Menu Tutup

Kritik Terhadap Keilmuan Dikotomis

Kembali menelaah isu yang sebetulnya tidak lagi baru, tetapi masih bisa ditelaah dengan beragam perspektif; yaitu dikotomi antara keilmuan agama(islam) dan sekular. Di sini mencoba dilihat dari beragam aspek dan kajian—meski tidak seteoretis mungkin. Tetapi setidaknya dapat dijangkau sekalipun dengan nalar yang cukup pendek. Serta yang perlu dicatat bahwa ini bukan sebuah pengagungan terhadap pemikiran. Sehingga secara tidak langsung meminggirkan pokok-pokok dogma yang absolut.

            Untuk mempersingkat, sudah jelas bahwa islam turun dengan kitab sucinya sebagai respon. Sebagai tanggapan terhadap apa yang terjadi di alam pada masa turunnya itu, mencakup seluruh aspek. Baik sosial, budaya, sampai politik, sehingga al-Quran turun(meski tidak selalu) dengan sebab-sebab(asbabun nuzul) dalam konteks tertentu. Respon ini yang bisa menjadi bantahan, bahwa islam adalah agama yang mampu menjawab zaman. Meski pada zaman selanjutnya, diperlukan kajian-kajian yang lebih sistematis.

            Seolah menjadi persoalan pelik, ketika dikaitkan dengan ilmu yang bukan tentang keagamaan. Ilmu-ilmu yang tidak bersumber pada al-Quran tersebut, melainkan melewati sebuah fase penelitian. Hingga kemudian dibuktikan dengan fakta yang empiris. Tidak mudah tentu mempertemukan titik antara keilmuan yang bersumber dari al-Quran langsung dengan ilmu yang muncul dari beragam kajian terhadap kosmos. Akan menyulut debat kusir yang tidak berujung ketika harus mempertemukan kedua ujung tersebut. Meski pada titik hakikinya, keduanya tidak bisa dipertetangkan.

            Ilmu-ilmu keagamaan, cenderung diterima dengan lapang. Tanpa koreksi, kritik dan pembuktian yang empiris. Sementara ilmu non-agama, untuk kemudian disebut sebagai pengetahuan harus melewati pembuktian empiris. Pintu kritik terhadap ilmu yang kedua ini tidak pernah tertutup. Jika semisal di belakang hari, terbukti—tentu dengan landasan yang tidak kalah empiris—salah, ia bisa direkontstruksi. Berbanding terbalik dengan ilmu agama. Kata kasarnya, pikiran dalam konteks dogma yang absolut ini tidak diperlutkan.

            Suatu titik yang mengerikan dalam agama islam sendiri adalah batasan-batasan yang curam. Sehingga tidak sedikit pengkafiran, dan label sesat dilempar apabila dinilai(dengan kacamata kuda) melenceng. Sikap-sikap menolak keterbukaan seperti ini lazim melekat pada kaum-kaum konservatis dan ekslusif. Sehingga jalan kebenaran terhadap ilmu yang non-agama dianggap tidak ada, serta ilmu tersebut tidak penting dipelajari.

            Mulai terlihat, bagaimana pemikiran sumbu pendek yang mencolok di bagian ini. Arah pemikirannya terlihat jelas; ketuhanan, ibadah, dan ketakutan. Ketakutan yang dimaksud adalah ketakutan untuk menyalahi dogma-dogma yang mengakar. Dogma dipandang sebagai sesuatu yang sakral.  Meski dalam tulisan ini, saya tidak hendak mengkritik dogma yang nyata-nyata absolut itu. Ketakutan dan penyakralan ini yang perlu dibuang jauh-jauh, islam sebagai agama yang dinamis dan menolak keterbelakangan. Sebagaimana di awal, agama islam lahir sebagai respon kepada alam.

            Patut dicatat, pengkultusan terhadap teks-teks dan ulama terdahulu cukup berbahaya di sini. Kecenderungannya adalah ikut-ikutan, tanpa pendirian. Meski di titik lain juga ada yang dilupakan. Ulama-ulama abad pertengah, sebut saja Al-Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, yang notabene lahir dari keilmuan islam tradisional juga ahli dalam bidang non-agama. Mereka paham, bagaimana perpaduan yang seharusnya terjadi anatara ilmu agama dan non-agama. Tetapi merekad dalam islam sendiri seperti terlupakan.

 Prof. Amin Abdulla, salah satu dosen UIN Jogja,  kemudian menanggapi dengan melahirkan paradigma integrasi-interkoneksi. Dalam paradigma tersebut, ilmu agama tidak cukup hanya dikaji melalui satu sisi. Tetapi ada sisi-sisi lain yang tidak boleh dilupakan. Sehingga islam sebagai agama yang dikonsepkan rahamatn lil alamin dapat tercapai dengan konsep ini. Tidak ada penyalahan terhadap ilmu-ilmu yang basisnya bukan agama. Sebagai suatu perpaduan untuk mecapai kemaslahatan. Titik temu dengan ilmu agama adalah, menolak keburukan(dar’ul mafasid) dan mengambil kebaikan(jalbul mashalih).

Akhirnya, diharapkan tidak ada lagi dikotomi terhadap dua kutub keilmuan yang sering dipertentangakan. Sebagai sebuah jalan bagaimana islam kembali merebut kejayaan sebagaimana pada imperium Abbasiyah waktu itu. Tidak adanya dikotomi tersebut yang menjadi semacam jalan lapang bagi terbentuknya perdaban baru di dalam lingkup islam. Patut memang menelaah bagaiamana Abbasiyah waktu itu dengan spirit prioritas terhadap keilmuan—itu dibuktikan sebab asimilasi dengan bangsa lain yang sudah lebih dulu mengenyam ilmu-ilmu. Tanpa pandang bulu serta alergi terhadap ilmu sekular, tentu hal itu sangat membantu dalam progesifitas islam itu sendiri.

Dalam kacamata yang lebih lampau, sebut saja misal Ibn Hazm(meninggal 1064 M), ia meyakini dengan betul bahwa tidak ada dikotomi dalam islam itu sendiri. Dalam pendidikan anak, misal, ia menganjurkan orang tua dan guru untuk terlibat dalam proses pembangunan karakter. Pertama, hal itu dimulai dari mengajarkan ilmu-ilmu syariat atau keagamaan, hingga kemudian diikuti oleh ilmu non agama; matematika, fisika, dan lain-lain. Ini adalah sebuah upaya dari pemikir asal Spanyol tersebut agar tidak ada dikotomi dalam diri manusia. Lebih-lebih dikotomi yang tajam dalam memandang sebuah corak keilmuan.

Ketika kemudian ditarik lebih jauh ke belakang, atau bahkan kepada ulama-ulama besar, yang pemikirannya sampai saat ini masih bisa dirasakan. Al-Ghazali salah satu pemikir islam yang dalam perspektif orang barat dianggap salah satu orang berpengaruh setelah nabi Mauhammad. Dapat dibuktikan dengan spirit imam Ghazali yang tidak mendikotomi keilmuan, ia tidak pernah alergi terhadap ilmu yang basisnya bukan agama, secar gamblang. Konon, seluruh karya al-Ghazali di masing-masing bidang itu selalu menjadi babon. Meski, magnum opus-nya yanga paling masyhur adalah Ihya’ Ulumiddin.

Kemudian, Ibnu Rusyd, selain ahli fikih juga filsuf yang sangat terkenal. Bahkan di dunia barat—dengan sebutan Averroisme—ia lebih terkenal daripada di dalam islam sendiri. Ibnu Rusyd juga tidak memandang adanya dikotomi dalam khazanah keislaman, ia bahkan melahap hal-hal yang non agama, meski ia lahir dan besar dengan literatur  fikih klasik. Ia juga banyak mengomentari katrya-karya Imam Ghazali terutama dalam ranah filsafat. Hingga ia berhasil manghasilkan Tahufud at-Tahafud sebagai negasi terhadap Tahafud Falasifah-nya Imam Ghazali. Ini sekaligus membuktikan bahwa dialektika keilmuan sangat penting di sini.

Persoalan yang lebih lanjut, bagaimana membangun kesadaran terhadap dikotomi di atas. Hal itu adalah sesuatu yang disadari sekaligus tidak disadari. Karena orang-orang yang memilih tetap alergi terhadap keilmuan non agama, adalah mereka yang selalu menggebu-gebu dalam mempelajari ilmu agama. Sehingga, pertentangan anatara ilmu agama dan non agama semakin dibesar-besarkan bahkan samapai membengkak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: