Keluarga; Peran dan Posisi Hukum Keluarga dalam Keluarga

Sebelum kita berbicara tentang fungsi keluarga, maka mari kita bahas dulu apa pengertian keluarga. Keluarga adalah sebuah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari beberapa orang yang tinggal dalam suatu tempat tinggal di bawah suatu atap yang sama dalam keadaan yang saling ketergantungan. Normalnya, keluarga terdiri dari seorang ayah (suami) yang berperan sebagai kepala keluarga, ibu (istri), dan anak. Menurut Salvicion dan Celis, di dalam keluarga terdapat dua atau lebih pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan. Sedangkan Keluarga menurut Undang-Undang 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Bab I ayat 6, pengertian keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri; atau suami; istri dan anaknya; atau ayah dan anaknya (duda); atau ibu dan anaknya (janda). Jadi dari semua pengertian tentang keluarga di atas, dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah sebuah unit terkecil dalam masyarakat, yang di dalamnya terdiri dari ayah, ibu, anak, atau salah dua diantaranya (karena telah terjadi perpisahan, baik perpisahan karena perceraian atau karena meninggal dunia) yang hidup dalam satu atap yang sama yang saling berinteraksi dan ketergantungan.

Peran keluarga sangatlah penting bagi tercipatnya kehidupan bermasyarakat yang sejahtera, karena setiap orang pasti berasal dari sebuah keluarga, sehingga keluarga memegang peran penting dalam pengajaran awal seseorang untuk dapat bersikap. Berdasar pada pengertian keluarga yang telah disebutkan di atas, keluarga terdiri dari beberapa pihak, yakni ayah (suami), ibu (istri), dan anak yang kesemuannya pasti memiliki perannya masing-masing; yakni:

  1. Ayah; selain berperan sebagai ayah bagi anak-anaknya, ayah juga berperan sebagai suami dari istri. Ayah atau suami berperan sebagai kepala keluarga, pencari nafkah, pelindung dan pemberi rasa aman, serta sebagai pendidik.
  2. Ibu; selain berperan sebagai ibu bagi anak-anaknya, ibu juga berperan sebagai istri dari suami. Ibu atau istri memilik peran untuk mengurus rumah tangga, sebagai pelindung, pengasuh serta pendidik anak-anaknya.
  3. Anak; anak melaksanakan peran sesuia dengan tingkat perkembangannya, baik perkembangan secara fisik, sosial, ataupun secara mental.

Setiap angota keluarga memiliki peranya masing-masing dalam keluaga tersebut. Tetapi, selain peran pribadi dalam keluarga, kesemuaan anggota keluarga juga memiliki peran di dalam masyarakat atau kelompok sosialnya sesuai dengan kemampuan dan perkembangan dari masing-masing individu. Sehingga peran keluarga dalam pembentukan karakter dan kemampuan dalam bermasyarakat sangatlah penting.

Jika berdasar pada peran yang dibawa oleh setiap anggota keluarga, dapat disimpulkan bahwa keluarga memilik beberapa fungsi penting, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Fungsi perasaan, dilihat dari bagaimana keluarga tersenut merasakan perasan dan suasana yang terjadi dalam keluarganya. Terlebih karena sebuah keluarga umumnya berasal dari hubungan darah, maka pastilah seorang anggota keluarga memiliki kepekaan yang lebihterhadap anggota keluarganya yang lain.
  2. Fungsi ekonomi, dilihat dari peran seorang ayah yang bertugas untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan orang-orang yang menjadi tanggungannya yakni istri dan anak-anaknya.
  3. Fungsi perlindungan, dilihat dari bagaimana seorang keluarga melindungi anggota keluarga yang lain, bagaimana seorang keluarga menciptakan rasa aman terhadap setiap anggota keluarganya.
  4. Fungsi pendidik, ini adalah fungsi terpenting dalam keluarga, karena dengan fungsi ini, dampak yang dirasakan bukan hanya di dalam keluarga itu sendiri, melainkan juga di masyarakat ketika anggota keluarga itu berinteraksi dengan orang lain. Fungsi pendidikan ini dilihat dari bagaimana sebuah keluarga itu mendidik anaknya, yakni dengan cara bagaimana keluarga itu menyekolahkan anaknya untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak. Dalam hal pendidikan, tidak hanya berpatok dengan sekolah tetapi juga dalam hal sosialisasi, bagaimana sebuah keluarga menyiapkan anaknya untuk menjadi anggota masyarakat yang baik. Selain itu, pendidikan spiritual juga sangat penting bagi anak. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana keluarga memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga yang lain melalui kepala keluarga menanamkan keyakinan atau agama yang dianut yang digunakan sebagai pedoman dalam kehidupan di dunia dan kehidupan setelah di dunia nanti.

Kemudian, bagaimana posisi Hukum Keluarga dalam sebuah keluarga?. Mengutip tulisan Prof. Dr. Khoiruddin Nasution, MA dalam bukunya yang berjudul Hukum Keluarga (Perdata) Islam Indonesia, Hukum Keluarga  adalah hukum yang mengatur kehidupan keluarga, yang dimulai dari awal pembentukan keluarga (peminangan) sampai dengan berakhirnya keluarga (ada yang wafat atau terjadi perceraian), termasuk masalah waris dan wakaf. Tujuan dari hukum keluarga sendiri adalah untuk mengatur hubungan suami istri dan anak-anaknya. Maka posisi hukum keluarga dalam keluarga adalah sebagai pedoman bagi sebuah keluarga dalam menjalankan perannya, baik peran secara individu maupun peran keluarga itu sendiri dalam kehidupan bermasyarakat, dan bernegara.

Melani Intan Safitri

Mahasiswi Porgram Studi Hukum Keluarga Islam Fakultas Syari'ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: