Menu Tutup

Ekstremis dalam Kacamata Rene Descartes

Oleh: Moh. Rofqil Bazikh*

            Tampaknya memang perihal kekerasan dengan sasaran dan latar belakang agama masih menjadi persoalan yang tidak selesai. Beberapa tahun terakhir kekerasan yang melibatkan wacana agama di dalamnya seakan tidak bisa dihindari. Serentetan acara peledakan bom terus-terusan menghantui orang-orang yang hendak berserah di rumah ibadah. Orang-orang yang datang dengan harapan banyak untuk bertemu Tuhannya, harus pupus sebab ledakan yang tidak diinginkan. Ada banyak spekulasi tentang ini, di samping juga banyak tuduhan terhadap itu.

            Di sini, sebagian menyudutkan kelompok mayoritas yang kadangkala(atau mungkin seringkali) mewartakan kekerasan. Tragedi Gereja Katedral Makassar, juga hampir-hampir menyentuh aspek itu. Tesis yang diusung juga tidak jauh berbeda, agama mayoritas—tanpa menyebut label—sering melempar wacana kekerasan, meski secara verbal. Wacana-wacana itu dapat kita jumpai hari ini di berbagai kanal dan media sosial. Dari sini kemudian, muncul semacam spekulasi ihwal kekerasan beberapa hari lalu.

            Meski petugas sudah mengamankan beberapa orang tersangka, motif dalam kasus ini masih belum bisa dipastikan. Namun, ketika kembali pada tesis awal, yakni spekulasi yang mengarah pada kelompok mayoritas, tentu motifnya sedikit banyak bisa kita baca. Di dalam kelompok mayoritas—siapapun wajib tahu hal ini—seringkali digaungkan misi jihad di jalan yang Esa. Bahasan selanjutnya mengarah pada ranah eskatologi, hidup sesudah mati. Meraka yang gugur di medan ini, akan menadapat jatah bidadari. Indah bukan?

            Sekali lagi, memang tidak pasti, apa motif dalam tragedi Gereja Katederal. Namun, jika memang benar kelompok mayoritas yang menjadi dalang dalam hal ini, motifnya tidak akan jauh dari itu. Interpretasi serampangan yang sedikit banyak telah mengelabuhi dan menafikan sisi-sisi humanistik. Semua orang bahkan tanpa berpikir(a priori) akan mengatakan bahwa tindakan tersebut tidaklah dibenarkan. Bahkan, agama sendiri—yang seringka diagung-agungkan—tidak pernah menyukai hal demikian. Sebab yang ideal, kemanusiaan di atas keagamaan.

Hal-hal seperti ini yang patut untuk dipertanyakan bersama. Bagaimana pun kejadian seperti ini tidaklah hasrat individual, ia seringakali kolektif. Artinya, dalam melancarkan maneuver-menuvernya, kelompok ini tidak sendirian. Dugaan keterlibatan individu pada Jamaah Ansharut daulah(JAD), turut menguatkan tesis ini. Gerakan-gerakan semacam ini memang terorganisir dan rapi. Meski, dalam kasus bom bunuh diri, pelaku lebih terlihat konyol daripada setia pada agama.

Keraguan Metodis

            Jika Anda berkelana pada khazanah filsafat modern barat, tentu tidak akan asing dengan Rene Descartes. Ia dicap sebagai bapak filsafat modern barat. Rene Descartes, dibanding orang-orang sebelumnya, terkesan lebih rasional. Memang, yang diusung Descartes adalah penggunakan akal penuh. Hingga, ia melahirkn sebuah adigum monumental cogito ergo sum. Sebelum sampai ke puncak pengetahuan, Descartes menggunakan epistemologi keraguan metodologis. Secara gampang, ia berusaha meragukan semua hal untuk mencapai kebenaran yang hakiki[Zaplurkhan, 2018:28].

            Dalam membedah kasus ekstremis, tepatnya pada Gereja Katederal Makassar, saya akan meminjam penalaran Descartes.  Meski kasusnya belum menemukan kepastian ihwal motif, saya akan meletakkan kesetian pada agama sebagai motif di sini. Maksud saya, kesetiaan pada agama sendiri hingga mengesklusi agama yang lain. Bahkan, dengan cara-cara tidak terpuji semacam pengeboman itu. Sejenak dapat dibuat pertanya kecil-kecilan, benarkah hal tersebut atas nama kesetiaan pada agama? Kelompok mayoritas harus berani bertanya seperti ini pada diri sendiri, disebabkan serentetan kejadian beberapa tahun terakhir.

            Patut sekiranya untuk diragukan, idealitas ekspresi kesetiaan pada agama(mayoritas) dengan cara yang demikian. Untuk menjawab keraguan metodis seperti itu, saya akan memberikan sebuah prototipe perihal agama. Sebagai penganut agama mayoritas, saya  berasumsi—dan ini memang ditegaskan dalam sabda rasul—bahwa agama untuk kesempurnaan akhlak. Agama( baik mayoritas maupun minoritas) sejatinya memproritaskan dirinya untuk misi untuk kemanusiaan. Itulah sebabnya menjadi sangat sumir jika agama melepas nilai-nilai humanistik.

            Dari gambaran kecil yang seperti itu, Anda bisa memasukkan pertanyaan dan keraguan metodis kemudian. Terus terang, saya tidak hendak memberikan jawaban yang pasti. Saya hanya hendak mengantar Anda pada jalan untuk meragukan hal-hal seperti itu. Jawaban dan kesimpulan sepenuhnya berada di tangan Anda sebagai pembaca. Untuk mencapai kebenaran yang hakiki. Meski, sebagaimana perspektif Descartes, tidak ada kebenaran tanpa keraguan. Dalam hal ini, meraguan bahwa mereka berjuang atas nama misi suci agama.

Moh. Rofqil Bazikh Duta Damai Yogyakarta juga mahasiswa Perbandingan Mazhab UIN Sunan Kalijaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: