Beribadah di Tengah Wabah: Perspektif Maqashid Syari’ah

Untuk pertama kalinya dalam sejarah keislaman terdapat penyakit yang menjadikan hampir semua ulama’ yang ada dunia menganjurkan beribadah di rumah daripada di Masjid. Anjuran ini merupakan langkah prefentif yang dilakukan agar mengurangi rantai penyebaran Corona Virus Desease 2019 (COVID-19). Sehingga menjadikan Ramadan kali ini terasa sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Namun ihwal yang demikian tidak menyurutkan semangat umat Islam untuk selalu menyambut datangnya bulan Ramadan. Umat Islam tetap melaksanakan berbagai rangkaian ibadah meskipun hanya dilakukan di rumah, seperti salat, puasa, belajar,  bahkan berkerja. Pada titik ini, perubahan pelaksanaan model beribadah dari yang sebelumnya berjamaah di masjid bersama-sama menuju praktik peribadatan di rumah masing-masing menjadi layak untuk didiskusikan.

Tata cara beribadah di rumah masing-masing masih mengalami polemik di berbagai daerah, bahkan ada pihak-pihak yang secara sadar tidak menerima anjuran ini. Sehingga tetap bersikukuh melaksanakan ibadah di Masjid. Karena mereka tetap menganggap bahwa berjama’ah lebih afdhol. Pemahaman ini justru mengkerdilkan makna ibadah yang sesungguhnya. Karena mereka hanya melihat fungsi ibadah dari sisi lahirnya saja. Untuk itu, perlu ada upaya mengurai orientasi makna ibadah di tengah wabah agar dapat sesuai dengan maqashid syar’ah.   

Ibadah dalam defini etimologis adalah segenap perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dapat mendatangkan keridhoan dan cinta kasih Allah kepada hamba yang melakukannya. Syekh Jabir bin Musa Al Jazairi dalam kitabnya Nida’atur Rahman Liahlil Iman  menyatakan bahwa segenap hal yang dapat mengingatkan manusia terhadap keesaan dan kekuasaan Tuhan dapat disebut sebagai ibadah.

Dari pengertian ibadah di atas, kita dapat memahami bahwa ibadah tidak harus selalu dilakukan di tempat-tempat atau di waktu-waktu tertentu saja. Sebab pemahaman ibadah seringkali hanya dibatasi pada pelaksanaanya di Masjid, Pondok Pesantren atau tempat ibadah lainnya. Tentu pemahaman seperti ini bukan merupakan sebuah kesalahan, namun perlu dipertegas kembali bahwa ibadah sangatlah luas maknanya. Sebab itu, jangan dipersempit pada hal-hal yang nampak secara lahiriah saja. 

 Dalam melaksanakan suatu ibadah harus sesuai dengan Syari’at atau aturan main yang sudah diajarkan oleh Rasulullah. Maka tidak serta merta semua orang berhak membuat aturan main sendiri untuk menentukan suatu pelaksanaan suatu ibadah. setiap aturan main itu terdapat tujuan tujuan yang tidak bisa dilepaskan. Ulama mengklasifikasikan tujuan syariat (maqasid syariah) dalam lima hal yaitu untuk menjaga agama, menjaga diri, menjaga akal, menjaga keturunan dan menjaga harta. Kelima tujuan ini adalah satu kesatuan dan tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.

Dalam kaitannya dengan permasalahan yang sekarang terjadi, maqasid syariah menilai bahwa ibadah yang dilakukan dengan memaksakan suatu kehendak yang tidak berdasar akan menjadikan rusaknya salah satu nilai dari tujuan maqasid Syariah. Ibadah di Masjid dalam keadaan yang seperti ini bukanlah suatu tujuan yang dianjurkan oleh syariat. Malah justru sebaliknya. Karena tidak sesuai dengan salah satu dhoruriat yang harus dijaga yaitu kesehatan diri(hifzun nafs).

Hal ini didasarkan karena melihat Penyakit yang sedang mewabah ini belum ditemukan penawarnya, sehingga pencegahan merupakan hal yang amat penting. Dan hal ini juga sesuai dengan kaidah الدفع خير من الرفع yang dapat diartikan sebagai mencegah lebih baik daripada mengobati. Pemerintah mengajurkan untuk beribadah di rumah masing masing dan menjauhi keramaian. Kemudian hal ini dilegalkan oleh para Ulama’ hampir di seluruh dunia. Memang anjuran ini bukanlah solusi untuk menangkal virus. Namun hal ini dapat memutus rantai penyebaran virus.

Memandang hal itu, maka pelaksanaan ibadah di masjid atau tempat ibadah pada waktu sekarang ini adalah pilihan yang kurang tepat. Jangan sampai masjid atau tempat ibadah menjadi problem bagi umat manusia. Karena semua orang berpotensi terkena virus ini. Lebih lagi virus ini tidak bisa dideteksi oleh panca indra.

Keadaan seperti ini bukan berarti dimaknai secara pasif (tidak bisa melakukan apapun). Melainkan justru bermakna aktif. Karena ibadah di rumah juga tidak mengurangi kualitas ibadahnya seorang hamba kepada Sang Penciptanya. Dalam daripada itu, Ini malah menjadi momentum dimana rumah akan menjadi saksi kekhyus’an kita selama beribadah.

Oleh karena itu, penting kiranya kita sebagai umat islam untuk selalu menjadikan semua hal yang ada sebagai pembelajaran. Dengan itu, maka nampaklah kecintaan hamba kepada sang pencipta yang tiada terkira.

Muhammad Minanur Rahman

Mahasiswa Program Studi Perbandingan Madzhab Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: