Konstruksi Sosial Santri Terhadap Penggunaan Handphone di Lingkungan Pondok

Pada dasarnya kultur dari pondok pesantren merupakan kultur yang tertutup dari dunia luar. Maksud dari hal tersebut yaitu, seperti tidak boleh membawa handphone dan pembatasan keluar masuk lingkungan pondok pesantren bagi para santri. Hal tersebut dianggap sebagai suatu bentuk usaha agar para santri dapat dengan mudah dalam menerima ilmu yang diajarkan ustadz atau kyai. Berkembangnya sekolah berbasis pesantren di Indonesia, menjadikan sebuah model baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Aturan yang berlaku di sekolah berbasis pesantren ini tidak berbeda jauh dengan pesantren salaf, hal ini disebabkan karena mereka tinggal di asrama atau pondok. Apabila terdapat santri yang melanggar aturan tersebut, maka akan mendapatkan hukuman, sesuai apa yang dilanggar. Kebanyakan sekolah berbasis pesantren, tidak memperbolehkan santrinya membawa hp, sehingga dalam berkomunikasi dengan orang tua di rumah, biasanya disediakan oleh pengurus. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan adanya pelanggaran yang dilakukan oleh santri yang dalam hal ini membawa handphone kedalam lingkungan pondok.

Pengembangan Teori Konstruksi Sosial Peter L Berger dan Thomas Luckmann

Apabila dilihat melalui teori konstruksi sosial Peter L Berger dan Thomas Luckmann, yang menurut Berger menyebutnya dengan proses eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi (Rosidah, 2011:18). Ketiga proses tersebut secara berurutan, akan menciptakan suatu realitas sosial, yang mana realitas sosial merupakan konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu (Santoso, 2016). Dengan teori Berger dan Luckmann ini akan mendapati suatu alasan mengapa fenomena sosial ini dapat terjadi.

a. Proses Eksternalisasi

Proses eksternalisasi merupakan suatu proses bagi manusia mengekspresikan apa yang ingin ia lakukan. Dengan terus menerus kedalam lingkungannya. Maka proses eksternalisasi yang terjadi pada santri ini yaitu, ia mendapat suatu dorongan untuk membawa hp kedalam lingkungan pesantren. Ketika  mereka membawa hp dan selama tidak ketahuan oleh pengurus maupun guru, maka mereka tidak akan mendapat hukuman atas perbuatannya, yang kemudian membuatnya semakin berani melakukan tindakannya, sehingga keinginannya tercurahkan secara terus menerus. Hal ini juga menjadi suatu bentuk dorongan bagi santri yang dalam teori konstruksi sosial sebagai eksistensi diri di dalam dunia di mana ia tinggal atau berada (Kartika, 2016).

b. Proses Objektivasi

Proses selanjutnya dari teori konstruksi sosial Peter L Berger dan Thomas Luckmann yaitu proses objektivasi. Objektivasi merupakan suatu proses dalam realitas sosial atau konstruksi sosial yang mejelaskan bahwa suatu tindakan manusia pada proses eksternalisasi menjadi suatu kebiasaan dan mendapat suatu pembenaran atau legitimasi. Hal ini terlihat ketika para pengurus dan guru sudah tidak lagi melakukan razia dengan dalih bahwa meskipun dilakukan razia dan pelarangan mereka akan tetap membawa hp. Maka dengan adanya hal tersebut, para pengurus dan guru berkeputusan memperbolehkan para santri membawa hp kedalam pondok. Bersamaan dengan keputusan tersebut didapati bahwa hampir seluruh santri telah membawa hp. Keputusan tersebut membuat para santri kedepannya akan merasa tenang saat membawa hp kedalam pondok karena telah mendapatkan legitimasi atas tindakannya. Kenyataan ini yang dalam teori konstruksi sosial dapat dipahami sebagai proses pengobjektivasian oleh santri atau dipahami sebagai realitas objektif (Muta’afi, 2015).

c. Proses Internalisasi

Proses internalisasi merupakan proses terakhir dari teori konstruksi sosial, pada proses ini santri akan menyerap kembali hasil dari proses sebelumnya yakni proses eksternalisasi dan objektivasi (Kartika, 2016). Proses ini akan terlihat di beberapa hal, seperti ketika setelah penerimaan santri baru. Pihak sekolah memang tidak pernah memberi tahu kepada santri baru maupun wali santri baru terhadap aturan ini. Sehingga ketika “santri baru” masuk, mereka akan dihadapkan pada kondisi bahwa kakak kelas mereka membawa hp, dan ternyata dibolehkan. Hal ini akan membuat santri baru mengkonstruksi dirinya untuk membawa hp, setelah memahami realitas sosial di lingkungan barunya. Terlihat diatas, terdapat alasan-alasan mendasar hal tersebut dapat terjadi.

Rio Andika Setyawan

Mahasiswa Sosiologi Agama - UIN SUKA Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: