Kontradiksi NU dan Muhammadiyah Dalam Penetapan Awal Bulan Hijriyah

Perbedaan pendapat bukanlah hal yang baru, sejak zaman dahulu perbedaan selalu menjadi penghias kehidupan manusia, baik dalam segi keagamaan, sosial, politik dll. Bahkan pada masa sekarang pun perbedaan merupakan hal yang lumrah. bahkan di Indonesia dengan beraneka ragam suku,budaya yang ada. Begitu juga dalam ranah islam sendiri ada beberapa alasan perbedaan pendapat terutama jika ditinjau dari segi penentuan awal bulan yaitu: (1) perbedaan memahami dalil, (2) posisi hilal, (3) acuan hisab yang berbeda, dan (4) adanya pengikut pendapat rukyah global[1].Dalam hal ini Organisasi-organisasi keagamaan di Indonesia ikut andil dalam mpenentuan awal bulan kamariyah,  Terutama NU (Nahdlatul ulama) dan Muhammadiyah ialah ormas yang telah berkiprah serta memiliki corak-corak tersendiri, perbedaan yang sering terlihat diantara keduanya ialah penetapan awal bulan qomariyah atau hijriyah khususnya penentuan awal Ramadhan dan awal bulan syawal. Bukan rahasia lagi jika keduanya merupakan symbol perbedaan di kalangan masyarakat karena konsep yang dimiliki cukup berbeda, sehingga sering kali terjadi perpecahan baik dalam masalah sosial, politik. Namun beberapa lama kemudian masyarakat sadar bahwa yang menjadi perbedaan ialah dalam hal-hal lahiriah bukan dalam hal-hal ushul.

Metode Rukyah dan hisab didasarkan pada dalil dalam Al Quran yaitu Rukyah sebagaimana Q.S. al Baqarah ayat 189, yang dijelaskan bahwa hilal yang terlihat merupakan petunjuk bagi manusia,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Artinya :”Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”.

 Begitu juga dengan hisab sebagaimana Q.S. Yunus ayat 5 bahwa diciptakannya matahari dan bulan sebagai petunjuk agar manusia dapat mengetahui bilangan tahun serta perhitungannya.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya :”Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”.

Bulan sabit pertama yang dapat dilihat setelah terjadinya konjungsi atau yang disebut sebagai Hilal ialah pokok pembahasan yang menyebabkan terjadinya perbedaan pemahaman antara ormas NU dan Muhammadiyah, sebagaimana dalil yang digunakan :

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا

Artinya: Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. ” (HR. Bukhari no. 1906 dan Muslim no. 1080).

Dalam hadist ini, NU dan Muhammadiyah memiliki konsep yang berbeda namun metode yang digunakan keduanya ialah perpaduan antara metode rukyah dan hisab. NU mempertahankan kriteria hisab imkanur rukyah (kemungkinan terlihat hilal) guna memastikan bahwa hilal yang muncul dapat dimungkinkan terlihat oleh mata manusia yaitu dengan ketinggian 2 derajat diatas ufuk setelah terbenamnya matahari, karena dibawah angka 2 derajat sangatlah sulit terlihat hilal apabila ingin memastikannya langsung di lapangan, selanjutnya apabila ketinggiannya bulan sudah 2 derajat atau lebih maka bisa dipastikan keesokan harinya merupakan awal bulan. Namun NU disini hanya menjadikan hisab sebagai pembantu dalam rukyatul hilal dilapangan dan menjadikan metode rukyah sebagai acuan utama dalam menentukan awal bulan.(terutama awal dan akhir Ramadhan)[2]

 Muhammadiyah menggunakan perpaduan antara metode hisab dan rukyah, namun muhammadiyah lebih condong ke metode hisab, tak seperti NU yang menjadikan hisab sebagai pembantu untuk rukyatul hilal. Kriteria hisab yang digunakan oleh muhammadiyah yaitu wujudil hilal (adanya hilal di atas ufuk), hilal tak mesti dapat telihat oleh mata atau teropong, namun apabila hilal telah terlihat di ufuk walaupun hanya 1 derajat /kurang dari 2 derajat padahal dalam ilmu hisab/falaq hilal dengan ketinggian kurang dari 2 derajat tidak dapat dilihat oleh mata telanjang, namun Muhammadiyah mempertahankan kriteria wujudil hilal adanya hilal diatas ufuk walaupun tak dapat terlihat oleh mata. Aabila hilal telah muncul diatas ufuk dengan ketinggian berapapun muhammadiyah akan menetapkan bahwa esok hari merupakan awal bulan hijriyah.

Permasalahan yang sering muncul dari perbedaan pendapat antara NU dan Muhammadiyah. Stigma  masyarakat yang meninggikan ego masing-masing seolah-olah menganggap pendapat orang lain salah. Padahal itu semua menggunakan dalil yang sama akan tetapi perspektif yang berbeda. Namun bisa saja keduanya akan berastu pada satu titik persamaan apabila dimungkinkan terjadinya cuaca buruk/berawan diseluruh indonesia sehingga tidak memungkinkan untuk rukyatul hilal maka kedua ormas tersebut mengambil langkah Istikmal/penyempurnaan jumlah hari pada bulan tersebut menjadi 30 hari. Maka antara NU dan muhammadiyah akan mengawali/mengakhiri bulan secara bersamaan.

Menyikapi perbedaan/ikhtilaf antara dua ormas tersebut maka jalan tengah yang diambil oleh pemerintah indonesia yang diwakili menteri agama RI yaitu  bekerjasama dengan pengadilan agama untuk mengadakan sidang isbat, sebagai penentu awal bulan hijriyah sebagaimana rukyatul hilal yang telah dilaksanakan di lapangan, apabila dalam sidang tersebut dikabulkan oleh hakim tunggal dalam sidang isbat rukyatul hilal maka sudah dapat dipastikan puasa akan dilakukan keesokan harinya. Berdasarkan penetapan tersebut maka kementrian gama mengumumkan kepada seluruh masyarakat indonesia bahwa puasa 1 ramadhan jatuh pada tanggal sesuai dengan penetapan pengadilan agama. Sebagaimana praktek ini dilakukan oleh sahabat pada zaman nabi muhammad dan selanjutnya Rasul sebagai kepala negara menetapkannya sebagaimana dijeaskan dalam hadist[3]

“Dari Abdullah bin Umar ia berkata: orang-orang berusaha melihat hilal (melakukan rukyatulhilal) lalu saya memberitahu kepada Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya saya telah melihat hilal, maka beliau berpuasa dan memerintahkan orang-orang agar supaya berpuasa”. (HR Abu Dawud, Daruquthni, dan Ibnu Hibban)


[1] https://alif.id/read/rizal-mubit/awal-ramadan-2019-nu-muhammadiyah-dan-pemerintah-kompak-mengapa-b218745p/

[2] Susiknan Azhari, “Karakteristik hubungan Muhammadiyah dan NU dalam menggunakan hisab rukyat” ,Jurnal Al Jami’ah vol 44 No. 2 2006, Hal. 457.

[3]  https://www.google.com/search?client=firefox-b-d&q=buku+fiqh+ikhtilaf+nu+dan+muhammadiyah  

Rahima Nawa Azkiya

Mahasiswa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: