Kewajiban Mencari Nafkah di Era Kesetaraan Gender

Nikah adalah hal yang sangat banyak permasalahan untuk dibahas,kata nikah berasal dari bahasa arab  yang mempunyai makna asli “berhimpit atau menindih” atau makna kiasan “perjanjian atau bersetubuh”. Dan makna istilah menurut Muhammad Abu Zahrah di dalam kitabnya al-ahwal al-syakhsiyyah, menjelaskan bahwa  nikah adalah  akad yang berakibat pasangan laki-laki dan wanita menjadi halal dalam melakukan bersenggema serta adanya hak dan kewajiban diantara keduanya. Dasar anjuran menikah terdapat dalam surah AL-RUM ayat 21, AN-NISA ayat 1 dan surah AN-NUUR ayat 32.

Bicara mengenai pernikahan pasti tidak luput dengan hak  dan kewajiban suami dan istri di dalam rumah tangga tersebut,seperti halnya mencari nafkah, tugas rumah, mengurus anak dan kegiatan lain-nya. Kita tahu bahwa sejak dulu suami adalah orang yang bekerja untuk mencari nafkah di sebagian besar daerah, namun adapula daerah yang si istri yang menjadi tulang punggung keluarga namun hal itu sangat jarang kita temui, akan tetapi hal tersebut sekarang sudah banyak yang berubah dimana dulu laki-laki yang bekerja dan istri mengurus rumah namun sekarang banyak istri yang bekerja dan kewajiban rumah dan mengurus anak  sering menjadi perdebatan.

Jika kita kembali ke zaman rasulullah memang benar bahwa sebenarnya masalah rumah,anak dan nafkah merupakan tugas sang suami,akan tetapi hal ini sangat jarang di tulis di kitab-kitab fikih tradisional. Sayidina  Umar bin Khattab R.A ketika itu sedang menjabat sebagai khalifah, dan pada saat itu sedang dimarahi oleh istrinya dan kebetulan ada sahabat yang tidak sengaja mendengar kemudian sahabat itu bertanya ”wahai sayidina umar aku tidak sengaja mendengar engkau dimarahi istrimu engkau adalah orang yang paling berkuasa di negeri ini mengapa engkau diam saja?” dan khalifah umar pun menjawab “istriku adalah orang yang mengurus anak-anak ku ketika aku pergi, yang mencucikan bajuku ketika kotor, menyiapkan makanan untukku dan mengurus masalah dirumah yang sebenarnya itu adalah kewajibanku namun istriku tidak pernah mengeluhkan itu padaku lantas dimana aku harus memarahinya? dan juga masalah akan segera teratasi apabila salah satu pihak mengalah.” Di negeri arab saudi jaman dahulu, bahkan sekrang pun tugas istri hanya melayani suami , sedangkan rumah dan anak itu tugas suami saya juga pernah dengar dari guru saya di negara arab banyak laki-laki yang tidak menikah karena perempuan arab yang meminta mahar yang sangat tinggi yang mana banyak laki-laki yang tidak mampu untuk melamarnya.

Namun pada zaman sekarang banyak istri yang memilih utuk bekerja dan mendapatkan uang sendiri baik karena kurangnya ekonomi dari suami atau memang untuk kesenangan istri pribadi, dengan hal ini banyak di angkat dalam masalah ham yang membicarakan kesetaraan gender. Kesetaraan gender dalam wikipedia bahasa indonesia gender merupakan pandangan bahwa semua orang harus menerima perlakuan yang setara dan tidak didiskriminasi berdasarkan identitas gender mereka, yang bersifat kodrati.Ini adalah salah satu tujuan dari Deklarasi Universal Hak asasi Manusia, PBB yang berusaha untuk menciptakan kesetaraan dalam bidang sosial dan hukum, seperti dalam aktivitas demokrasi dan memastikan akses pekerjaan yang setara dan upah yang sama. Padahal sejauh yang saya ketahui bahwa pada prakteknya jika si istri memiliki gaji yang lebih besar dari suami nya hal itu hanya akan menjadikan si suami minder dan kadang menjadikan seolah-olah si suami berada di bawah si istri yang pada akhirya hanya akan menimbulkan konflik dalam ruamh tangga tersebut. Dalam kitab huquuquz zaujain di terangkan bahwa mencari nafkah merupakan tugas sang suami dan tugas istri adalah patuh pada suaminya selagi tidak bertentangan dengan syariat.

Meski begitu di negara berkembang ini kita tau bahwa ekonomi merupakan hal yang sangat penting dalam rumah tangga dan tidak sedikit rumah tangga yang hancur dikarenakan si suami tidak sanggup mencukupi kebutuhan sang istri, dengan kata lain kita di negara indonesia ini terkhusus yang menganut agama islam di hadapkan dengan dilema yang mana kita harus memilih hukum syariah atau hukum negara meskipun sebagian aturan dalam undang-undang indonesia banyak yang memakai hukum dalam islam jadi kita tetap bisa menjalankan syariat islam dengan tanpa melanggar hukum negara.

Masa sekarang adalah masa dimana laki-laki dan prempuan derajatnya disamakan terlebih setelah munculnya ham dan kesetaraan gender yang menjunjung tinggihak-hak wanita baik dari segi sosial,pekerjaan dan hak-hak lainnya, dengan adanya gerakan-gerakan tersebut posisi wanita bisa di samakan dengan laki-laki yang dulunya wanita tidak mempunyai hak-hak seperti sekolah tinggi, bekerja di pemerintahan dan tugas yang hanya bisa di lakukan oleh laki-laki. Seperti yang telah dituliskan oleh cammack mark, andrian berdner dan stijn van huis di dalam artikel yang berjudul democracy, human right, and islamic family law in post suharto indonesia yang menjelaskan bahwa tugas hak wanita hanya sebatas dirumah dan tidak perlu mendalami sekolah tinggi-tinggi karena hanya di anggap sia-sia sebelum muncul gerakan yang di deklarasikan oleh ibu kartini yang menuntut hak-hak perempuan yang sangat sempit dan dilupakan pada masa pemerintahan presiden suharto.

Maka dari itu kita harus berterima kasih pada ibu kartini yang telah memperjuangkan hak-hak perempuan yang higga saat ini menjadi undang-undang tersendiri dan dalam artikel tersebut juga diceritakan bagaimana pada zaman itu hak-hak perempuan yang sangat terbatas dan tidak sedikit juga perempuan yang dinikahkan pada umur yang masi sangat muda karena orang tua yang tidak sanggup menghidupi anak-anak yang pada akhirnya hanya akan menjadi orang rumahan atau hanya menjadi ibu dari anak-anaknya.

Dari penjelasan panjang lebar diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa di dalam penyamaan hak antara suami dan istri terdapat sisi baik dan buruknya tergantung bagaimana kita memposisikan diri kita dengan masalah ini, jika kita memandang dari sisi agama memang terdapat sedikit pebedaan antara suami dan istri yang mana lebih di unggulkan dari pihak suami/laki-laki. Namun menurut ham hak keduanya adalah sama dan tidak ada yang membedakan mereka. Adapun dampak buruk yang terdapat pada pilihan ini yakni tentang hubungan keluarga dan kebanyakan dari pihak istri tidak maksimal dalam masalah di rumah dan perlu kita ketahui kalau kita berada di indonesia yang sebagian besar daerah sudah tertanam di dalam fikiran jika laki-laki adalah tulang punggung keluarga dan masalah rumah dan anak adalah tugas istri, jadi jika istri mengambil suatu pekerjaan maka dia harusnya sanggup untuk membagi waktunya untuk anak dan suami, meski urusan anak dan rumah kita bisa menyewa pembantu rumah tangga namun kasih sayang orang tua ke anak akan lebih berharga untuk anak dan hasilnya akan sangat berbeda bagi psikologis anak.

Rizky Candra Agung

Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: