Kebutuhan Rumah Tangga Di Bantu Oleh Istri? Bagaimana Hukumnya?

Memang sudah menjadi fitrahnya bahwa manusia merupakan makhluk sosial, dimana mereka tidak bisa hidup sendiri, yang artinya manusia mempunyai sifat ketergantungan dan saling membutuhkan. Dengan kekuasaan-Nya Allah mengingatkan kepada manusia bahwa mereka diciptakan dari diri yang satu. Dengan ini maka Allah menciptakan sebuah konsep berkeluarga, yang kemudian dengan konsep tersebut Allah menciptakan pendamping hidup untuk manusia, yakni seorang istri.[1]

Mahkluk ciptaan Allah yang mempunyai pasangan tidak hanya manusia, namun Allah juga menciptakan berbagai hal secara berpasang-pasangan. Seperti halnya siang dan malam, senang dan susah, panjang dan pendek, besar dan kecil, dan lain sebagainya. Bentuk berpasang-pasangan seperti contoh diatas merupakan kuasa dan ketetapan yang dimiliki oleh Allah, yang diberikan tidak hanya kepada manusia saja namun juga untuk seluruh makhluk-Nya.[2]

Namun bagi manusia yang mana ingin menyatukan dua pasangan menjadi satu harus melakukan pernikahan terlebih dahulu. Karena pernikahan merupakan satu-satunya bentuk yang dibenarkan oleh Islam untuk hidup berpasangan dan melakukan hubungan suami istri, yang nantinya apapun yang dilakukan menjadi ibadah. Pernikahan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa.[3] Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa laki-laki setelah menikah akan menjadi suami dan perempuan akan menjadi istri setelah menikah. Dan setelah memilliki anak maka akan menjadi seorang ayah dan ibu.

Sebagai seseorang yang sudah menikah dan berganti status menjadi suami istri atau ayah ibu, maka dengan ini akan bertambah pula tugas dan tanggung jawabnya. Maka dari itu penting untuk mengetahui hak dan kewajiban sebagai seoang suami istri. Dalam undang-undang Perkawinan Indonesia, salah satunya dalam Pasal 31 ayat (3) disebutkan bahwa, suami adalah kepala keluarga dan istri adalah ibu rumah tangga. Dalam pasal yang lain, yakni pasal 34 ayat (1) disebutkan bahwa, Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup rumah tangga sesuai dengan kemampuannya.[4]

Dengan demikian sebagai seorang suami sudah seharusnya mejalankan kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan istrinya karena seorang istri sudah tidak lagi menjadi tanggung jawab orang tuanya, dimana tanggung jawab orang tua dalam memerikan segala kebutuhannya beralih kepada suami. Tidak hanya istrinya saja yang perlu dipenuhi kebutuhannya atau dinafkahi oleh suami, namun juga kehidupan rumah tangganya dan juga anak-anaknya jika sudah memiliki anak. Sehingga dalam mencari nafkah untuk keluarga sudah menjadi kewajiban seorang suami.

Namun di era modern seperti saat ini, kebutuhan yang harus dipenuhi juga semakin banyak, apalagi bagi suatu keluarga, untuk memenuhi kebutuhan keluarga tentunya dibutuhkan nafkah yang tidak sedikit. Sehingga di era modern ini, nafkah keluarga yang dipukul oleh suami menjadi lebih besar, karena terkadang pengeluaran lebih besar dibandingkan dengan pemasukan yang diterima. Maka tidak heran jika banyak ditemui perempuan-perempuan atau istri yang membantu suaminya dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Lalu bagaimana Islam memandang hal tersebut? Melihat banyak perempuan melakukan pekerjaan yang mana memang bertujuan untuk membantu memenuhi keluarganya? Dalam Islam hal ini masih menjadi pro dan kontra di kalangan para ulama, diantaranya ulama klasik dan ulama kontemporer. Ada yang secara tegas melarangnya dan ada juga yang membolehkannya tetapi dengan beberapa syarat.

Mengenai pandangan yang melarang, hal tersebut lebih ditekankan kepada perempuan yang sudah menikah, jika terpaksa harus keluar rumah, keadaan tersebut harus karena keperluan yang benar-benar mendesak.[5] Hal ini didasarkan kepada firman Allah yang disebutkan dalam Q.S. Al-Ashab (33) ayat 33 :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا[6]

“hendaklah kamu tetap dirumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, ttunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sengungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai Ahlul bait dan memberihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Sedangkan menurut para ulama yang membolehkan bahwa keputusan untuk seorang istri boleh bekerja atau tidak tergantung keputusan suami, karena suamilah yang menjadai pemimpin dalam suatu keluarga. Hal ini didasarkan kepada Surat al-Nisa (4) ayat 34:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا[7]

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka.”

Sebagai perempuan yang bekerja, Islam juga telah memberikan beberapa syarat, seperti karena kondisi ekonomi keluarga yang mendesak, dalam bekerja ditemani oleh mahramnya, dalam bekerja tidak bersinggungan dengan lawan jenis dan berkumpul dalam suatu keadaan dengan bukan mahram, serta pekerjaan yang dilakukan adalah sesuai dengan apa yang sudah menjadi pekerjaan seorang perempuan.[8]

Di Indonesia sendiri angka kemiskinan masih tebilang banyak, yang mana banyak penghasilan suami belum/tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Hal ini membuat banyak seorang istri turut bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tak jarang pekerjaan yang dilakukan oleh seorang istri membuatnya harus keluar rumah, sehingga terkadang membuatnya lebih mementingkan pekerjaan daripada keluarga.

Apakah hal tersebut benar? sebagai seorang istri jika lebih mementingkan pekerjaannya itu tentu tidak benar, karena seorang istri juga memiliki kewajiban untuk mengurus rumah tangganya disaat suaminya bekerja mencari nafkah. Maka dari itu sebagai seorang istri yang bekerja, sudah tentu harus mengurus rumah tangga yang dibinanya dengan sang suami.

Seperti yang telah dipaparkan di atas, bahwa sebenarnya Islam tidak melarang perempuan untuk bekerja, apalagi jika dalam bekerja diniatkan karena ingin membantu perekonomian keluarga. Namun dalam bekerja sebagai seorang muslimah, tentunya seorang istri yang bekerja haruslah sesuai dengan apa yang telah ada dalam syara’, tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Islam.


[1] Ahzami Samiun Jazuli, Keidupan Dalam Pandangan al-Qur’an, Cet. Ke-1 (Jakarta: Darut Thuwaiq, 2006), h. 514., sebagaimana dikutip oleh Rio Ardiansyah Sitorus, Kewajiban Suami Terhadap Istri (Studi Kasus TKW Di Desa Sijabut Teratai Kec. Air Batu), Skripsi (Medan: UIN Sumatra Utara, 2017), hlm. 1.

[2] Rahmah Mu’in, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Istri Sebagai Pencari Nafkah, (J-ALIF Jurnal Penelitian Hkum Ekonomi Syariah dan Sosial Budaya Islam, Vol. 2, No. 1, Mei 2017), hlm. 85.

[3] UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

[4] UU No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

[5] Nurul Azisah Azzohrah, dkk, Telaah Hukum Ekonomi Islam Terhadap Pendapatan Istri Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Keluarga (Studi Kasus pada Kelurahan Manggala Kecamatan Manggala Kota Makassar), Diktum: Jurnal Syariah dan Hukum, Vol. 17, No. 2, Desember 2019, hlm. 233.

[6] https://tafsirweb.com/7645-quran-surat-al-ahzab-ayat-33.html diakses pada 3 Maret 2020 pukul 16:42.

[7] https://tafsirweb.com/1566-quran-surat-an-nisa-ayat-34.html diakses pada 3 Maret 2020 pukul 16:39.

[8] Syaikh Matawalli As-Sya’rawi, Fikih Perempuan Muslimah, h. 141., sebagaimana dikutip oleh nabila Alhalabi, Hak dan Kewjiban Istri Bagi Wanita Karir Di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif), Skripsi, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2015, hlm. 6.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: