Dakwah Islam yang Rahmatan Lil ‘alamin

Islam adalah agama yang diturunkan Allah untuk menebarkan rahmah bagi seluruh alam. Rahmah sendiri merupakan kelembutan hati dan kecenderungan untuk memberikan ampunan dan memberikan kebaikan kepada setiap orang. Karena esensi dari sifat rahmah adalah memberikan bentuk kelembutan dalam bergaul dan menyayangi kepada semua manusia tanpa membeda-bedakan latar belakang. Hal inilah yang menjadi kunci dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin tanpa ada paksaan dan intimidasi.

Islam yang rahmat bagi seluruh alam ini, diwujudkan dalam bentuk kebijaksanaan, keteladanan, kebaikan, kasih sayang, dan ketegasan dalam menegakkan keadilan. Hal ini merupakan bentuk konsentrasi utama Islam sebagai rahmah.

Nabi Muhammad diutus di muka bumi sebagai bukti kasih sayang Allah kepada umat manusia. Nabi Muhammad juga bertugas untuk mengubah manusia dari ketidakberdayaan menjadi berdaya, dari perilaku tidak etis menjadi etis, dari kegelapan menuju terang benderang, dan dari keterpurukan menjadi kesejahteraan.

Oleh sebab itu, Islam datang dengan membawa ajaran kebaikan bagi umat manusia di semesta alam. Islam juga dalam menyampaikan risalahnya dengan penuh kebijaksanaan  dan kasih sayang. Begitulah ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad untuk memberikan kedamaian dan keteduhan kepada umat manusia di seluruh alam semesta.

Sedangkan dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad bukanlah perkara yang mudah di tengah-tengah bangsa Arab yang pada waktu itu menyembah berhala, memiliki sukuisme yang tinggi, dan prostitusi di mana-mana. Sehingga beberapa kali Nabi Muhammad saat melakukan dakwah disiksa, dilecehkan, dilempari batu, dan bahkan akan dibunuh.

Akan tetapi dengan kerendahan hati dan ketulusannya dalam membawa risalah, beliau tidak melawan, justru beliau mendoakan agar mereka diberikan hidayah dan bahkan mendoakan anak cucunya kelak bisa masuk Islam. Inilah contoh dakwah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad dengan rasa penuh kasih sayang dan bijaksana (berakhlakul karimah).

Oleh karena itu, sangat jelas bahwa barometer dakwah dalam ragam bentuknya adalah berbingkai akhlak karimah untuk memanusiakan manusia dan menghormati orang lain, sekalipun ia ingkar kepada Allah Swt.

Dalam aplikasi dakwahnya, Islam disebarkan dengan penuh kelembutan dan penuh kasih sayang. Jika tidak demikian, maka yang lahir adalah wajah Islam yang menebarkan laknat. Karena, kelembutan dan kasih sayang akan mengangkat martabat kemanusiaan dengan membantunya mencapai kehidupan terbaik di muka bumi. Visi dan misi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam ditegaskan dalam surah al-Anbiya’ ayat 107:

  وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Dalam Tafsir Munir juga menjelaskan ayat di atas, bahwa “Engkau tidak diutus wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam, manusia, dan jin. Karena ajaran yang diturunkan kepadamu adalah sebab kebahagiaan mereka dan memastikan kebaikan mereka di dunia dan akhirat.”

Oleh karena itu,  barangsiapa yang menerima rahmat dan mensyukurinya, maka dia akan beruntung baik di dunia dan akhirat. Dan barang siapa yang menolak dan melanggarnya, maka kerugian dunia dan akhirat menimpanya.

Nabi Muhammad juga bersabda, “Sesungguhnya aku diutus bukan sebagai tukang laknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat.” (HR. Muslim).  

Rahmat yang menjadi metode dan tujuan dakwah Islam ini diaplikasikan dengan penuh kelembutan dan kasih sayang oleh Nabi Muhammad. Hal ini juga, ditegaskan Allah dalam surah Ali Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”(Q.S: 3: 159).

Dengan demikian dari ayat di atas sangat jelas bahwasanya sudah sayogjanya dakwah Islam dilakukan dengan cara penuh rahmah dan rahim. Dan apabila dakwah Islam dilakukan dengan tulus, penuh keteladanan, dan suka memaafkan, maka akan tercapai sebuah kedamaian dan ketentraman. Dan apabila dakwah Islam dilakukan dengan cara jelek, maka yang terjadi manusia tidak akan menerima, melainkan akan lari dari Islam.

Oleh karena itu, dalam berdakwah, marilah kita selalu mengedepankan nilai-nilai kebijaksanaan dan keteladanan terhadap semua manusia. Dengan begitu, keberadaan Islam akan mudah diterima oleh semua kalangan.

Siswanto

Profil Siswanto Alumnus interdiscliipnary islamic studies Uin Sunan Kalijaga dan dosen IAIN Salatiga. Email. siswanto_elmafa@yahoo.com penulis bisa disapa melalui twittwr @siswakita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: