Implementasi ‘Iddah Di Era Modern

Dari segi bahasa iddah berasal dari bahasa arab  dari kata kerja ‘adda-ya’uddu yang berarti menghitung sesuatu. Sedangkan menurut istilah terdapat banyak definisi dari iddah sendiri. Meskipun banyaknya definisi yang ada dan redaksi yang berbeda diantara definisi-definis tersebut tetap mempunyai makna yang sama. Menurut Al-Jaziri, ‘iddah secara istilah adalah masa tunggu seorang perempuan yang tidak hanya didasarkan pada masa haid atau sucinya, tapi kadang juga didasarkan pada bulan atau ditandai dengan melahirkan, dan selama masa tersebut seorang perempuan dilarang untuk menikah dengan laki-laki lain. Sabiq menjelaskan bahwa ‘Iddah merupakan sebuah nama bagi masa lamanya perempuan menunggu dan tidak boleh kawin setelah kematian suaminya atau setelah berpisah dengan suaminya. Dari beberapa definisi yang telah disampaikan maka dapat ditarik kesimpulan bahwasannya iddah adalahmasa tunggu seorang istri setelah di cerai oleh suaminya atau ditinggal mati suaminya.

 Dasar hukum dari iddah sendiri terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunah antara lain, QS. Al-Baqarah ayat 228, QS. Al-Baqarah 234, QS. Al-Ahzab 49 dan beberapa hadits Rasulullah.

  1. Al-Qur’an

 “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembuyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka para suami menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah 228).

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaranya dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri-istri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis masa iddahnya. Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman. Kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya. Maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka muth’ah dan lepaskan mereka itu dengan cara yang sebaik-baiknya.” (QS. Al-Ahzab 49).

  • Sunnah

“Wanita-wanita yang dithalaq hendaklah menahan diri atau menunggu tiga kali quru’ tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan oleh Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya pada masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah”

            Dengan semakin berkembangnya zaman terutama dibidang IT (Informasi Technology) mempengaruhi berbagai macam aspek kehidupan manusia salah satunya di bidang kesehatan. Dengan adanya perkembangan tegnologi dapat meningkatkan efisiensi di dunia kesahatan. Salah satu bentuk perkembangan IT di dunia kesehatan adalah dengan adanya alat-alat kedokteran yang menggunakan aplikasi komputer, salah satunya adalah USG (Utrasonografphy).  Utrasonografphy adalah prosedur pencitraan menggunakan teknologi gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk memproduksi gambar tubuh bagian dalam, seperti organ tubuh atau jaringan lunak. Biasanya seorang perempua mengetahui bahwa ia hamil hanya dengan mengetahui gejala umum kehamilan awal seperti terlambat menstruasi dan beberapa gejala lainnya. Akan tetapi dengan adanya USG ini seorang perempuan bisa mengetahui apakah ia hamil atau tidaknya. Bahkan dengan dilakukannya USG Dokter juga bisa memperkirakan seberapa berapa lama waktu kehamilan. Selain itu ada juga yang disebut dengan tes DNA. Tes DNA (Deoxyribonucleic acid) adalah istilah kesehatan untuk serangkaian tes pada sampel kromosom, gen, dan protein untuk mengetahui perubahan dan kelainan dari komposisi gen seseorang. Prosedur ini dikenal sebagai tes genetika. DNA membentuk materi genetika yang terdapat dalam tubuh tiap oang, yang diwarisi kedua orang tuanya. Dengan tes DNA seseorang bisa mengetahui garis keturunan seseorang.

Dengan adanya USG apakah bisa menggugurkan masa ‘iddah?

Seperti yang telah dijelaskan di atas ‘Iddah adalah masa tunggu seorang wanita setelah di cerai atau ditinggal mati suaminya. Pada saat masa ‘Iddah ini seorang wanita tidak diperbolehkan menikah lagi ataupun menerima lamaran bahkan menawarkan dirinya kepada orang lain untuk menikahinya. Bahkan pada masa pra-islam pun ‘Iddah ini sudah ada. Setelah Islam datang ‘Iddah pun masih dipergunakan karena dianggap sebagai salah satu ajaran syari’at karena mengandung banyak kemaslahatan. Apalagi diperkuat dengan adanya QS. Al-Baqarah ayat 228 tetang ‘Iddah. Berdasarkan kondisi perempuan ‘Iddah dibedakan menjadi tiga macam : 1. Sebelum hubungan atau sesudah hubungan seksual, perempuan seperti ini tidak memiliki kewajiban ‘Iddah. 2. Dalam kondisi haid atau suci, masa ‘Iddahnya adalah 3 quru’. 3. Dalam kondisi hamil atau tidak hamil, ‘Iddahnya adalah sampai ia melahirkan anaknya. Sedangkan berdasarkan sebab perceraian dibedakan menjadi dua : 1. Cerai karna ditalak suam, bagi perempuan yang ditalak suaminya masa ‘Iddah nya adalah 3 quru’. Kata quru’ merupakan kata musytarak yang memiliki makna haid dan suci. Dalam memahami kata quru’ tersebut para ulama’ berbeda pendapat. Ulama’ Hanafiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa quru’ bermakna haid, sementara Malikiyah dan Syafi’iyah memahaminya dengan suci.  2. Cerai karna ditinggal mati oleh suaminya, bagi perempuan yang ditinggal mati suaminya masa ‘Iddahnya adalah 4 bulan 10 hari. Dalam ‘Iddah sendiri terkandung banyak sekali hikmah dan manfaat. Hikmah dan manfaat ‘Iddah diantaranya adalah mengetahui kebersihan rahim seorang istri atau untuk mengetahui ada atau tidaknya janin dalam perut istri, agar istri merasakan kepedihan yang mendalam/masa berkabung bagi istri yang ditinggal mati suaminya, selain itu masa ‘Iddah juga bisa menjadi waktu berfikir bagi mantan suami/istri untuk rujuk kembali dengan pasangannya.

            Dengan adanya perkembangan zaman salah satunya USG yang dianggap lebih akurat dalam mengetahui kehamilan seseorang dan dengan waktu yang relatif singkat. Sesungguhnya tujuan ‘Iddah untuk mengetahui kebersihan rahim adalah untuk menetapkan garis keturunan anak yang dikandung. Namun seiring dengan perkembangan teknologi, untuk mengetahui garis keturunan sesorang bisa dilakukan melalui tes DNA. Dengan adanya hal tersebut tampaknya tujuan ‘Iddah untuk mengetahui kebersihan rahim sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Walaupun demikian diwajibkannya ‘Iddah bukan hanya semata-mata untuk mengetahui kebersihan rahim akan tetapi masih banyak hikmah lain diantaranya adalah untuk menjaga kehormatan seorang istri yang dicerai atau ditinggal mati suaminya supaya terhindar dari fitnah ketika ternyata di kemudian hari ia hamil. Selain itu untuk menjaga dirinya supaya terhindar dari hal-hal berbahaya akibat kesendiriannya tersebut. Dalam perjalanannya Al-Qur’an dan Hadits telah menetapkan hukum dari pada ‘Iddah. Dalam era sekarang pun manusia juga tidak bisa menghindari kemajuan IT yang ada. Sedangkan agama Islam sendiri adalah agama yang fleksibel mengikuti perkembangan zaman akan tetapi juga tidak meninggalkan apa yang telah dengan jelas disyari’atkan. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwasannya adanya USG untuk mengetahui kehamilan seseorang dan Tes DNA untuk mengetahui garis keturunan seseorang dengan akurat dapat diterima karena mengikuti perkembangan zaman. Akan tetapi tidak dapat menghapuskan ketetapan masa ‘Iddah bagi istri yang dicerai ataupun ditinggal mati oleh suaminya karena apabila ‘Iddah ini ditinggalkan akan menimbulkan kemadharatan yang lebih besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: