Mengenal Sosok Gus Sholah

Dr. (H.C.) Ir. H. Salahuddin Wahid atau yang akrab dengan panggilan Gus Sholah lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 11 September 1942. Ayahnya adalah Wahid Hasyim, dan kakeknya adalah Hasyim Asy’ari pendiri Nahdatul Ulama (NU). Beliau adik kandung Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal Gus Dur.  

Dalam perjalanan hidupnya, beliau dikenal sebagai pengasuh pondok pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Jejak pendidikan beliau yakni dari SMPN 1 Cikini dan SMAN 1 Jakarta, lalu melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan memilih jurusna Arsitektur. Beliau menikah dengan putri mantan Menteri Agama Saifuddin Zuhri yakni Farida dan dikaruniai tiga anak.

Pergulatan di pemerintahan Indonesia Gus Sholah pernah menjabat sebagai anggota MPR pada 1998 hingga 1999. Setelah itu, ia menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hingga 2004. Pada saat yang sama pernah menjadi wakil Ketua Komnas HAM antara tahun 2002-2007. Selama di Komnas HAM, ia diketahui pernah memimpin Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki kasus pelanggaran HAM berat di kala itu. Pada 2004, ia mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden mendampingi Wiranto. Meski pencalonannya didukung oleh empat partai, termasuk Partai Golkar, namun Gus Sholah harus menerima kenyataan kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla.

Karya-karya

Semasa hidupnya Gus Sholah banyak memberikan pemikiran dan gagasannya di sejumlah media massa. Tulisan beliau banyak menyoroti berbagai persoalan umat dan bangsa. Selain tulisan-tulisan yang dimuat dalam media massa, Gus Solah telah menerbitkan sejumlah buku. Buku pertamanya berjudul “Negeri di Balik Kabut Sejarah: catatan-catatan pendek Salahuddin Wahid” yang terbit pada tahun 2001. Pada tahun yang sama dia kembali menerbitkan buku berjudul “Mendengar suara rakyat: catatan-catatan pendek Salahuddin Wahid”.

Buku berikutnya yakni “Menggagas Peran Politik NU” yang terbit pada 2002. Aktif setiap tahunnya, dia kembali menerbitkan buku berjudul “Basmi Korupsi, Jihad Akbar Bangsa Indonesia” pada 2003. Satu tahun berikutnya dia menerbitkan buku berjudul “Ikut Membangun Demokrasi, Pengalaman 55 Hari Menjadi Calon Wakil Presiden” pada 2004.

Gus Sholah sempat berhenti menulis, ketika pemilu maju sebagai calon wakil presiden dengan Wiranto. Gus Solah baru melanjutkan karyanya pada 2011 dengan menerbitkan 2 buah buku berjudul “Transformasi Pesantren Tebuireng: menjaga tradisi di tengah tantangan” dan “Berguru pada realitas: refleksi pemikiran menuju Indonesia bermartabat”

Selamat Jalan, Gus…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: