Difusi dan Akulturasi Budaya Jawa dengan Minang

Perkembangan kebudayaan sangat banyak terjadi di mana-mana dan sedikit signifikan, bahkan adakalanya dengan proses perkembangan tersebut menjadikan kebudayaan tersebar ke berbagai daerah. Perlu diketahui, penyebaran kebudayaan tidak mudah seperti yang banyak orang pikirkan, ada proses yang harus dilalui di mana proses itu belum tentu juga dapat menyebarkan budaya ke kebudayaan baru. Tidak hanya berhenti pada penyebaran kebudayaan tetapi juga sampai pada tingkat penyebaran agama, dengan cara tertentu pula. Salah satu cara penyebarannya yakni difusi

Difusi adalah suatu pembauran, pelarutan, atau penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari satu kelompok ke kelompok lain atau dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya. Penyebaran tersebut bersamaan dengan penyebaran manusia secara massif dari satu tempat ke tempat lain dengan berbagai faktor seperti pekerjaan, pernikahan hingga misi keagamaan. Namun, seiring perkembangan zaman, difusi juga dipengaruhi oleh proses globalisasi dan teknologi informasi. Akibat dari proses teknologi tersebut difusi kebudayaan tidak dapat dihindari, karena pusat teknologi ini sangat mudah di temui dan dipahami oleh semua masyarakat.

Proses difusi melalui konteks teknologi informasi sangat berlangsung cepat tanpa adanya pertemuan langsung. Karena tidak perlu membutuhkan tenaga dan biaya yang banyak, cukup dengan diam dan mengandalkan teknologi dan pemikiran yang luas. Di samping itu, ternyata proses difusi juga berlangsung cepat dengan adanya penyebaran manusia yang juga sangat pesat. Dengan penyebaran manusia maka akan tersebar jugalah kebudayaan serta sejarah manusia tersebut.

Selanjutnya bagaimana proses difusi agama terjadi sehingga agama bisa dikenali bahkan dianut serta menjadikan ajaran agama sebagai yang ditaati oleh masyarakat luas. Diantara penyebabnya adalah, pertama proses perdagangan, penyebaran agama melalui perdagangan memang sudah tempo hari terjadi. Sebagai contoh pada saat penyebaran agama Islam para pedagang selain melakukan akat jual beli mereka juga sedikit demi sedikit menularkan agama mereka pada masyarakat setempat, tidak hanya agama Islam saja, agama-agama lain juga demikian, tergantung pada perspektif masing-masing. Kedua, melalui proses perperangan dan penaklukan, ada sebagian masyarakat dalam bertindak untuk mengembangkan agama dengan cara perperangan, ketiga, melalui teknologi informasi yang kini marak di jagad maya. Hal ini dapat diamati dengan semakin beragamnya konten-konten yang dikemas dengan metode teks hingga visual. keempat, melalui perpindahan pemeluk agama. Dengan adanya proses difusi akan lebih memudahkan dalam melakukan penyebaran unsur-unsur budaya ataupun agama.

Lebih khususnya, penggambaran bentuk difusi yang terjadi di Solok Selatan (Sumatra Barat) terjadi Pada tahun 1950 terjadi melalui tranmigrasi masyarakat Jawa ke Sumatra Barat di mana masyarakat tersebut datang untuk bekerja dan belum terpikirkan untuk memiliki tempat tinggal. Setelah beberapa tahun di Solok Selatan masyarakat tersebut mulai banyak yang berkunjung dan membuka lahan juga untuk membuat rumah. Pada akhirnya mereka memiliki sebuah desa yang dinamakan dengan Kampuang Jawa (Penduduk Jawa). Dengan adanya tranmigrasi tersebut menjadikan masyarakat di sana memiliki sebuah kebudayaan baru yang terkandung dari kebudayaan yang telah diwarisi dari nenek moyang mereka.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah relasi masyarakat Jawa dengan masyarakat Solok Selatan? Setelah beberapa tahun berinteraksi antara masyarakat Jawa dengan penduduk Solok Selatan maka terjadilah proses akulturasi antara dua kebudayaan tersebut. Salah satu contohnya adalah sebelum datangnya masyarakat Jawa, masyarakat Solok Selatan dalam melaksanakan acara pernikahan, khitan, atau acara-acara besar lainnya menjamu para tamu dengan terlebih dahulu menghidangkan makanan di dalam rumah, para tamu hanya tinggal duduk dan langsung makan di dalam dan menikmati makanan tersebut. Tetapi masyarakat Jawa memiliki budaya yang unik, di dalam bahasa Minang disebut dengan Hidangan Prancis, maksudnya adalah makanan disediakan di luar dengan menggunakan meja dan semua makanan telah tertera di atas meja (prasmanan), tinggal para tamu saja yang mau mengambil menu yang disukainya. Masyarakat Solok Selatan merasa tertarik dengan hal tersebut karena dianggap sedikit memudahkan. Pada akhirnya di samping tetap menyediakan makanan di dalam rumah, di sisi lain juga menyediakan hidangan parancis di luar sebagaimana masyarakat Jawa lakukan. Ini adalah salah satu bentuk akulturasi budaya Jawa dengan masyarakat Solok Selatan khususnya, dalam relasi kebudayaan dalam teori Difusi hubungan Simbolik.

Selain itu, dengan adanya perkembangan dan kemajuan teknologi mengalami kemelorosotan budaya Jawa di Solok Selatan, salah satunya sangat jarang sekali mereka melakukan adat kebudayaan mereka ketika ada acara-acara besar, contohnya pertunjukan wayang dan kuda lumping, mereka merasa cukup dengan adanya hiburan musik (organ). Di samping itu ada juga kemelorosotan budaya Solok Selatan di bidang agama seperti ketika ada saudara atau keluarga yang ingin merantau, maka pihak keluarga akan melaksanakan acara kanduri (doa), tetapi dengan adanya kemajuan teknologi hal itu dirasa tidak begitu penting, cukup dengan menggunakan gawai untuk melepas kepergiannya. Tetapi perlu diketahui itu hanya sebagian masyarakat saja yang melakukan hal demikian, karena di Solok Selatan sendiri masih sangat kental dengan kebudayaannya apalagi dibidang keagamaan. Acara kanduri di samping dianggap sebagai salah satu acara meminta keselamatan juga sebagai ajang silaturrahmi bagi keluarga lainya.

Dari pemaparan di atas, hanya ditemukan proses difusi dan akulturasi kebudayaan simbolik sesuai tempat penulis tinggal. Adapun di bidang keagamaan belum terlalu nampak perubahannya yang artinya penekanan agama masih kuat baik bagi masyarakat Jawa maupun Solok Selatan. Penyebaran keagamaan sangat jarang ditemukan khususnya di Solok Selatan sendiri, tetapi tidak menutup kemungkinan di luar area tersebut bisa jadi adanya penyebaran budaya dan keagamaan yang massif dan terstruktur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: