Anjuran Menikah Guna Menghindari Melacur

Perkawinan Ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa. Bagi seorang muslim yang telah siap untuk menikah dari segi materil, fisik maka sangat dianjurkan untuk disegerakan melakukan sebuah pernikahan karena hal ini dapat menghindari kita dari hal-hal yang bisa berdampak negatif.

            Al-Qur’an surah An-Nur ayat 33 yang di dalamnya berisi tentang anjuran menikah bagi yang telah mampu untuk melaksanakannya. Tujuan dari diturunkannya ayat ini adalah agar setiap manusia yang telah siap menikah dan larangan melacur untuk segera dianjurkan melaksanakan pernikahan guna menghindari diri dari perbuatan zina. Agama mengajarkan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang suci, baik dan mulia. Pernikahan menjadi dinding kuat yang memelihara manusia dari kemungkinan jatuh ke lembah dosa yang disebabkan oleh nafsu birahi yang tak terkendalikan.

Banyak sekali hikmah yang terkandung dalam pernikahan, salah satunya yaitu: dapat menciptakan kasih sayang dan ketentraman. Faedah terbesar dalam pernikahan adalah memelihara dan mejaga perempuan yang bersifat lemah dari kebinasaan. Dapat dilihat dari masyarakat sekarang yang mereka lebih memilihkan anaknya untuk menikah karena rasa takut yang terus menghantui ketika sang anak sudah tidak bersekolah dan hanya menganggur dirumah.

Anjuran menikah memang terkadang lebih condong kepada seorang wanita. Allah telah menyuruh kaum mukminin dan mukminat untuk menahan pandangan, memelihara kemaluan, dan lain-lain yang dapat menyeret kepada perzinaan, Allah menyuruh menikahkan orang-orang yang sendirian (tidak beristri/tidak bersuami), karena hal ini adalah jalan untuk melestarikan jenis manusia, disamping memelihara keturunan yang dapat menambah kasih sayang kepada anak-anak, memberi pendidikan yang baik kepada mereka. Kemudian menerangkan hukum orang yang belum mampu menikah karena tidak memiliki harta. Sesudah itu, Allah mendorong kepada tuan untuk memerdekakan budaknya dengan jalan mukatabah, agar mereka menjadi orang-orang yang merdeka terhadap diri dan hartanya, sehingga dapat menikah sesuai dengan kehendaknya. Allah melarang para tuan memaksa melarang para budak wanita untuk melakukan pelacuran, jika mereka menghendaki dirinya suci, hanya karena menghendaki kesenangan duniawi yang pasti lenyap.

Pada dasarnya nikah memang merupakan sunnah rosul. Karena nikah tidak hanya dipandang dari segi dhahirnya saja, melainkan dari nikah inilah seorang wanita atau laik-laki dapat terhindar dari fitnah, terutama hal-hal yang dapat mengantar mereka kepada perzinaan. Untuk itu, Allah menganjurkan hamba-Nya menikah agar terhindar dari perbuatan yang keji itu. Islam juga memerintahkan untuk mempermudah jalannya suatu pernikahan dan memberikan fasilitas untuk kawin supaya hidup ini berjalan dengan wajar tanpa hambatan apapun. Dianjurkan bagi tuan atau para wali supaya menikahkan anak gadisnya. Dan untuk tuan dari para budak supaya memerdekakan budak-budaknya. Berhubungan dengan hal ini jelas sekali bahwa baik para wali supaya menikahkan anak gadisnya. Karena memang had (hukuman) dalam paksaan untuk berbuat keji tidak ditanggung orang yang dipaksa (hamba sahaya). Melainkan orang yang memaksa untuk berbuat kejilah yang menanggung dosa-dosanya.

 Firman Allah yang berbunyi “ jika mereka itu miskin maka Allah akan memberinya kekayaan dari anugerah-Nya”, merupakan janji Allah, bahwa orang yang melaksanakan pernikahan dengan niat untuk menjaga dirinya dari berbuat melacur, dijamin Allah akan memberikan kecukupan. Ayat ini mengandung anjuran kawin dan membantu laki-laki yang belum beristri dan perempuan-perempuan yang belum bersuami agar mereka menikah, termasuk juga budak-budak sahaya yang layak dan sudah cukup usia, hendaklah dibantu mereka dinikahkan. Dan janganlah sekali-kali kemiskinan dijadikan penghalang untuk menikah. Allah berfirman, bahwa jika sewaktu menikah berada dalam keadaan tidak mampu, orang itu akan diberikan rejeki dan kemampuan dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, sebagaimana sabda Raulullah SAW yang artinya “Kawinlah kamu dalam keadaan miskin pasti Allah akan memampukan dan memperkaya kamu.”

Berseru pula dalam ayat diatas,” hendaklah orang-orang yang belom mampu kawin, bersabarlah sambil menjaga dan memelihara kesucian dirinya hingga Allah memampukan mereka dan mendatangkan kesempatan yang tepat bagi mereka untuk kawin”. Sabda Rasulullah SAW: “ wahai para pemuda, kawinlah siapa diantaramu yang telah mampu kawin, karena itu lebih menyelamatkan mata dan membentengi kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu kawin, hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah penenang baginya”. Diriwayatkan oleh al-Laits dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW, bersabda: “ Tiga golongan orang yang patut ditolong Allah, yaitu orang yang kawin dengan maksud menjaga kesucian dirinya, budak yang hendak melunasi hutang tebusan kekemerdekaanya dan pejuang pada jalan Allah”. menjaga kesuciannya adalah agar terhindar dari sifat melacur yang dapat menyebabkan suatu hal yang tidak diinginkan.

Tidak dapat dipungkiri kebutuhan seksual adalah fitrah manusia yang harus terpenuhi, siapa saja pria maupun wanita boleh mendapatkannya. Tentu saja itu semua harus melalui prosedur yaitu sebuah pernikahan yang sah menurut agama dan Negara. Islam tidak pernah melarang umatnya untuk menikah, dengan menikah maka hasrat seksual lebih terpenuhi, tentu saja dapat menjauhkan kita dari maksiat kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda : “ Wahai para pemuda! Siapa saja diantara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah. Karena menikah itu dapat menundukkan pandangan dan lebih membentengi kemaluan. Siapa saja yang belum mampu hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu perisai bagi dirinya.”

Namun disini juga sangat menitikberatkan pada bagian anjuran menikah bagi yang sudah mampu menikah atau telah matang dari segi fisik, jasmani dan rohani serta materi, ini semua juga merupakan bagian penting dalam sebuah rumah tangga, agar dapat menciptakan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Menikah adalah proses kompleks yang sangat melibatkan fisik, pikiran, mental, perasaan dan keberanian dalam menempuh kehidupan yang berbeda. Saat itu seseorang mulai memvariasikan hidupnya dengan mencoba menjadi bagian dari hidup orang lain, dan menjalin hubungan yang berasaskan saling melengkapi untuk mencapai satu kebahagiaan yang ditempuh bersama-sama.

Fadliyah Nurcahyani

Mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: