Antara Covid-19 dan Doktrin Keagamaan

Lebih dari 200.000 kasus kematian akibat Corona yang tercatat sampai hari ini di seluruh dunia. Virus Corona atau lebih dikenal dengan sebutan Covid-19 merupakan sebuah virus yang pertama kali dilaporkan terjadi di Wuhan, China pada 11 Januari lalu. Persebaran Covid-19 dinilai sangat cepat, lebih dari 20 negara di dunia mengalami kasus serupa. Lima diantaranya mengklaim mencapai angka 20.000 untuk kasus kematian akibat Corona.

Berbicara mengenai virus Corona, akan banyak perdebatan yang muncul dalam penanganannya. Pemuka agama mengeluarkan suara dengan doktrin milikinya, dan terkadang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Para dokter, perawat, dan tenaga medis mengungkapkan betapa mengerikannya penyebaran virus ini, karena itu kita harus mematuhi aturan medis dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Pemerintah juga tidak kalah eksis, mereka mengeluarkan beberapa kebijakan, diantaranya physical distancing, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), sampai pada kebijakan penutupan tempat ibadah yang menuai banyak pro dan kontra. Dari perspektif ini, setidaknya memunculkan dua perdebatan.

Pertama, beberapa pemuka agama dengan doktrinnya, “Jangan takut kepada Virus Corona, takutlah pada Allah”

Memang benar, takutlah hanya kepada Allah. Tapi, rasanya tidak pantas apabila menyetarakan Allah yang Maha Pencipta dengan makhluknya yang diciptakan. Doktrin tersebut keliru, apalagi jika disampaikan di tengah maraknya Virus Corona. Di sinilah letak persilangan pendapat antara doktrin keagamaan dengan kebijakan pemerintah.

“Semua sudah digariskan oleh Allah, itu takdir, masak tempat ibadah ditutup. Artinya kita lebih takut sama virus ketimbang takut sama Allah. Hendaknya kita berserah diri kepada takdir Allah SWT saja”

Pemikiran semacam inilah yang menyebabkan Karl Marx membuat Teori Alienasi Agama, di mana manusia mengasingkan dirinya ke agama, pasrah saja tanpa melakukan sebuah pembelaan untuk mengubah hidupnya.

Waktu pelajaran PAI kelas 2 sekolah menengah, bapak guru mengatakan takdir itu ada dua, ada takdir yang bisa diubah dan takdir yang tidak bisa diubah. Lalu, masuk ke ranah manakah virus Covid-19? Teringat sebuah kisah dari Sahabat Rasulullah yaitu Umar bin Khattab yang menarik mundur pasukannya karena wabah.

Sekitar abad ke-7, prajurit kekhalifahan Umar mendekati wilayah yang tengah dilanda wabah. Khalifah Umar memerintahkan pasukannya mundur karena berhadapan dengan wabah. Namun, perintah Umar tak sepenuhnya digubris. Terjadilah sebuah diskusi.

“Kita balik arah saja dulu, disitu ada wabah” perintah Umar. Salah satu prajuritnya menyanggah, “Mati kan di tangan Tuhan, kenapa kita harus takut?”, Umar pun menanggapi, “Ya, kita pergi dari satu takdir Allah ke takdir Allah yang lain”.

“Apa Anda (Umar) mencoba lari dari takdir Allah?”, Umar menjawab dengan sabar, “Benar, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain. Andaikan engkau mempunyai sekumpulan onta yang memasuki dua jenis lembah, yang satu lembahnya subur dan yang satu lembahnya tandus. Andaikata engkau menggembalakannya di lembah yang subur, maka sebenarnya itu atas takdir Allah, dan andaikan engkau menggembalakannya di lembah yang tandus, maka sebenarnya itu atas takdir Allah pula”

Hikmah yang dapat kita ambil adalah Khalifah Umar menjelaskan bahwa menyelamatkan diri dari penyakit juga merupakan takdir Allah.

Kedua, Covid-19 sangat berbahaya dan mengerikan, maka dari itu kita berikhtiar dengan mengikuti anjuran medis

Benar, percayakan pada tenaga ahli dalam menangani suatu hal, dalam hal ini adalah tenaga medis seperti dokter, karena mereka lebih mengerti mengenai ini. Dari sinilah muncul kesadaran manusia untuk mencegah penularan dengan mengikuti protocol kesehatan seperti memakai masker, selalu mencuci tangan, menjaga jarak.

Ibnu Sina mengatakan, “Sebenarnya secara fisik orang-orang sakit, hanya dengan kekuatan kemauannyalah dapat sembuh. Begitupun dengan orang sehat, dapat sakit bila dipengaruhi oleh pikirannya bahwa dia sakit”. Dari sini kita diajarkan untuk selalu optimis, kemudian berikhitiar dengan sungguh-sungguh agar terhindar dari Virus Corona, setelah itu bertawakal kepada Allah.

Sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (QS ar-Ra’d [13]: 11)

Inggriana Sahara Bintang

Mahasiswa Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: