Menu Tutup

Kebiasaan Imam Syafi’I Mendoakan Kaum Muslimin saat Membaca Al-Qur’an

Imam Syafi’i merupakan salah satu dari empat pendiri madzhab fiqih yang keluasan ilmu dan kemuliaan akhlaknya diakui oleh banyak ulama’. Hafal kitab Al-Muwatho’ karangan Imam Malik pada usia 10 tahun, dan sudah diminta berfatwa saat masih berusia 15 tahun oleh gurunya Syaikh Muslim bin Khalid az-Zanji[1], merupakan bukti kedalaman dan keluasan ilmu beliau sedari kecil. Beliau menulis banyak kitab dalam bidang Fiqih dan Ushul Fiqih, serta mempunyai banyak murid yang berpengaruh, salah satunya Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri Madzhab Hanbali.

Selain dikenal sebagai pakar ilmu Fiqih, beliau juga dikenal sebagai ulama’ yang ahli ibadah dan wira’i. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin mengkategorikan Imam Syafi’I sebagai salah satu ulama’ yang mampu mengintegrasikan antara ilmu Fiqih, ilmu Haqiqat dan mengamalkanya, yang madzhabnya banyak diikuti oleh kaum muslimin. Selain Imam Syafi’I, Imam Al-Ghazali juga menyebut Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Sufyan ats-Tsauri. Setiap mereka merupakan hamba Allah yang zuhud, alim tentang ilmu Akhirat sebagaimana mereka alim tentang Fiqih yang berbuah dengan bagusnya akhlak mereka, dan mereka mempelajari ilmu karena Allah SWT. semata[2].

Sifat wira’ yang ada pada Imam Syafi’i berpengaruh pada kealiman dan ibadah beliau. Salah satu sifat wira’i beliau adalah keengganan beliau makan sampai kekenyangan. Karena menurut beliau, perut kenyang dapat berdampak buruk pada proses belajar dan mengajarkan ilmu, serta membuat orang malas untuk beribadah. Beliau berkata, “Aku tidak pernah kenyang sejak usia enam belas tahun, kecuali kenyang sekali saja, lalu aku memuntahkanya. Karena perut kenyang dapat memberatkan badan (untuk melakukan sesuatu), mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, menyebabkan kantuk, dan melemahkan orang untuk beribadah.”[3] Imam Syafi’i juga dikenal sebagai ahli ibadah. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana beliau membagi malamnya menjadi tiga waktu, sepertiga malam didedikasikan untuk ilmu, sepertiga untuk ibadah, dan sepertiga untuk tidur[4].

Imam Syafi’I dan Al-Qur’an

Imam Syafi’I sangat dekat dengan Al-Qur’an. Sejak usia yang masih belia, yakni 7 tahun, beliau sudah hafal Al-Qur’an. Beliau belajar Al-Qur’an dari Syaikh Isma’il bin Qusthanthin, qori’ Al-Qur’an di Makkah dan Syaikh Syibl bin Abbad, qori’ Al-Qur’an di Bashrah dan Makkah. Keduanya murid Syaikh Abdullah bin Katsir qori’ di Makkah. Syaikh Abdullah belajar dari Syaikh Mujahid. Syaikh Mujahid belajar dari Sahabat Abdullah bin Abbas RA. yang belajar Al-Qur’an langsung dari Baginda Nabi Muhammad SAW[5].

Beliau terbiasa mengkhatamkan Al-Qur’an saat shalat. Salah satu murid beliau, Syaikh Ar-Rabi’ Sulaiman bin Al-Muradiy memberi kesaksian bagaimana beliau berkali-kali mengkhatamkan Al-Qur’an saat shalat di bulan Ramadhan, “Imam Asy-Syafi’I  mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak enam puluh kali di bulan Ramadhan, semuanya dikhatamkan saat shalat.”[6] Kebiasaan ini dicontoh oleh salah satu muridnya, Syaikh Al-Buwayti, yang mengkhatamkan Al-Qur’an sekali setiap malam[7].

Saat penguasa waktu itu menganut madzhab mu’tazilah dan memaksa para ulama’ mengatakan Al-Qur’an itu makhluk, Imam Syafi’I tetap bersikukuh menganggap Al-Qur’an sebagai Kalamullah. Diceritakan oleh Syaikh Ar-Rabi’ Sulaiman, Di salah satu majlis ilmu, Hafsh Al-Fard, salah satu ulama’ Mu’tazilah, mengatakan Al-Qur’an itu makhluk, lalu Imam Asy-Syafi’I berkata padanya, “ Engkau telah mengingkari Allah yang maha agung.”[8]

Mendoakan Kaum Muslimin saat Membaca Al-Qur’an

Dalam madzhab Syafi’i, disunahkan bagi para pembaca Al-Qur’an untuk meminta limpahan fadhl (kebajikan) Allah saat membaca ayat tentang rahmat, memohon perlindungan Allah saat membaca ayat tentang azab (misalnya membaca “Allahumma inni as’aluka al-‘afiyah” atau “as’aluka  al-mu’afah min kulli makruh” atau sejenisnya), dan bertasbih saat membaca ayat tanzih (menyucikan) Allah (misalnya membaca “Subhanahu wa ta’ala” atau “tabaraka wa ta’ala” atau “jallat ‘adzhomatu robbina”). Kesunahan ini berlaku saat shalat maupun di luar shalat.

Kesunahan ini disandarkan pada hadits riwayat Sahabat Hudzaifah bin Yaman RA. yang pernah shalat dengan Nabi Muhammad SAW. pada suatu malam. Dalam shalat, Nabi membaca banyak surah Al-Qur’an. “Saat melewati ayat yang mengandung tasbih, beliau membaca tasbih. Saat melewati ayat permohonan, beliau memohon. Saat melewati ayat memohon perlindungan, beliau memohon pertolongan.” (HR. Muslim)[9].

Diceritakan oleh Syaikh Al-Hasan Al-Karobisy, Imam Syafi’I juga memohon fadhl Allah saat membaca ayat rahmat dan memohon perlindungan Allah saat membaca ayat adzab. Syaikh Al-Karobisy menceritakan, “Aku selalu bersama Imam Syafi’I, kecuali satu malam. Beliau selalu shalat kira-kira selama sepertiga malam. Aku tidak pernah melihatnya membaca Al-Qur’an melebihi lima puluh ayat, dan paling banyak seratus ayat. Dan beliau tidak pernah melewatkan membaca ayat rohmat, kecuali dibarengi dengan meminta rohmat pada Allah untuk dirinya sendiri dan seluruh kaum muslimin dan mu’minin. Beliau juga tidak pernah melewatkan membaca ayat adzab, kecuali dibarengi dengan meminta perlindungan dari adzab dan memohon keselamatan pada Allah untuk dirinya sendiri dan seluruh kaum mu’minin.”[10]

Syaikh Al-Karobisy menjelaskan, kebiasaan Imam Syafi’I berdoa saat membaca ayat rohmat dan adzab yang diperuntukkan untuk dirinnya dan seluruh muslim, merupakan cerminan bagaimana beliau mengkombinasikan roja’ (harapan) dan khouf (takut) pada Allah secara seimbang. Dan dari bagaimana beliau meringkas rahasia Al-Qur’an dengan membaca lima puluh ayat saja setiap shalat dan mentadaburinya, menunjukkan keluasan (tabahhur) beliau tentang rahasia-rahasia Al-Qur’an.

Saat beribadah dan mengisinya dengan membaca Al-Qur’an yang sangat beliau hafal dan cintai, Imam Syafi’I tak melewatkan untuk mendoakan dirinya sendiri dan seluruh kaum muslimin saat membaca Al-Qur’an dalam shalat malam. Kita tahu, sepertiga malam akhir merupakan salah satu waktu yang utama dan mustajabah untuk berdoa. Disunahkan bagi seluruh kaum muslimin untuk memperbanyak doa dalam waktu-waktu tersebut[11]. Dan Imam Syafi’I tidak hanya memanfaatkanya untuk mendoakan dirinya saja, tapi juga untuk seluruh kaum muslimin. Wallahu A’lam bi Ash-Shawab.

[1] Adab Asy-Syafi’I wa Manaqibuhu, Ibn Abu Hatim Ar-Razi, hal. 30

[2] Ihya’ Ulum Ad-Din, Abu Hamid Al-Ghazali, juz. 1, hal. 24

[3] Adab Asy-Syafi’I wa Manaqibuhu, Ibn Abu Hatim Ar-Razi, hal. 78

[4] Ihya’ Ulum Ad-Din, Abu Hamid Al-Ghazali, juz. 1, hal. 24

[5] Hayat At-Tabi’in, Yasir Al-Hamdani, hal. 1560.

[6]Adab Asy-Syafi’I wa Manaqibuhu, Ibn Abu Hatim Ar-Razi, hal. 74.

[7] Ihya’ Ulum Ad-Din, Abu Hamid Al-Ghazali, juz. 1, hal. 24.

[8] Adab Asy-Syafi’I wa Manaqibuhu, Ibn Abu Hatim Ar-Razi, hal. 148.

[9] At-Tibyan fi Adabi Hamalat Al-Qur’an, An-Nawawi, hal. 91-92.

[10] Ihya’ Ulum Ad-Din, Abu Hamid Al-Ghazali, juz. 1, hal. 24.

[11] Ad-Durus Al-Yaumiyah min As-Sunan wa Al-Ahkam Asy-Syar’iyah, Rasyid Abd Al-Karim, hal 76-77.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: