Impresi Pernikahan Dini dalam Kehidupan Remaja

Pernikahan merupakan suatu kebutuhan manusia, bahkan menjadi penyempurna agama bagi yang melaksanakannya.  Sebelum melaksanakan pernikahan seharusnya kedua pasangan sudah memikirkan matang-matang baik mental maupun fisik untuk kesiapan mereka menghadapi berbagai rintangan dalam rumah tangga, agar siap dalam menghadapi resiko yang akan mereka hadapi bersama selama menikah. Karena hakikatnya pernikahan tidak dilakukan seorang diri dan hanya dalam jangka pendek, melainkan dihadapi bersama-sama sebagai suami-istri selama seumur hidup mereka.

Menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974  batas minimal menikah laki-laki dan perempuan yang akan menikah minimal usia 19 Tahun. Pernikahan dini ialah melangsungkan pernikahan dengan usia dibawah batas ketentuan pemerintah. Pernikahan dini tidak terjadi hanya di Indonesia bahkan diluar negripun menjadi topik pembicaraan. Menurut BPS pernikahan dini di Indonesia masih cukup tinggi yaitu diangka 15,66% pada 2018. Pemerintah sendiri masih berusaha untuk mengurangi angka pernikahan dini di Indonesia, karena semakin bertambahnya angka pernikahan dini akan berdampak pada kehidupan seseorang.

 Pernikahan dini akan mempengaruhi problematika kehidupan seseorang seperti kemiskinan, pengangguran, kekerasan dalam rumah tangga dan sebagainya. Dengan berbagai kasus di Indonesia, pernikahan dini dapat merugikan banyak hal mulai dari sosial kemasyarakatan dan juga kedua pasangan. Misalnya, bagi perempuan yang hamil dibawah usia 20 tahun, kehamilan tersebut akan sangat berbahaya bagi dirinya maupun anak dalam kandungannya, karena dapat menimbulkan masalah kesehatan sampai resiko kematian bagi keduanya. Sedangkan bagi laki-laki, jika seseorang akan melakukan pernikahan dini maka orang tersebut secara otomatis akan putus sekolahnya. Ketika seseorang terputus sekolahnya, maka mereka akan terbatas dalam hal pendidikan sehingga sulit baginya untuk mencari sebuah pekerjaan. Ini menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka pengangguran dan juga kemiskinan yang akan merugikan negara. Apabila seseorang menikah pada usia dibawah batas ketentuan pemerintah, maka cukup sulit bagi mereka untuk menyelesaikan problematika dalam rumah tangga sehingga dapat mengakibatkan perceraian.

Faktor-faktor yang menimbulkan pernikahan dini :

  • Faktor Ekonomi

Dengan menikahnya seorang anak perempuan, orangtua beranggapan bahwa akan meringankan beban keluarga. Karena mereka terlepas dari tanggung jawab terhadap anak perempuannya.

  • Faktor Adat

Ada beberapa daerah yang terbiasa untuk menikahkan anaknya yang masih dibawah umur, karena takut kelak anaknya akan menjadi perawan tua. Dan ini sudah menjadi adat bagi masyarakat tersebut.

  • Faktor Media Sosial

Dengan mudahnya mengakses media, di zaman sekarang banyak remaja yang menggunakannya untuk hal-hal negatif, seperti menonton film dewasa sehingga membuat mereka penasaran dan melakukannya. Oleh karena itu banyak permasalahan yang timbul karenanya, seperti  hamil diluar nikah, dan lain sebagainya.

            Pernikahan dini akan menimbulkan banyak resiko untuk kedua pasangan. Yang dimana dengan usia yang sangat muda mereka harus berperan sebagai ibu dan bapak, menafkahi keluarga dan menata rumah tangga. Beberapa dampak negatif pada pernikahan dini adalah sebagai berikut :

  1. Dari Segi Pendidikan

Pada seusia remaja, mereka seharusnya menimba ilmu sebanyak mungkin dan juga melakukan kreatifitas-kreatifitas mereka untuk menata masa depan yang lebih cerah. Namun dengan putusnya sekolah, membuat mereka kehilangan masa depannya dan tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Usia dini dan memiliki keterbatasan pendidikan akan mempersulit mereka dalam mencari pekerjaan sehingga tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya serta akan menambah angka pengangguran dan kemiskinan.

  • Dari Segi Biologis

Dengan menikah dibawah umur 19 tahun maka perempuan akan lebih dirugikan, sebab pada usia remaja alat reproduksi masih dalam proses pematangan. Beberapa dokter mengatakan bahwa kehamilan pada usia dini dapat berakibat kematian baik pada ibu dan janinnya. Apabila pada fase ini seorang perempuan melakukan hubungan seksual hingga menyebabkan hamil dan melahirkan, maka kemungkinan besar bayi tersebut akan mengalami prematur dan rentan terhadap penyakit lainnya seperti kecacatan pada bayi ataupun keguguran. Bayi prematur berisiko dalam gangguan sistem penglihatan, pernapasan dan juga pencernaan.

  • Dari Segi Psikis

Sebagai kepala rumah tangga, laki-laki harus lebih unggul dalam segala hal, misalnya kematangan emosional. Kurangnya pengalaman  akan sulit bagi laki-laki dibawah umur untuk menyelesaikan problematika dalam rumah tangga. Sehingga memungkinkan adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dapat mengakibatkan perceraian.

  • Dari Segi Ekonomi

Kebutuhan dalam rumah tangga tidaklah sedikit, hari demi hari akan selalu bertambah. Dengan usia dini, laki-laki akan sulit untuk mendapatkan pekerjaan karena belum adanya kesiapan mental dan fisik. Hal ini dapat menimbulkan kemiskinan dan juga perceraian.

Disisi lain, pernikahan dini juga akan menimbulkan dampak positif. Ketika melaksanakan pernikahan dini, maka mereka dapat menjaga pandangannya serta kemaluannya dari perbuatan maksiat. Seperti perintah Rasulullah SAW kepada umatnya untuk menikah, beliau bersabda,

 “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang telah sanggup memberi nafkah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga faraj (kemaluan). Dan barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa itu melemahkan nafsu” (HR. Bukhari no. 5056, Muslim no. 1400).

Dari isi hadis diatas menjelaskan bahwa dengan menikah maka akan lebih menjaga kemaluan.  Dengan melaksanakan pernikahan di usia dini maka seseorang akan tepat dalam melampiaskan hasrat seksualnya kepada lawan jenis.

Menikah adalah momen terpenting dalam kehidupan setiap manusia, dengan harapan hanya satu kali dalam seumur hidup. Maka penting bagi seseorang yang ingin melaksanakannya,  untuk benar-benar mempersiapkan segala hal baik fisik, mental serta materi. Karena dengan kesiapan tersebut, mereka mampu menghadapi berbagai permasalahan dalam kehidupan berumah tangga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: