Menikah di Usia Dini, Bagaimana Dampaknya?

Perkawinan menurut undang-undang perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk  keluarga (rumah tangga) yang bahagia kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

Pengertian lebih luas, pernikahan merupakan salah satu ikatan lahir batin laki-laki dan perempuan untuk hidup bersama dalam satu rumah tangga dan keturunan yang dilangsungkan menurut ketentuan-ketentuan syari’at Islam, Firman Allah swt. dalam Q.S Al-Nisa/04:1

 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Terjemah arti:

“Wahai manusia! Bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari yang satu (Adam) dan (Allah) menciptakan pasangan (Hawa) dari (diri) nya, dan dari diri keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Namun, perlu diketahui bahwa pernikahan tidak bisa dilangsungkan begitu sja oleh semua orang dari berbagai usia. Karena dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia diatur pada Udang-Undang No. 16 Tahun 2019, pernikahan diperbolehkan apabila pihak pria maupun wanita sudah berumur 19 tahun. Dengan begitu, pernikahan hanya diperbolehkan bagi pasangan calon suami isteri yang berusia minimal 19 tahun. Orang yang menikah dibawah batas usia minimal tersebut dapat meminta dispensasi kawin kepada Pengadilan, sesuai dengan Pasal 7 ayat (2) UU No. 1 Tahun 1974. Pernikahan dibawah batas usia yang telah di tetapkan biasa disebut dengan pernikahan dini.

Membincangkan mengenai pernikahan dini sebenarnya sudah menjadi hal yang biasa di Indonesia. Pernikahan dini sendiri adalah sebuah bentuk ikatan pernikahan yang salah satu aatu keduanya belum mencapai batas usia minimal yang telah ditetapkan.

Fenomena pernikahan dini tentunya disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Menikah di usia yang masih belia pastinya tidak semata-mata terjadi dengan begitu saja. Beberapa faktor yang mempengaruhi pernikahan dini, yaitu: Pertama, faktor rendahnya pendidikan orang tua, anak, dan juga masyarakat cenderung pada pilihan untuk menikahkan anaknya yang masih dibawah umur tanpa memikirkan dampak yang akan dihadapi kedepannya. Kedua, orang tua yang mengkhawatirkan anak gadisnya menjadi perawan tua jika tidak segera dinikahkan. Ketiga, karena keadaan ekonomi keluarga. Faktor ekonomi yang dilatar belakangi oleh kemiskinan merupakan alasan beberapa orang melakukan pernikahan dini, pada umumnya hal ini terjadi karena orang tua menikahkan anak perempuannya untuk mengurangi beban ekonomi. Keempat, faktor lain yang menjadi penyebab pernikahan dini adalah faktor tradisi, adat maupun agama. Perjodohan yang dilakukan masyarakat adat sering dibeberapa daerah masih berlaku hingga saat ini. Faktor agama biasanya diidentikkan dengan sunnah nabi Muhamad Saw. Kelima, faktor hamil diluar nikah yang sering dijumpai dalam kasus pernikahan dini. Hampir 99% kasus dispensasi nikah yang diajukan di pengadilan dengan alasan hamil diluar nikah.

Pernikahan dini atau pada usia muda memiliki beberapa dampak yang perlu kita ketahui. Adapun dampak dari pernikahan dini adalah:

  1. Dari segi psikologis

Di dalam pernikahan dini tidak akan mudah menebak apakah pihak perempuan atau laki-laki yang dapat mengendalikan emosi. Dengan usia yang masih belia kondisi emosi suami isteri sama-sama masih labil, belum bisa mengkontrol emosi dengan baik. Biasanya mulai menghadapi banyak masalah ketika sudah mempunyai anak, karena belum siap secara mental untuk menjadi orang tua.

Tekanan psikologis yang dihadapi juga dapat berakibat pada konflik yang berakhir dengan perceraian. Remaja yang belum siap menghadapi guncangan dalam berumah tangga akan berpengaruh pada kesehatan mental. Konflik yang terus-menerus muncul antara suami dan isteri, dikhawatirkan akan berakibat pada perceraian karena tidak menemui solusi atas masalah yang tengah dihadapi.

  • Dari segi sosial

Dampak sosial bagi pasangan suami isteri nikah dini yakni tekanan sosial dari lingkungan sekitarnya. Karena faktor usia yang belum mencukupi untuk melakukan pernikahan, biasanya kesadaran terhadap tanggung jawa sebagai suami isteri masih kurang, dan itu dapat menjadi tekanan antara keduanya. Tekanan juga bisa didapat dari orang-orang sekitar seperti keluarga, kerabat, bahkan dari tetangga sekitar tempat tinggal. Biasanya tekanan yang didapat berupa tuntutan kepada pasangan suami isteri yang harus sesuai dengan kehendak mereka, misalnya suami dituntut menjadi kepala rumah tangga yang harus menafkahi keluarganya dan istri diharuskan mengurus anak dan mengurus rumah dengan baik.

  • Dari segi medis

Kehamilan pada usia yang masih muda mempunyai risiko yang sangat tinggi saat persalinan bagi bayi yang dikandung dan juga bagi ibu. Hal ini dikarenakan kondisi tubuh sang ibu yang masih belum siap untuk menjalani proses persalinan, seperti panggul yang sempit. Ibu hamil pada usia remaja juga berisiko mengalami anemia atau kekurangan darah, biasanya pemicunya adalah asupan gizi yang tidak terpenuhi.

Selain itu remaja yang berhubungan seksual pada usia muda rentan terkena penyakit seksual. Risiko terhadap penyakit menular seperti HIV, terbukti meningkat pada pasangan yang berhubungan seksual pada umur dibawah 18 tahun. Hal ini disebabkan karena minimnya pengetahuan akan hubungan seksual yang sehat dan aman membuat mereka berhubungan seksual tanpa menggunakan pengaman.

Melihat berbagai dampak yang ditimbulkan akibat menikah diusia dini, kita sebagai masyarakat yang faham akan hal tersebut berkewajiban memberikan pemahaman bagi orang-orang disekitar kita yang belum faham dampak dari pernikahan dini. Hal ini dilakukan guna menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah kedepannya.

Lina Miftahul Jannah

Mahasiswa Program Studi Hukum keluarga Islam, Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: