Menu Tutup

Karakterteristik Beragama Masyarakat Kota

Dalam pandangan umum, masyarakat kota biasanya diidentikkan dengan cara hidup yang maju dengan penguasaan terhadap iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) sebagai indikatornya. Kota dianggap sebagai tempat yang baik dalam memberikan berbagai jenis mata pencaharian dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Karena hal ini dan berbagai faktor lainya, sebagian masyarakat desa mencoba peruntungan untuk mencari kerja di sana. Dengan urbanisasi dari berbagai wilayah akibat dorongan tertentu itu, kota juga dicirikan dengan kepadatan penduduknya.

            Dengan berbagai latar belakang yang melingkupi kehidupanya itu, kota menciptakan lingkungan kehidupan yang berbeda dengan desa, daerah asal mayoritas penduduk kota yang merupakan pendatang atau keturunanya. Perbedaan itu menimbulkan karakteristik yang khas pada masyarakat kota. Karakteristik masyarakat kota bisa diamati hubunganya dengan berbagai unsur kehidupan sosial, termasuk perihal agama/kepercayaan yang mendapat perhatian krusial oleh ilmu sosial. Sikap beragama masyarakat kota mempunyai karakter tersendiri yang dilatarbelakangi oleh karakteristik masyarakatnya dan lingkungan kehidupan yang disajikan kota.

Skala Individu Karakteristik Masyarakat Beragama Kota

Karakteristik masyarakat kota oleh Adon Nasrullah Jamaluddin dibagi dua, berdasarkan skala individu dan skala masyarakat (2017). Adon memaparkan berbagai karakter individual masyarakat kota, antara lain : siap menerima perubahan, peka terhadap masalah, terbuka pada inovasi, pendirian dilengkapi informasi akurat, berorientasi pada masa depan, memahami potensi dirinya, peka dan terlibat dengan perencanaan, menghindari sikap fatalistik, meyakini manfaat iptek, dan menghormati kewajiban dan hak orang lain. Karakter individual masyarakat kota itu sedikit banyak berpengaruh pada cara mereka beragama, baik sebagai individu maupun sebagai komunitas sosial yang merupakan konsekuensi dari interaksi sosial antar individu.

            Dari sikap lebih siapnya mereka menerima perubahan, ada kecenderungan kalangan kota lebih menerima pemikiran pembaharuan Islam seperti pemikiran Nurcholish Madjid (Cak Nur) yang menggambarkan bagaimana agama penting berperan dalam kehidupan modern. Meskipun pembaharuan pemahaman pada ajaran agama bisa ditemui dengan skala yang sederhana di kalangan desa, usaha pembaharuan di kalangan kota bersifat lebih radikal. Misalnya, upaya untuk merumuskan kembali penggalian hukum Islam agar kontekstual dengan isu-isu modern, sebagaimana yang digagas Cak Nur, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) atau Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil). Meskipun menurut Gus Dur (1978), pembaharuan itu terkadang memunculkan bentuk konservatisme baru, seperti misalnya fenomena artis hijrah di era sekarang.

            Dari kota pula, mulai muncul usaha dari para Sarjana Islam untuk mengaitkan Islam dengan problematika sosial modern, yang bersemi di kampus-kampus Islam. Ini merupakan bentuk kepekaan terhadap masalah kalangan Islam kota. Sikap menerima inovasinya, bisa menciptakan fenomena menarik berupa perjumpaan antara peradaban tradisional dengan peradaban modern. Seperti disajikanya lagu “tombo ati” yang merupakan karya klasik bahasa arab berisi ajaran mistisme Islam yang diterjemahkan ke bahasa Jawa, dalam musik jazz di Kota Solo.

            Masyarakat kota yang anti terhadap sikap fatalistik, mempunyai hubungan dengan etika agama yang mendukung sikap itu. Seperti yang digambarkan teori tindakan sosialnya Weber dengan calvinisme dan pengaruhnya pada semangat kapitalisme. Oleh Clifford Geerzt yang meneliti di kota Pare, semangat yang mirip dilihatnya pada ormas Islam “modernis”, yaitu Muhammadiyah dan Masyumi, yang memang mendominasi perkotaan. Atau yang digambarkan Robert N. Bellah mengenai hubungan kebangkitan ekonomi modern Jepang karena ajaran Tokugawa/agama Shinto.

            Keyakinan akan pemanfaatan iptek oleh masyarakat kota, menumbuhkan fenomena maraknya dakwah digital dan bisa dikatakan berhasil, karena kelompok Islam yang secara survei memiliki sedikit massa, justru secara digital lebih besar dari ormas-ormas besar. Pemuka agama yang selama ini dianggap berasal dari aliran berbeda dengan kalangan mayoritas, mendapatkan tempat tersendiri sebagai pendakwah dan tokoh agama yang merespon isu-isu aktual kenegaraan, lewat kepopuleranya di media digital yang juga menjalar ke kalangan masyarakat tradisional. Hal ini membuat kaum agamawan tradisional mau tidak mau beradaptasi dengan gaya dakwah di era digital, bila ingin terus eksis mempertahankan keyakinanya.

Skala Masyarakat

Selain dari karakter indivualnya, dalam skala masyarakat, kota pun menyajikan cara beragama yang khas. Seperti yang dikemukakan di awal, salah satu ciri komunal kota adalah masyarakat industri. Dalam masyarakat industrial, peranan pengelompokkan sekunder (unit organisasi bekerja/produksi) semakin menggeser pengelompokkan primer (keluarga, agama, suku, dsb.) (Nurcholis Madjid, 2019). Formalitas dan rasionalitas menggeser keakraban, kekeluargaan, afektivitas. Peranan orang tua semakin berkurang, digantikan oleh bentuk sosial yang lain, seperti sekolah dan pergaulan. Ini berpengaruh dalam bentuk pengenduran pola-pola religious tertentu. Oleh Elly M. Setyadi, kehidupan keagamaan di kota dinilai berkurang apabila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa (2011).

            Salah satu karakter komunalnya, masyarakat kota berdeferensi atas dasar perbedaan profesi dan keahlian sebagai fungsi pendidikan serta pelatihan. Posisi keagamaan yang di desa bersifat sukarela, seperti marbot, Imam, Khatib, dan sebagainya, merupakan profesi tersendiri di kalangan kota. Posisi tersebut merupakan salah satu profesi dengan penghasilan yang lumayan, upahnya bisa berupa fasilitas tinggal di tempat ibadah, honor, tunjangan tahunan sampai bisyaroh (hadiah) dari masyarakat sekitar Posisi-posisi itu biasanya diisi oleh kalangan mahasiswa tradisional yang sebelumnya punya bekal pengajaran agama dan punya kepentingan untuk bertahan hidup di kota dengan biaya semurah mungkin. Tidak adanya kesukeralaan tersebut, didorong pola industrial masyarakat kota yang memiliki kebisukan dengan mata pencaharianya masing-masing.

            Salah satu yang menarik dari sikap beragamanya masyarakat kota untuk dianalisa adalah munculnya fenomena menjauhi riba di bank-bank konvensional dan sampai pada sikap mengajak orang lain untuk melakukan hal sama, yang sampai menimbulkan rasa bersalah pada orang yang ditegur sehingga timbul keinginan untuk hijrah. Fenomena riba sempat ramai dibicarakan netizen menyusul potongan video wawancara Daniel Mananta dengan Arie Untung yang dianggap kurang tepat membicarakan riba. Padahal, masyarakat kota mempunyai ciri tata ekonomi yang berlaku bagi masyarakat kota umumnya ekonomi-pasar yang berorientasi pada nilai uang, persaingan, dan nilai-nilai inovatif lainnya. Namun yang perlu diingat, masyarakat kota mempunyai ciri lain, yaitu aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat perkotaan lebih berorientasi pada aturan atau hukum formal yang bersifat kompleks. Itulah mengapa, masyarakat beragama lebih condong pada aturan agama yang lebih ketat dibanding kalangan tradisional yang lebih luwes. Implikasinya, muncul sikap intoleransi pada ajaran agama lain di kalangan masyarakat kota.

Kesimpulan

            Sikap beragama masyarakat kota tidak bisa dilepaskan dari karakteristik masyarakat kota yang melekat sebelumnya, baik dilihat dari skala individual maupun komunal. Karakteristik itu dipengaruhi berbagai latar belakang dan ruang lingkup kehidupan perkotaan, dengan masuknya unsur-unsur eksternal seperti globalisasi, modernisasi, sekuralisasi, weternalisasi, dan sebagainya. Dalam melihat sikap beragama masyarakat kota mesti mempertimbangkan hal itu, untuk kemudian merespon, mengambil sikap, dan melakukan pendekatan dalam mengkomunikasikan cara beragama yang berbeda. Karena sebagaimana unsur kehidupan lain, cara beragama masyarakat kota juga memiliki pengaruh yang cukup luas pada kalangan masyarakat lebih luas, mengingat kota masih dianggap sebagai pusatnya peradaban.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: