Anak yang lahir dari Sperma Mayat Suami, Anak yang Sah ?

Tidak dapat dipungkiri bahwa semakin majunya teknologi membuat manusia yang kesulitan dalam beberapa hal dimudahkan dengan adanya teknologi. Seperti sepasang suami istri yang telah berusaha dalam mendapatkan keturunan namun tidak bisa mendapatkan anak dengan normal sehingga harus menggunakan teknologi agar bisa mendapatkan anak. Mungkin penggunaan teknologi fertilisasi sebagai upaya terakhir dalam rangka menginginkan kehadiran seorang anak. Di Indonesia sendiri sudah mengatur tentang teknik reproduksi buatan di Pasal 16 Undang-Undang No.23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan, bahwa: (1) Kehamilan di luar cara alami dapat dilaksanakan sebagai upaya terakhir untuk membantu suami istri mendapat keturunan. (2) Upaya kehamilan di luar cara alami sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah dengan ketentuan: a. Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan, ditanam dalam rahim istri dari mana ovum berasal, b. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu, c. Pada sarana kesehatan tertentu. Menurut NU berdasarkan hasil Forum Munas Alim Ulama di Kaliurang Yogyakarta pada 1981, Lembaga Tarjih Muhammadiyah 1980 dan lembaga fiqh Islam OKI 1986 bahwa pada intinya dibolehkan apabila sudah berusaha dengan cara biasa tidak berhasil karena ini termasuk ikhtiar. Namun bagaimana hukumnya jika melakukan pembuahan diluar namun dengan sperma suami yang telah meninggal ?

Pernah ada kasus di Australia tentang seorang bayi lelaki lahir dengan sehat yang uniknya bayi tersebut merupakan hasil pembuahan sel telur oleh sperma yang diambil dari mendiang suaminya. Walaupun yang mengalami hal ini bukanlah seorang muslim, namun hal ini bisa dikaji terkait status anaknya. Dalam pasal 38 UU No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (UUP), perkawinan dapat putus karena: a. kematian, b. perceraian, dan c. atas keputusan pengadilan. Dikutip dari tulisan Mohamad Jafar yang berjudul “Status Anak yang Dilahirkan Dari Sperma Mayat Suami”, para ulama memberi kategori kematian menjadi 3, yaitu: pertama, mati hakiki, hilangnya nyawa seseorang yang bisa dibuktikan dengan panca indera dan alat medis. Kedua, mati hukmi, kematian yang divonis oleh hakim, bisa karena telah murtad, bergabung dengan musuh atau memang orang tersebut hilang. Ketiga, mati Takdiri, kematian yang didasarkan pada dugaan yang menurut para ulama berbeda pendapat terkait lamanya jangka waktu si suami hilang.

Terkait dengan pengambilan sperma tersebut ada 2 masalah, yaitu: (1) sperma yang diambil itu ketika suami masih hidup, kemudian dalam menginseminasikan saat suami telah meninggal, dan (2) sperma yang diambil itu ketika suami sudah meninggal dan kemudian diinseminasikan ke rahim isterinya. Masih dalam tulisannya, bahwa memasukkan spermanya setelah mati walaupun pengambilan spermanya bisa sebelum ataupun sesudah kematian, perkawinan mereka sudah dianggap putus karena begitu suami meninggal terputus hubungan perkawinannya.

Ketika anak tersebut lahir, apakah itu menjadi anak yang sah ? Berdasarkan UU Perkawinan, anak yang sah adalah anak yang lahir dari perkawinan yang sah. Namun, permasalahannya adalah anak tersebut lahir dengan sperma ayahnya yang telah meninggal ketika dilakukan pembuahan di luar. Menurut pendapat forum yang saya sebut di atas juga menyebutkan jika salah satu kesimpulannya adalah jika spermanya dari suami yang telah meninggal tetaplah haram karena perkawinan otomatis terputus setelah kematian salah satu antara suami atau istri. Lalu juga pandangan terkait dengan konsep agama tentang anak yang sah ada jika memenuhi 2 syarat, yaitu ikatan perkawinan yang sah dan terdapat usia minimal mengandung yaitu 6 bulan yang didasarkan pada surah Al-Ahqaf ayat 15 yang pada intinya waktu untuk mengandung dan menyusui adalah 30 bulan, untuk menyusui adalah 24 bulan dan 6 bulannya dipahami sebagai minimal mengandung.

Lalu permasalahan lainnya adalah masalah nasab, yang merupakan keturunan yang didapat dari hasil perkawinan yang sah dan hubungan darah yang sifatnya vertical ke atas dan bawah serta horizontal. Secara nasab menurut Hasbi Ash-Shidieqy anak yang lahir dari sperma mayat suami tidak bisa dinasabkan pada ayahnya karena ibunya menggunakan sperma ayahnya yang telah mati, yang berarti ikatan perkawinan ayah dan ibunya putus di saat itu juga. Selain itu juga karena anaknya tidak bisa dinasabkan pada ayahnya maka sang anak juga tidak bisa mewarisi harta ayahnya.

Beberapa tahun lalu, ada artis yang mengajukan juricial review ke Mahkamah Konstitusi (MK) terkait dengan pasal 43 ayat 1 yang pada akhirnya MK menerima judicial review tersebut dan merubah kalimat di pasal 43 ayat 1 menjadi “Anak yang dilahirkan di luar pengadilan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/ atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya”. Pasal ini memang sangat erat kaitannya dengan perlindungan hukum terhadap anak tersebut karena sebelum adanya perubahan, anak yang lahir dari pernikahan siri tidak mendapat pengakuan hukum dari negara karena pernikahan orang tuanya tidak dilakukan secara resmi. Namun, dengan adanya perubahan ini juga berdampak pada anak yang lahir dari sperma ayahnya yang wafat karena dengan aturan baru ini anak tersebut bisa dinasabkan ke keluarga ayahnya dengan berbekal tes DNA ayahnya.

Secara singkat dapat kita pahami bahwa anak yang sah adalah anak yang lahir dalam perkawinan yang sah. Sementara terkait dengan anak yang lahir dari sperma ayahnya yang telah wafat dan dibuahi di luar, Islam mengkategorikan anak tersebut hanya memiliki nasab ke ibunya karena ketika suami atau istri telah meninggal maka terputus ikatan perkawinan tersebut yang akan berdampak pada berbagai hal seperti nasab, hak waris yang membuat anak tidak memiliki hak untuk menerima waris dari ayahnya.

Mukhlis Nurrosyd Haryanto

Mahasiswa semester 6 Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: