Menu Tutup

Memahami konteks hadis Man Tasyabaha Biqaumin Fahuwa Minhum

Berbicara soal Tasyabbuh, hal ini terus menjadi perbincangan hangat disetiap tahunnya.  Dan makna tasyabbuh secara umum adalah meniru/menyerupai. Namun menurut Muhammad Al-Ghozi Asy-Syafi’i tasyabbuh bermakna, ‘’sebuah upaya seseorang yang di perlihatkan dengan tujuan meniru sesuatu yang ingin dia tiru, baik itu pakaiannya, perbuatannya maupun sifat-sifatnya’’.

Hal ini sebenarnya di latar belakangi atas sebuah hadis Nabi dari riwayat  imam Abu Daud. Potongan hadisnya adalah  : مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم  (HR. Abu Daud no Hadis 4031).    Adapun pada waktu itu, Nabi menyampaikan hadis ini disaat kondisi perang, sehingganya hal ini berkemungkinan ada unsur politik. Begitu juga di masa Syaikhul islam Ibnu Taimiyah yang menjadikan hadis ini sebagai sebuah dasar dalam hal membangun peradaban umat islam agar berbeda identitasnya dengan identitas orang-orang kafir pada masa itu. Tentu sikap ini terjadi karena kondisi saat itu sedang dalam masa-masa peperangan. lantas apakah hal seperti ini masih berlaku di masa yang damai untuk saat sekarang ini ?. tentu hal semacam ini perlu di teliti dan di tela’ah lagi bagaimana para ulama menyikapinya.       

Maka dari itu perlu diperhatikan dulu bagaimana pandangan ulama mengenai hadis tersebut. Disini penulis ingin mengutip pandangan Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengenai hadis tersebut. ‘’beliau jelaskan dalam kitabnya Fathul Bari. bahwa para ulama masih berselisih pendapat mengenai kualitas hadis tersebut, disebabkan seorang perawi yang bernama ‘Abdul Rahman bin Tsabit bin Tsaubah yang memiliki cacat dalam meriwayatkan hadis tersebut. an-Nasa’I menilai bahwa Abdul Rahman ini seorang yang Laysa bi tsiqah, ini diterangkan dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala’ , karangan Imam Adz-Zahabi. Selain itu imam Ahmad bin Hanbal menilai bahwa riwayat hadisnya mungkar, dan Imam Yahya bin Ma’in berpendapat kalua ‘Abdul Rahman ini seorang rawi Laysa bihi ba’s (tidak mengapa/apa-apa), akan tetapi Ibnu ‘Adi tetap menulisnya hadis tersebut, sekalipun hadisnya berstatus dhoif ’’.   

Beranjak dari status hadis tersebut shohih maupun dhoif, kita tidak dapat mengingkari atas kepopuleran hadis itu di kalangan masyarakat muslim, terlebih lagi umat islam di Indonesia. Maka dari itu perlu sama-sama kita pelajari dan kita dengar bagaimana pandangan ulama sekarang ini dalam hal menyikapi hadis tasyabbuh tersebut. Fakta yang terjadi saat sekarang ini adalah orang-orang non -Muslim lebih maju dari umat islam dalam hal teknologi umpamanya. Banyak negara-negara mayoritas non-Muslim yang menjadi pusat perkembangan teknologi dunia, sehingga hal itu menuntut kita umat Islam untuk belajar dan mencontoh bagaimana perkembangan teknologi begitu pesat di Barat misalnya. Apakah hal semacam ini termasuk tasyabbuh ? memang hal semacam ini tasyabbuh namun konteksnya berbeda dengan apa yang terjadi di masa Rasulullah. 

Kemudian dari pada itu ada hadis lain yang kuat dan shohih, yang membicarakan persoalan tasyabbuh ini. Ada sebuah hadis nabi tentang perbuatan nabi yang merobah gaya sisir rambut dengan meniru gaya orang-orang Yahudi dan Nasrani di masa itu. Hadis ini terdapat dalam Shohih Bukhari, terjemahan hadisnya adalah ‘’Ibnu Abbas pernah berkata,’’Sesungguhnya Rasulullah menyukai untuk menyerupai Ahlul Kitab dalam hal yang tidak diperintahkan (diluar masalah Aqidah dan Ibadah)’’ HR. Bukhori’’. Dari uraian hadis ini bisa kita lihat bahwa islam itu bukanlah agama yang kaku dan mengikat. Namun terkadang ada beberapa kelompok dari golongan orang islam yang mempersempit syariat islam itu sendiri. Maka sebagai penutupnya disini penulis mengutip sebuah ceramah dari (Alm) KH. Ali Mustafa Ya’qub tentang Hadis Tasyabbuh ini. Beliau mengatakan ‘’Hadis   مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمMerupakan hadis nabi yang diperdebatkan oleh banyak ulama mengenai kevalidan hadis tersebut. Ada ulama yang mengatakan shohih, namun ada pula yang mengatakan dhoif. Seandaikan hadis ini berstatus shohih, maka maksud dari isi hadisnya adalah meniru orang kafir dari segi cara berpakaian dan sifat-sifat khusus mereka yang bertolak belakang dengan islam. Namun banyak orang yang tidak menyampaikan bahwa ada hadis shohih dari imam Bukhori, dari Ibnu Abbas. Isi hadis tersebut adalah Rasulullah merubah gaya sisir rambutnya yang semula ada jambul (gaya Musyrikin), namun di lain waktu Rasul menyisir rambutnya dengan model belah tengah (gaya Yahudi dan Nasrani). Maka sebenarnya Rasul suka menyamai orang Nasrani maupun Yahudi, selama itu tidak berkenaan dengan Aqidah dan Ibadah orang Islam’’. 

Wallahu a’lam

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: