri. Maka dari itu saksi saksi tersebut ada diharapkan menjadi Penyamapai berita kepada khalayak ramai tersebut.

Pencatatan perkawinan memang adalah sebuah bentuk Administrasi, yang mana nanti lahirlah sebuah Akta Pernikahan dikeluarkan Lembaga terkait Pencatatan Perkawinan yang diatur Oleh Undang-undang di Pemerintahan Indonesia. Kantor Urusan Agama atau KUA Kecamatan adalah lembaga yang mengurus masalah Pencatatan Perkawinan untuk Umat Islam di Indonesia. Pencatatan ini sama halnya dengan Pengumuman bahwasannya kejadian sebuah Pernikahan sepasang suami istri yang sah sehingga tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari dan juga jika ada permasalah dikemudian hari akan sangat mudah diselesaikan.

Menurut saya Pencatatan Perkawinan bukan hanya sebuah Administrasi, karena memang sangat bermanfaat. Coba bayangkan jika tidak ada sebuah Pencatatan perkawinan maka apa saja yang akan terjadi? Poligami bebas, jika tidak ada Pencatatan Pernikahan maka seorang laki-laki dengan mudahnya untuk menikah lagi, tidak aka nada yang bias menghentikan usahanya tanpa kekuatan Hukum karena tidak ada catatan bahwasanya laki-laki tersebut pernah menikah, dan inilah yang menimbulkan banyaknya Pernikahan Siri, pernikahan yang sah menurut Agama Islam tapi tidak diakui oleh Pemerintah maka tidak memiliki kekuatan Hukum. Pernikahan dibawah Umur, adanya Pencatatan Nikah dan rangkaian didalamnya maka banyak sekali data yang diperlukan dan banyak selaki yang telah diatur oleh Undang-undang didalamnya, salah satunya Umur calon mempelai, umur pernikahan di Indonesia telah diatur dalam UU No. 1 tahun 1974 yang telah direvisi pada tahun 2019, bias dikatakan jika tidak ada pencatatan perkawinan yakni maka tidak adanya lembaga pencatat tersebut maka semuannya bebas melakukan Pernikahan, karena hamper disetiap Agama tidak ada aturan untuk masalah Umur pernikahan.

Bisa kita perhatikan Indonesia pada zaman dahulu apa lagi sebelum Merdekannya Indonesia, banyak ditemukan permasalahan permasalah Suami dengan jumlah Istri lebih dari satu, bahkan tanpa kita pungkirin Orang tua terdahulu bahkan menikah dengan umur yang sangat muda rata rata 15 tahun kebawah. Kita sama sama tau penyebab dari permasalahan permasalahan tersebut, dampak negatifnya lumayan buruk.

Nikah sirih, upaya lari dari kenyataan yang ada, memang menurut Agama Administrasi tidak diatur didalamnya, tapi apakah banyak keluarga yang bahagia dengan Nikah sirih?, dan lagi-lagi Wanitalah yang menjadi Tumbal, menjadi Korban yang dirugikan. Di Indonesia pernikahan yang sah adalah pernikahan yang sah menurut Agama masing-masing dan kepercayaannya. Dan tujuan adanya Pemerintah disini untuk ketertiban Umum, maka dari itu adanya Undang-undang yang berlaku agar setiap Orang di Negara ini memiliki kekuatan hukum dan jaminan perlindungan bagi yang membutuhkan, banyak sekali korban wanita dan anak dari kasus pernikahan sirih tersebut.

Sebuah bangsa bias berhasil, bias menjadi maju berawal dari Masyarakat yang unggul. Setiap Individu yang mengisi di masyarakat adalah orang orang dari keluarganya, maka dari keluarga baik tercipta masyarakat yang tertib. Jadi sebuah Negara bagi saya berasal dari Keluarga kecil, seorang anak yang lahir dan terdidik oleh keluarga kecil terjun dimasayarakat dan turut serta meneruskan perjuangan untuk Negara, generasi muda yang cerdas penerus bangsa di didik oleh keluarga yang baik maka siap melakukan kebaikan dan menciptakan ketertiban dan tidak menimbulkan permasalahan disekitarnya. Jadi usaha usaha pemerintah yang mana diserahkan kepada lembaga terkait untuk memberikan usaha menciptakan keluarga sakinah mawadah warohmah itu sangat penting, di Kementrian Agama yakni Kantor Urusan Agama Kecamatan yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab tersebut, jadi pencatatan pernikahan dampaknya banyak dan lembaga terkait adalah yang menjadi Pahlawannya.

Dinegara Negara lain, untuk terkait pernikahan sangatlah ketat bahkan sebuah pernikahan harus memiliki dua tanda tangan Notaris seperti di Maroko, jadi tidak hanya sekedar saksi biasa tapi harus menyewa seorang Notaris setiap mempelai. Dan masih banyak Negara Negara lain dengan macam macam peraturannya, ini semua untuk menciptakan ketertiban dan setiap orang dinegaranya yang terjamin perlindungan Hukumnya oleh Pemerintah.

Pencatatan Perkawinan walau bukan menjadi sahnya sebuah Pernikahan tapi dampaknya yang sangat besar menjadi aman dan tenteramnya kehidupan umat, maka dari itu Hukum Islam di Indonesia sangat ketat memperhatikan terkait permasalahan tersebut, karena memang benar zaman yang terus berkembang dan waktu yang terus maju menciptakan banyak sekali problem yang bahkan tidak mungkin terpikirkan dizaman Hukum awal diciptakan, maka kajian kajian yang terus dikaji oleh para Ulama sangatlah penting untuk masa depan Negara ini.

Abdul Razak

Mahasiswa Penuh semangat ; Suka Debat ; Suka mengamati Sosial ; Hobi Traveling ; Banyak yang bilang Aktivis ; Trainers Public Speaking Lp2kis Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: