Konsep Manusia dan Martabatnya dalam Al Qur’an

Manusia menjadi topik yang selalu menarik untuk dibahas, pasalnya manusia adalah hal yang tak pernah selesai, argument ini didukung dengan bukti berbagai fenomena sosial yang terjadi dan berganti-ganti tiap saatnya. Namun sebelum lebih lanjut membahas soal tersebut perlu kita dalami konsep manusia itu sendiri karena konsep tersebutlah yang melandasi seseorang dalam berpikir dan bertingkah laku.

Pengetahuan manusia terbatas atas dirinya disebabkan oleh unsur manusia yang tercipta dari ruh ilahi, sedang manusia tak memiliki pengetahuan tentang ruh kecuali sedikit, hal ini termaktub dalam Q.S al-isra ayat 85 yang artinya “dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah roh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

Dalam al-quran terdapat 3 kata yang merujuk pada makna manusia yaitu: insan, al-anas, basyar, bani adam atau dzuriyat adam. Kata basyar diambil dari akar kata yang indah atau baik, dari akar kata yang sama juga kemudian basyarah yang berarti kulit. Melihat dua padanan kata tersebut jelaslah berbeda manusia dengan kulit hewan namun secara makna berarti manusia merupakan eksistensi atau kulit luar dari ruh, yang membawa ruh.

Dilain sisi pemaknaan basyar adalah seperti dijelaskan dalam Q.S Ar rum ayat 20 yang didalamnya terdapat pengetahuan tentang terbentuknya manusia dari sel laki-laki dan perempuan. Sedangkan dalam Q.S ali Imran ayat 47 manusia dihubungkan dengan tugasnya sebagai khilafah di bumi.

Sedangkan kata insan berasal dari akar kata uns yang berarti jinak, harmonis dan tampak. Pandangan ini menurut islam lebih tepat dibandingkan dengan pendapat bahwa insan itu berasal dari nasiya yang berarti lalai atau lupa atau nasa yang berarti mengguncang. Kata insan ini digunakan al-quran untuk merujuk pada manusia dengan seluruh totalitas substansinya, baik itu jiwa maupun raga, psikis juga fisik.

Menurut al-quran seluruh alam raya ini merupakan manifestasi Allah. Didalamnya terdapat kebaikan dan keburukan, al-qur’an menerjemahkan dunia internal dengan al-ayah sebagai jiwa yang terdapat dalam Q.S Fushilat ayat 53. Manusia dihukumi sebagi fitrah atau suci juga fitrah sebagai yang memiliki kebaikan dan keburukan. Aktualisasi jiwa tersebutlah yang akan pertanggung jawabkan manusia di hari pembalasan.

Melihat beberapa fakta yang disebut dalam al-quran diatas, maka dapat dismpulkan bahwa konsep manusia menurut islam adalah substansi yang terdiri dari komponen jiwa dan raga atau eksistensi yang didalamnya terdapat ruh, manusia terlahir suci dan dapat bertingkah laku sesuai dengan kehendaknya yang didasari oleh wahyu sehingga dapat menentukan yang baik dan yang buruk. Karena memiliki kuasa atas dirinya, manusia dapat memimpin dunia atau dalam arti sempit dirinya sendiri yaitu dengan berpikir.

Islam mengajarkan dan mengenalkan adanya potensi dalam diri setiap manusia dan juga kecenderungan untuk tindakan nyata, sehingga manusia itu sendiri yang mampu menentukan hak dan membentuk atau merubah dirinya. Sedangkan yang membatasi manusia adalah nafsu, nafsu dapat dikendalikan dengan terus melatih nya dan menyeimbangkanya mengarahkan ke hal-hal positif. (Sekar, 2016: 95-100)

Maka kaitannya dengan cara pandang hermeneutik adalah seperti yang dipaparkan oleh Kuntowijoyo dalam bukunya Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi adalah islam sebagai universalitas. Konsep tersebut berasal dari dogma islam yaitu Tauhid. Universalitas berarti memandang manusia sama derajatnya yang beda hanyalah amal disisi Tuhan. Islam sebagai transformasi sosial atau langkah untuk membentuk kehidupan sosial yang humanis dan Rahmatan Lil Alamin. Manusia sama derajatnya baik itu laki-laki dan perempuan adalah kesalingan, saling berbagi, saling menjaga, saling mencintai dan saling membahagiakan.

Alma a Cinthya Hadi

Mahasiswa Studi Agama Agama – UIN Sunan Kalijaga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: